Para pembicara dan peserta Seminar Ekonomi Uniba.
Ekbis

IKN, Ketahanan Pangan dan Ekonomi Keberlanjutan

  • Masalah ketahanan pangan tidak saja penting untuk IKN, tetapi juga bagi Kaltim sebagai daerah penyangga.
Ekbis
Admin

Admin

Author

Catatan Rizal Effendi

 

EKONOMI Berkelanjutan, Ketahanan Pangan, Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Indonesia Emas 2045 jadi topik yang menarik dibahas. Maklum ini menyangkut arah dan nasib bangsa Indonesia ke depan. 

Karena itu, tema ini diangkat dalam seminar yang digagas Pusat Kajian dan Pengembangan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Balikpapan (PKPE FEB Uniba) dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Balikpapan.

Seminar berlangsung di Kampus Uniba, Jl Pupuk Raya, Gunung Bahagia, Rabu (15/5). Tema lengkapnya: “Peran Ekonomi Berkelanjutan sebagai Wujud Ketahanan Pangan di IKN Menuju Indonesia Emas.” Pesertanya akademisi, mahasiswa, dan anggota ISEI. Sekitar 150 orang yang hadir.

Dekan FEB Uniba Dr Tamzil Yusuf yang membuka acara. Dia bilang, pembangunan IKN yang persis rampung pada saat kita memasuki era Indonesia Emas 2045 perlu memerhatikan berbagai sektor. 

Salah satunya adalah sektor pertanian. Karena ini berkaitan dengan masalah ketahanan pangan dan lapangan kerja. Juga berkaitan dengan penerapan konsep ekonomi berkelanjutan. 

Sebagai keynote speaker, Ketua Yayasan Uniba Dr Rendi Susiswo Ismail dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI), Robi Ariadi. Pembicaranya Rektor Uniba Dr Isradi Zainal, Prof Eko Ganis Sukaharsono dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Wali Kota Balikpapan dan Adam Dustin dari Hipmi. Sebagai ketua ISEI Balikpapan, saya juga didaulat berbicara.

BACA JUGA:

Prof Eko Ganis adalah ahli akuntansi berkelanjutan yang dia sebut sebagai Economic Balance (EB). “Beliau dosen saya,” kata Adam Dustin, yang ternyata alumnus UB. 

Adam yang saat ini kandidat kuat ketua Hipmi Balikpapan adalah pengusaha muda lokal yang mendapat kepercayaan ikut berkiprah di IKN. Dia bergerak di bidang event organizer (EO) atau perencana acara. 

“IKN memberi peluang kepada pengusaha muda lokal berkembang. Kita juga menyaksikan konsep pembangunan ibu kota negara berkonsep lingkungan,” ujarnya.

Akuntansi berkelanjutan adalah paradigma baru dalam bidang akuntansi, yang berkaitan dengan kebijakan untuk memasukkan elemen biaya lingkungan ke dalam praktik akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah.  Biaya lingkungan adalah suatu implikasi yang timbul dari sisi keuangan maupun non-keuangan.

Menurut Prof Ganis, pembangunan ekonomi berbasis akuntansi berkelanjutan harus dapat menunjukkan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui dengan cara tidak menguranginya dan merusaknya atau juga tidak mengurangi fungsinya untuk kemanfaatan dan kepentingan generasi masa yang akan datang.

Dia mengungkapkan ada 5P yang terkait  konsep EB. Yaitu, Planet, Prophet, Profit, People dan Pheno-Technology. “Itu artinya kemampuan pembangunan EB dalam relasi aktivitasnya harus ramah lingkungan, akselerasi ekonomi, mendayagunakan teknologi dan sadar berketuhanan,” tandas Prof Ganis.

BACA JUGA:

Rektor Uniba Dr Isradi, yang rajin memantau perkembangan pembangunan IKN meyakini IKN memang mewujudkan konsep smart forest city. “Jadi tidak benar kalau IKN merusak lingkungan, justru sebaliknya IKN membangun dan memulihkan lingkungan,” tegasnya.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengakui kehadiran pembangunan IKN memang memacu pertumbuhan ekonomi di Kaltim termasuk Balikpapan. Dia juga mengingatkan pentingnya ketahanan pangan di IKN dan daerah sekitarnya agar tidak berkontribusi terhadap kenaikan inflasi. 

JANGAN IKN SAJA

Menurut saya, masalah ketahanan pangan tidak saja penting untuk IKN, tetapi juga bagi Kaltim sebagai daerah penyangga, yang selama ini kebutuhan pangannya sebagian besar dipasok dari Kalsel, Sulsel, Sulbar, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

Karena itu mata rantai pasokan harus terus dijaga dan ditingkatkan. Sejauh ini Indeks Ketahanan Pangan (IKP) Kaltim masih di atas nasional. Bahkan Balikpapan nomor dua setelah Denpasar. Tapi ada 3 daerah yang masih rawan, yaitu Kabupaten Mahulu, Kutim, dan Kubar.

Penduduk IKN di tahun 2045 diperkirakan mencapai 1,9 juta orang. Sementara penduduk Kaltim diprediksi mencapai 5 juta orang. Ke depan, Kaltim yang mempunyai lahan yang cukup luas bisa dikembangkan menjadi daerah yang punya kemandirian pangan yang cukup tinggi. Di antaranya mengembangkan food estate atau pertanian modern dengan teknologi canggih.

BACA JUGA:

Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN Dr Myrna A Safitri pernah mengungkapkan, food estate dan urban farming juga menjadi pilihan dalam mengembangkan strategi ketahanan pangan di IKN.

Menurut Myrna, saat ini di kawasan sekitar IKN tersedia 24,7 hektare lahan pertanian. Akan diperluas menjadi 25.600 hektare atau 10 persen dari luas IKN. “Kita akan menerapkan kebijakan perlindungan terhadap lahan pertanian pangan berkelanjutan,” jelasnya.

Saya setuju dengan gagasan Pj Gubernur Kaltim Akmal Malik mengembangkan program Petani Muda Milenial, sehingga tumbuh kader-kader petani modern di daerah ini. Kaltim tidak bisa terus menerus mengandalkan dari hasil tambang, tetapi juga bisa dari bisnis pertanian.

Di tengah-tengah acara seminar, Uniba juga menandatangani kerjasama (MOU) dengan beberapa perguruan tinggi lainnya. Di antaranya dengan STIEPAN, Untag dan Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda. “Kita perlu merapatkan barisan, saling mendukung dan menguatkan karena kita akan bersaing dengan berbagai perguruan tinggi besar yang buka di IKN,” kata Rendi Ismail. Hal yang sama juga ditegaskan Rektor Widya Gama Prof Dr Husaini Usman.

Rendi juga mendorong Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda dan Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di Balikpapan diperkuat dan  menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) di IKN. Uniba juga tengah berjuang mendirikan Fakultas Kedokteran. “Perjuangan dan syaratnya sangat berat,” katanya mengeluh. Padahal ini untuk kepentingan Kaltim dan IKN. ***

(Wartawan senior Kaltim, Wali Kota Balikpapan 2011-2021)