
Imlek dan Kue Keranjang, Simbol Harapan dan Kebersamaan
- Melalui aroma dan cita rasanya, kue ini menyatukan kenangan, tradisi, dan harapan, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek
Tren
IBUKOTAKINI.COM - Tahun Baru Imlek bukan sekadar hari libur, melainkan momentum penting bagi masyarakat Tionghoa untuk berkumpul bersama keluarga, merayakan kebersamaan, dan menyambut awal yang baru.
Perayaan ini menjadi penanda berakhirnya tahun lama sekaligus harapan akan kemakmuran, kesehatan, dan kebahagiaan di tahun yang akan datang.
Menjelang Imlek, suasana rumah biasanya dipenuhi aktivitas membersihkan dan menghias. Poster merah berisi bait puisi, gambar khas Tahun Baru Imlek, serta lampion merah menghiasi sudut-sudut rumah.
Tradisi ini diyakini sebagai simbol menyambut keberuntungan dan mengusir hal-hal buruk. Momen ini juga dimanfaatkan untuk pulang kampung dan berkumpul bersama sanak keluarga.
Pada malam pergantian tahun, bunyi petasan dan kembang api kerap mewarnai langit, sebagai simbol pengusir nasib buruk. Anak-anak pun menerima angpao atau uang keberuntungan, sementara orang dewasa saling bertukar ucapan selamat Tahun Baru Imlek.
Beragam kesenian tradisional seperti tabuhan gendang, gong, hingga tarian naga dan barongsai turut memeriahkan suasana.
BACA JUGA:
Ribuan Warga Siap Serbu Jalan Sehat HUT ke-129 Balikpapan - ibukotakini.com
Di balik kemeriahan itu, Imlek selalu identik dengan kehadiran kue keranjang. Kue bertekstur kenyal dan bercita rasa manis ini bukan sekadar hidangan, melainkan simbol sarat makna bagi masyarakat Tionghoa.
Kue keranjang dikenal dengan nama nian gao dalam bahasa Mandarin atau ti kwe dalam dialek Hokkien, yang secara harfiah berarti “kue tahun”.
Keberadaan kue keranjang memiliki sejarah panjang. Dalam legenda Tiongkok, kue ini dipercaya sebagai persembahan untuk menghindari gangguan makhluk buas bernama Nian.
Ada pula kepercayaan bahwa kue keranjang disajikan untuk “menutup mulut” Dewa Dapur agar tidak melaporkan hal buruk kepada Kaisar Giok menjelang pergantian tahun.
Sejarah lain mengaitkan kue keranjang dengan sosok Wu Zixu, jenderal Kerajaan Wu pada masa Periode Musim Semi dan Gugur.
BACA JUGA:
Dari Balikpapan ke Bioskop, Film Anak Muda Curi Perhatian - ibukotakini.com
Dalam kisah tersebut, fondasi tembok kota yang terbuat dari bahan mirip tepung beras ketan menyelamatkan rakyat dari kelaparan saat pengepungan. Sejak itu, nian gao dibuat untuk mengenang jasanya dan berkembang menjadi sajian khas Imlek.
Bentuk kue keranjang yang bulat melambangkan keutuhan keluarga, sementara rasa manisnya merepresentasikan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Kini, kue keranjang hadir dalam berbagai inovasi rasa seperti cokelat, keju, hingga pandan, tanpa menghilangkan makna filosofis yang melekat.
Lebih dari sekadar makanan, kue keranjang menjadi media pewarisan nilai-nilai budaya dan kekeluargaan dari generasi ke generasi.
Melalui aroma dan cita rasanya, kue ini menyatukan kenangan, tradisi, dan harapan, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek hingga kini. ***
