
IHSG Merosot Tajam usai MSCI Coret BREN dan AMMN, Ini Dampaknya
- Keputusan MSCI mencoret saham-saham seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA hingga CUAN diprediksi pemicu utama tekanan pasar domestik
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam ke level 6.723 pada perdagangan pekan lalu di tengah gelombang tekanan global dan domestik.
Aksi jual investor asing dipicu rebalancing indeks MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar dari Global Standard Index.
Equity Analyst Imam Gunadi mengatakan keputusan MSCI mencoret saham-saham seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA hingga CUAN menjadi pemicu utama tekanan pasar domestik.
“Investor asing mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum effective date rebalancing pada akhir Mei, sehingga menciptakan gelombang passive outflow yang cukup agresif,” ungkap Imam dalam keterangannya, pada Senin (18/5/2026).
BACA JUGA:
Tekanan pasar semakin dalam setelah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali mundur.
Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat pasar kembali menghadapi skenario higher for longer.
Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah yang sempat melemah hingga Rp17.520 per dolar AS.
Di saat bersamaan, konflik geopolitik Timur Tengah serta terganggunya distribusi energi global akibat krisis Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas US$105 per barel.
“Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” katanya.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/harga-emas-antam-hari-ini-naik-rp-30-000-stok-pecahan-kecil-ludes
Saham Energi Tertekan, Transportasi Jadi Outperformer
IPOT menilai sektor energi menjadi salah satu yang paling terpukul akibat keluarnya saham DSSA dan BREN dari indeks MSCI. Namun pelemahan tersebut lebih dipengaruhi faktor teknikal dibanding penurunan fundamental komoditas.
Sebaliknya, sektor transportasi justru mencatat performa positif setelah saham ELPI melonjak signifikan pasca aksi divestasi anak usaha kepada grup Prajogo Pangestu.
Menurut Imam, kondisi ini menunjukkan pasar masih memberikan premium valuation terhadap emiten yang memiliki katalis korporasi kuat di tengah koreksi pasar secara luas.
Di pasar komoditas, harga batu bara dinilai masih solid didorong peralihan konsumsi energi Asia dari LNG menuju coal akibat konflik berkepanjangan.
Sementara harga emas mulai mengalami profit taking karena peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/msci-depak-18-saham-ri-ihsg-anjlok-1-81-persen
Investor Asing Masih Pilih Saham Defensif
Selama pekan lalu, investor asing tercatat melakukan net sell Rp3,21 triliun yang mayoritas terkonsentrasi pada saham terdampak MSCI deletion dan sektor perbankan besar.
Meski begitu, saham defensif seperti ADRO, TLKM, dan INKP masih mencatat inflow asing. Hal ini menunjukkan strategi flight to quality mulai mendominasi perilaku investor global.
IPOT memproyeksikan volatilitas pasar masih tinggi hingga implementasi MSCI Rebalancing efektif pada 29 Mei 2026, terutama saat sesi closing auction.
Namun di balik tekanan tersebut, terdapat peluang rotasi dana ke saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, MTEL, dan TOWR.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase bearish dengan area support berikutnya di kisaran 6.640 hingga 6.538.
“Tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural,” ujar Imam.
Ia menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61 persen menjadi fondasi penting bagi pasar domestik.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/rups-telkom-2026-digelar-8-juni-rencana-buyback-dan-perombakan-direksi
Rekomendasi Saham Pilihan IPOT Pekan Ini
Merespons dinamika pasar, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dan ETF yang dinilai menarik untuk trading jangka pendek:
1. BUMI
• Entry: 214
• Target Price: 242
• Stop Loss: <200
BUMI direkomendasikan sebagai trading proxy untuk memanfaatkan momentum bullish harga batu bara dan potensi technical rebound pasca tekanan MSCI rebalancing.
2. MINA
• Entry: 384
• Target Price: 424
• Stop Loss: <342
MINA dinilai menarik seiring pertumbuhan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang naik 10,5 persen secara tahunan pada Maret 2026.
3. RMKE
• Entry: 3.300
• Target Price: 3.650
• Stop Loss: <3.110
RMKE diproyeksikan diuntungkan implementasi aturan distribusi batu bara melalui jalur hauling khusus dan kereta api di Sumatera.
4. ETF XIIC
• Entry: 806
• Target Price: 854
• Stop Loss: <783
ETF Consumer Indonesia (XIIC) dinilai mulai membentuk technical base formation setelah bergerak sideways dalam beberapa pekan terakhir.
Disclaimer: Informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat edukasi dan analisis data publik, bukan merupakan perintah atau rekomendasi beli/jual untuk instrumen investasi apa pun. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.***
