IHSG Merah dan Rupiah Terpuruk, Ini Strategi Trading IPOT
Ekbis

IHSG Rebound, IPOT Bocorkan Saham Prospek Pekan Ini

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan 3,49% dalam sepekan terakhir
Ekbis
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan 3,49% dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini menjadi sinyal awal pemulihan pasar pasca isu MSCI, meski tekanan eksternal masih membayangi pergerakan bursa domestik.

Sentimen global datang dari keputusan Moody’s yang memangkas outlook sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk empat bank nasional. Langkah ini sempat memicu kekhawatiran pelaku pasar. 

Di sisi lain, FTSE Russell memutuskan menunda perubahan komposisi indeks Indonesia hingga Mei 2026, sembari menunggu progres reformasi pasar yang dilakukan Bursa Efek Indonesia. Penundaan tersebut ditegaskan tidak berkaitan dengan klasifikasi negara seperti yang dilakukan MSCI.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menilai IHSG tetap mampu menguat di tengah sentimen campuran tersebut. Penguatan indeks ditopang saham-saham konglomerasi seperti BUMI, RATU, dan BUVA. 

“Namun, tekanan jual asing masih terlihat, terutama pada saham PT Bank Central Asia Tbk yang mencatat outflow Rp3,8 triliun dalam sepekan dan terkoreksi 6,19%,” terangnya pada Selasa 17 Februari 2026.

Secara keseluruhan, IHSG mencatat outflow asing sebesar Rp6,1 triliun dalam periode yang sama. Lanjutnya, kondisi ini mencerminkan adanya rotasi dan selektivitas investor di tengah dinamika sentimen global dan domestik.

BACA JUGA:

Gaya Investasi Gen Z Ubah Arah Industri Keuangan - ibukotakini.com

Dari luar negeri, pergerakan indeks Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite masih dipengaruhi rilis data ekonomi serta laporan kinerja emiten. 

Perhatian investor tertuju pada estimasi pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) AS serta data belanja dan pendapatan konsumen sebagai indikator ketahanan ekonomi. Musim laporan keuangan kuartalan juga berpotensi memicu rotasi sektoral.

Hari menambahkan, kekhawatiran investor terhadap dampak negatif kecerdasan buatan (AI) berpotensi menjaga volatilitas Wall Street tetap tinggi. 

“Meski bias pergerakan masih konstruktif selama data ekonomi menunjukkan stabilitas,” tukasnya.

Sementara itu, pasar domestik akan mencermati pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada 19 Februari 2026. Ekspektasi stabilisasi suku bunga serta sinyal arah kebijakan moneter ke depan dinilai menjadi sentimen kunci bagi aset berisiko di dalam negeri.

Data pertumbuhan kredit perbankan yang menunjukkan ekspansi sehat turut menjadi katalis positif, mencerminkan perbaikan permintaan sektor riil. 

Di sisi lain, progres reformasi Bursa Efek Indonesia yang mengarah pada peningkatan transparansi dan tata kelola pasar dinilai mampu memperkuat daya tarik pasar modal dalam jangka menengah hingga panjang, khususnya bagi investor asing.

Selain suku bunga, investor juga disarankan mencermati rilis data inflasi domestik, neraca perdagangan, serta laporan keuangan emiten kuartal IV/2025 yang dapat memberikan arahan lanjutan bagi pergerakan IHSG.

BACA JUGA:

IHSG Dibuka Menguat ke 8.317, NZIA Cs Pimpin Top Gainer - ibukotakini.com

Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham IPOT

Untuk periode perdagangan 18–20 Februari 2026 pasca libur Imlek, IPOT memproyeksikan IHSG bergerak konsolidasi. Secara teknikal, indeks belum mampu menembus resistance di level 8.300 dengan support berada di kisaran 8.120. 

Selama level resistance belum dilewati, pergerakan IHSG cenderung sideways dengan volatilitas terbatas.

IPOT merekomendasikan strategi selektif pada saham berfundamental kuat, terutama di sektor komoditas seperti batu bara, nikel, dan emas yang masih ditopang permintaan global serta stabilitas harga.

Adapun rekomendasi saham IPOT sebagai berikut:

  • BBTN: Buy pada level 1.365, target harga 1.555 dan stop loss 1.280. Secara teknikal masih berada dalam tren naik dengan dukungan aliran dana asing sebesar Rp646 miliar dalam sepekan terakhir.
  • LPPF: Buy pada level 1.895, target harga 1.945 dan stop loss 1.855. Pergerakan saham masih berada dalam kanal uptrend dan berpotensi membentuk higher high.
  • HRUM: Buy pada level 1.140, target harga 1.285 dan stop loss 1.090. Saham bergerak uptrend dengan akumulasi asing, mencatat net buy asing year to date sebesar Rp83 miliar.
  • Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD): Produk ETF berbasis saham berdividen dinilai menarik di tengah maraknya pembagian dividen interim. XIHD berpotensi menjadi alternatif investasi defensif dengan peluang imbal hasil stabil.

IPOT menyarankan investor melakukan akumulasi bertahap di area support serta menerapkan disiplin manajemen risiko untuk menjaga kinerja portofolio di tengah fase konsolidasi pasar.

CATATAN REDAKSI:

Konten ini disajikan sebagai informasi. Seluruh keputusan investasi dan trading sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Lakukan riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan pahami risiko sebelum bertransaksi.