
IHSG Melaju 2,8 Persen Sepekan, Asing Mulai Balik ke Saham Indonesia
- Sektor Basic Materials dan Energy Jadi Jawara
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM – Pasar saham Indonesia melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan pertama Agustus 2026. IHSG naik sekitar 2,8 persen sepanjang pekan dan meneruskan reli yang sebelumnya mencatat kenaikan 10,5% pada Juli.
Penguatan pasar saham domestik ditopang kombinasi sentimen positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid, inflasi yang melandai, hingga penurunan harga minyak mentah.
Berdasarkan perdagangan BEI pada Jumat (7/8/2026), IHSG ditutup di level 6.410, naik 1,0% dalam sepekan. Posisi tersebut hampir 175 poin lebih tinggi dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di level 6.236.
Meski IHSG menguat, investor asing masih mencatatkan arus keluar ekuitas sekitar USD30 juta sepanjang pekan.
Sektor Basic Materials dan Energy Jadi Jawara
Dalam Weekly Commentary, PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat sektor dengan kinerja terbaik sepanjang pekan adalah Basic Materials dan Energy.
Sektor Basic Materials melonjak 6,43%, sedangkan sektor Energy menguat 4,60%.
Dari sisi aset global, harga emas menjadi aset dengan kinerja terbaik setelah naik 6,44%, disusul indeks Nasdaq yang meningkat 3,84%.
Sebaliknya, sejumlah komoditas mengalami tekanan. Harga minyak mentah terkoreksi 7,85%, sementara harga batu bara turun 4,49%.
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Inflasi Turun
Sentimen domestik menjadi salah satu penopang utama pasar saham Indonesia. Data ekonomi menunjukkan PDB Indonesia kuartal II tumbuh 5,29% secara tahunan (YoY), lebih tinggi dari ekspektasi 5,1%.
Pada saat yang sama, inflasi Juli 2026 turun menjadi 2,88% dari 3,34%. Angka tersebut juga berada jauh di bawah perkiraan 3,2% dan masih dalam kisaran target Bank Indonesia.
Ashmore menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan inflasi yang melandai memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan.
“Kombinasi pertumbuhan yang tangguh dan inflasi yang melandai memberikan ruang lebih besar bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan serta menciptakan latar belakang yang mendukung aset domestik,” ungkap Ashmore.
Namun, Ashmore mengingatkan masih terdapat kerentanan pada posisi eksternal Indonesia. Neraca perdagangan mencatat defisit bulanan untuk kedua kalinya secara beruntun.
Harga Minyak Turun, Rupiah Menguat
Penurunan harga minyak menjadi salah satu perkembangan penting yang dicermati Ashmore sepanjang pekan.
Iran mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Pernyataan bersama masih dalam proses finalisasi sehingga muncul harapan jalur perairan tersebut dapat kembali dibuka lebih bebas.
Selat Hormuz merupakan jalur penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Harga minyak Brent kemudian turun tajam hingga berada di bawah USD80 per barel, dari sekitar USD89 pada pekan sebelumnya. Harga tersebut anjlok lebih dari 10% dalam beberapa sesi awal pekan.
“Berita tersebut datang bersamaan dengan serangkaian rilis data domestik yang positif, sehingga memberikan dukungan bagi pasar Indonesia dari kedua sisi,” tulis Ashmore.
Sebagai negara yang mengimpor sebagian besar kebutuhan bahan bakarnya, penurunan harga minyak dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah, menekan inflasi impor, sekaligus mengurangi beban subsidi energi pemerintah.
Rupiah pun menguat ke level Rp17.890, yang disebut sebagai level terkuat dalam beberapa pekan terakhir. Pasar obligasi pemerintah juga mendapat dukungan.
Meski demikian, Ashmore mengingatkan bahwa belum terdapat kesepakatan final antara Iran dan Oman. Sejumlah detail masih belum terselesaikan sehingga perkembangan tersebut perlu dilihat sebagai sentimen positif, bukan kondisi yang sudah pasti.
Investor Asing Mulai Kembali ke Saham Indonesia
Perubahan arus dana asing menjadi salah satu perkembangan yang menarik perhatian pasar.
Ashmore mencatat Juli menjadi bulan pertama sepanjang 2026 yang mencatat pembelian bersih asing sekitar Rp1,1 triliun, setelah lima bulan berturut-turut sebelumnya mengalami aksi jual.
