IHSG Goyah, IPOT Sarankan Strategi Trading Ini
Ekbis

IHSG Menguat, Ritel Domestik Masih Terjepit

  • Bursa belum sepenuhnya dirasakan sektor riil, khususnya ritel domestik yang masih menghadapi tekanan berat
Ekbis
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM - Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi angin segar bagi pelaku pasar modal. Namun, kabar baik dari bursa belum sepenuhnya dirasakan sektor riil, khususnya ritel domestik yang masih menghadapi tekanan berat.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan menilai, pemulihan daya beli masyarakat belum berlangsung utuh. Di saat yang sama, perubahan perilaku belanja yang kian bergeser ke platform digital membuat ritel konvensional semakin terdesak.

“Gerai-gerai di pasar tradisional sekarang makin sepi. Bahkan pedagang fashion banyak yang datang hanya untuk berbincang karena hampir tidak ada transaksi. Masyarakat desa sekalipun belanjanya sudah lewat online,” ujar Anton kepada TrenAsia Media Berjejaring Ibukotakini.com, pada Selasa (16/12/2025).

Masifnya peralihan ke belanja daring, menurut Anton, justru belum memberikan dampak signifikan bagi produsen lokal. Platform e-commerce dipenuhi produk impor murah, terutama di sektor fesyen. Kondisi ini memotong mata rantai industri tekstil dalam negeri dan membuat penyerapan tenaga kerja menjadi terbatas.

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/bess-8-mw-aktif-istana-ikn-aman-tanpa-kedip

Anton menilai langkah pemerintah menekan praktik thrifting serta memperketat impor pakaian sebagai kebijakan yang tepat. Namun, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam penegakan aturan agar tidak bertentangan dengan kesepakatan perdagangan bebas. 

“Jika marketplace bisa lebih didominasi produk lokal, efeknya akan jauh lebih besar dan berkelanjutan,” ucapnya.

Di tengah lemahnya daya beli dan perubahan perilaku konsumen yang cepat, pelaku usaha cenderung menahan langkah. Banyak industri memilih bersikap wait and see dan menunda ekspansi. 

“Hanya sedikit yang mulai berani bergerak. Pemulihan ritel jelas tidak bisa hanya mengandalkan euforia pasar saham,” tegas Anton.

Stimulus fiskal, seperti penurunan suku bunga dan penyaluran kredit hingga Rp 200 triliun, dinilai belum memberi dampak cepat. Ketidakpastian global membuat pengusaha enggan mengambil pembiayaan baru. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/dprd-siapkan-jurus-baru-atur-reklame-kota

“Butuh waktu sampai sektor riil kembali percaya. Paling cepat terlihat pada triwulan pertama 2026,” ujarnya.

Anton menekankan, kebijakan yang mampu membendung banjir produk impor di platform digital harus menjadi agenda mendesak. Perlindungan industri dinilai krusial agar manufaktur kembali menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Meski demikian, ia melihat peluang jangka panjang tetap terbuka jika pemerintah mampu menyeimbangkan perlindungan industri dengan transformasi digital. Pemulihan ritel, menurutnya, perlu dibarengi penguatan industri hulu agar rantai pasok domestik kembali hidup.

Sejumlah sektor mulai menunjukkan perbaikan bertahap, termasuk pertanian yang terdorong program pangan nasional. Namun, untuk pemulihan ekonomi yang menyeluruh, konsistensi kebijakan yang berpihak pada industri dalam negeri tetap menjadi kunci.

Anton mengingatkan agar euforia penguatan IHSG tidak membuat pemerintah dan publik abai terhadap kondisi sektor riil. 

“Kekuatan ekonomi Indonesia ada di aktivitas industri dan daya beli masyarakat. Pertumbuhan 2026 sangat bergantung pada kemampuan mengendalikan impor, mendorong industri, dan memulihkan konsumsi domestik,” tutupnya. ***