Posisi ADRO pada perdagangan Rabu, 29 April 2026. Kenaikan harga minyak dunia mendorong permintaan energi alternatif seperti batubara.
Ekbis

IHSG Rawan Tertekan Jelang Libur, Indo Premier Jagokan Saham Ini...

  • Dampak Kenaikan Harga Minyak dan Penguatan Dolar AS
Ekbis
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM - Tekanan terhadap pasar saham domestik diperkirakan berlanjut pada perdagangan akhir pekan. 

Analis Indo Premier Sekuritas menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi ketidakpastian geopolitik global, lonjakan harga minyak, serta penguatan dolar Amerika Serikat yang menekan nilai tukar rupiah.

Secara teknikal, IHSG atau IDX Composite berada di titik krusial. Level support disebut berada di kisaran 6.900. 

“Jika menembus ke bawah level tersebut, indeks berpotensi mencetak level terendah baru tahun ini sekaligus mengonfirmasi tren bearish yang lebih dalam,” bunyi analisis Indo Premier Sekuritas, Kamis, 30 April 2026 .

Batubara Diuntungkan Lonjakan Energi Global

Kenaikan harga minyak dunia mendorong permintaan energi alternatif seperti batubara. 

BACA JUGA:

Laba Bersih Emiten Low Tuck Kwong Anjlok 74,4% pada Kuartal I-2026 - ibukotakini.com

Situasi ini diperkuat oleh proyeksi fenomena El Nino yang meningkatkan suhu di kawasan Asia, sehingga konsumsi listrik—terutama untuk pendingin udara—melonjak.

Kondisi ini dinilai menguntungkan emiten batubara seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, PT Indika Energy Tbk, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk yang berpotensi menjadi pilihan taktis dalam jangka pendek.

ANTM Cetak Laba Melonjak

Kinerja solid ditunjukkan PT Aneka Tambang Tbk yang membukukan laba bersih Rp3,4 triliun, naik 60 persen secara tahunan. Lonjakan ini ditopang kenaikan volume penjualan emas serta harga jual bijih nikel.

Margin laba emas membaik hingga 10,4 persen, sementara margin EBIT segmen nikel menembus kisaran 50 persen. 

BACA JUGA:

Wulandari Bangun Laksana (BSBK) Absen Bagi Dividen - ibukotakini.com

Dengan valuasi sekitar 9 kali price to earnings (P/E) untuk estimasi 2026, saham ANTM dinilai masih menarik dengan proyeksi pertumbuhan laba per saham mencapai 35 persen.

BBNI Masih Undervalued

PT Bank Negara Indonesia Tbk mencatat laba bersih Rp5,7 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 5 persen secara tahunan. Pertumbuhan kredit mencapai 20 persen diikuti lonjakan dana pihak ketiga 34 persen.

Meski margin bunga bersih sedikit tertekan, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) stabil di 1,9 persen. Valuasi BBNI dinilai masih murah di level 0,7 kali price to book value (P/B).

Laba ASII Terkoreksi

Sebaliknya, PT Astra International Tbk mencatat penurunan laba bersih inti menjadi Rp6,4 triliun atau turun 15 persen secara tahunan. Penurunan dipicu melemahnya margin bisnis sepeda motor dan beban satu kali dari unit alat berat.

BACA JUGA:

Asia Dibuka Variatif Cenderung Melemah, IHSG Rawan Koreksi Uji Level 7.000 - ibukotakini.com

Meski segmen otomotif dan jasa keuangan masih tumbuh, analis cenderung berhati-hati dengan mempertimbangkan risiko penurunan produksi emas Martabe.

HMSP Tertekan Downtrading

PT HM Sampoerna Tbk mencatat laba bersih Rp2,1 triliun, naik 7,2 persen secara tahunan, namun di bawah ekspektasi. Margin laba kotor terbatas akibat perubahan bauran produk.

Pendapatan turun 5,5 persen seiring tren konsumen beralih ke rokok yang lebih murah atau ilegal, mencerminkan tekanan daya beli.

ISAT Tumbuh Stabil

Kinerja positif juga dicatat PT Indosat Tbk dengan EBITDA Rp7,2 triliun dan laba bersih inti Rp1,5 triliun. Pertumbuhan ditopang lonjakan konsumsi data yang mendorong pendapatan seluler.

BACA JUGA:

MNC Digital (MSIN) Resmi Ajukan Secondary Listing di Bursa Hong Kong - ibukotakini.com

Dengan valuasi 4,15 kali EV/EBITDA, saham ISAT dinilai masih menarik meski prospek ARPU ke depan diproyeksikan lebih konservatif.

WIFI Incar Pendanaan

Sementara itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk dikabarkan tengah menjajaki penerbitan obligasi melalui skema private credit dengan target dana hingga US$300 juta.

Di tengah tekanan eksternal, pasar saham domestik masih menghadapi risiko koreksi lanjutan. 

Namun, sejumlah sektor seperti energi dan komoditas dinilai tetap menawarkan peluang, sementara saham perbankan dan telekomunikasi masih menarik dari sisi valuasi.***

 

Disclaimer On:

Informasi ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Lakukan riset mandiri!