“Yang menggembirakan, pemulihan tersebut mulai menarik kembali dana asing,” ungkap Ashmore.
Meski demikian, investor asing masih mencatat net sell besar secara year-to-date. Karena itu, Ashmore menilai perubahan arah arus dana asing tersebut tetap perlu diperhatikan.
“Kami tetap memilih perusahaan yang likuid dan transparan dengan fundamental yang kuat,” ungkap Ashmore.
The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja
Dari Amerika Serikat, PMI Manufaktur ISM naik menjadi 55,6, jauh di atas ekspektasi dan menjadi level terkuat dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara itu, PMI Jasa relatif stabil di level 54,4. Namun, jumlah lowongan pekerjaan turun menjadi 7,36 juta dari 7,54 juta.
Ashmore menilai kombinasi aktivitas ekonomi yang solid dan pasar tenaga kerja yang secara bertahap mendingin mendukung keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga.
Pasar selanjutnya mencermati laporan ketenagakerjaan Juli di AS yang dirilis Jumat. Data tersebut akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap pertemuan Federal Reserve pada September.
China dan Eropa Tunjukkan Perlambatan
Di China, PMI manufaktur melambat menjadi 50,9, dari 51,7 dan berada di bawah ekspektasi. Surplus perdagangan China juga menyempit menjadi USD112,5 miliar.
Data tersebut mengindikasikan momentum ekonomi China mulai moderat.
Di Eropa, surplus perdagangan Jerman menyempit menjadi EUR15,4 miliar dari EUR19,3 miliar dan berada di bawah ekspektasi. Penjualan ritel juga turun 0,2% YoY, setelah sebelumnya tumbuh 2,1%.
Sementara itu, PMI konstruksi Inggris membaik menjadi 44,7 dari 38,4. Meski masih berada di zona kontraksi, penurunan tersebut lebih ringan dari perkiraan.
Pemerintah Suntik Likuiditas Rp70 Triliun ke Bank BUMN
Dari sisi kebijakan domestik, pemerintah mengumumkan suntikan likuiditas sebesar Rp70 triliun kepada bank-bank BUMN.
Pasar juga masih mencermati proses penunjukan gubernur Bank Indonesia definitif.
Pelaksana tugas Gubernur BI Destry Damayanti dilaporkan menjadi kandidat terkuat, dengan proses di parlemen diperkirakan dimulai setelah anggota DPR kembali pada pertengahan Agustus.
Menurut Ashmore, kandidat gubernur BI yang kredibel dan dihormati pasar akan membantu meredakan kekhawatiran mengenai independensi bank sentral yang muncul bulan sebelumnya.
Obligasi Indonesia Ikut Menarik
Penguatan aset domestik tidak hanya terjadi di pasar saham. Penurunan inflasi dan penguatan rupiah turut meningkatkan daya tarik imbal hasil obligasi Indonesia.
Kondisi tersebut juga mengurangi tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga.
Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun menjadi 7,28%.
Dengan kombinasi harga minyak yang lebih rendah, pertumbuhan ekonomi yang solid, inflasi yang terkendali, dan mulai berbaliknya arus dana asing, Ashmore menilai kondisi tersebut menjadi latar belakang yang mendukung aset domestik.
Data Perdagangan BEI 20-24 Juli 2026
Sebagai pembanding, pada perdagangan BEI periode 20-24 Juli 2026, seluruh indikator utama pasar juga berada di zona positif.
- Rata-rata volume transaksi harian: naik 66,88% menjadi 43,68 miliar saham dari 26,17 miliar saham.
- Rata-rata nilai transaksi harian: naik 41,21% menjadi Rp19,76 triliun dari Rp13,99 triliun.
- Rata-rata frekuensi transaksi harian: naik 14,4% menjadi 2,67 juta transaksi dari 2,33 juta transaksi.
- Kapitalisasi pasar: naik 1,13% menjadi Rp10.870 triliun dari Rp10.749 triliun.
- IHSG: naik 0,34% menjadi 6.196,430 dari 6.175,535.
- Investor asing: mencatat jual bersih Rp1,36 triliun pada hari tersebut.
- Net sell asing sepanjang 2026: Rp79,09 triliun.
