Karyawan beraktivitas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Foto: Ilustrasi)
Tren

Indo Premier Sarankan Investor Pegang Kas 30–40%

  • Sentimen MSCI Pengaruhi Pasar
Tren
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam pada pekan perdagangan terakhir, melemah 14,91% atau 908,65 poin ke level 5.185,11 dari posisi 6.093,76 pada pekan sebelumnya. 

Menghadapi volatilitas tinggi dan ketidakpastian terkait MSCI, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyarankan investor menerapkan strategi defensif, selektif memilih saham, dan memperketat batas kerugian atau stop loss. 

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Ardy Irianto Subekti, menilai tekanan pasar dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada konsultasi MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. 

Sementara dari global, kekhawatiran inflasi Amerika Serikat, arah suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah turut membayangi pasar keuangan.

“Penurunan yang dalam membuka peluang *technical rebound*, namun arah selanjutnya bergantung pada arus dana asing dan respons otoritas terhadap isu MSCI serta stabilitas harga minyak,” ujar Ardy dalam keterangan IPOT.

IHSG Ambles 11,57% dalam Sehari

Tekanan paling tajam terjadi pada Jumat, ketika IHSG merosot 11,57% ke level 5.185,11. Pada awal perdagangan, indeks dibuka melemah 8,01% ke 5.393,92 sehingga Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama 30 menit.

Pada sesi pertama, IHSG telah terkoreksi 10,76% ke level 5.233. Tekanan berlanjut hingga penutupan perdagangan.

Sepanjang pekan tersebut, pergerakan IHSG berlangsung tidak merata. Pada Senin, indeks turun 2,59% ke 5.936,14, kemudian bergerak konsolidasi pada Selasa dan Rabu di kisaran 5.926–5.943. Pada Kamis, IHSG kembali melemah 1,33% ke 5.863,78 sebelum mengalami koreksi tajam pada Jumat.

Seluruh sektor saham terkoreksi pada perdagangan Jumat. Sektor barang baku turun 13,37%, kesehatan melemah 13,16%, dan infrastruktur terkoreksi 13%. Indeks LQ45 juga turun 13,82% ke level 508,56.

Sebanyak 812 saham melemah dan hanya 11 saham menguat, dengan nilai transaksi sekitar Rp32 triliun pada hari tersebut.

Asing Net Sell Rp3,34 Triliun Sepekan

Tekanan jual investor asing turut menjadi perhatian. Menurut data yang disampaikan Ardy, investor asing mencatatkan net sell Rp2,92 triliun pada sesi pertama Jumat.

Penjualan bersih terbesar yang disebut dalam data tersebut terjadi pada saham BBCA sebesar Rp1,98 triliun, BBRI Rp631 miliar, dan BMRI Rp485 miliar.

Secara keseluruhan, net sell asing sepanjang pekan mencapai Rp3,34 triliun  sedangkan akumulasi jual bersih sejak awal 2026 mencapai Rp88,19 triliun. 

Arus dana asing menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk menilai peluang pemulihan IHSG. Namun, besarnya penjualan asing tidak dengan sendirinya memastikan indeks akan terus turun karena pergerakan pasar juga dipengaruhi sentimen lain dan respons investor domestik.

Isu MSCI dan Potensi Arus Keluar Dana

MSCI membuka konsultasi terkait usulan reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market  Proses konsultasi tersebut masih berlangsung, dengan periode penyampaian masukan hingga 30 April 2027 dan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.

Dalam materi IPOT, Ardy memperkirakan potensi arus keluar dana mencapai Rp105 triliun hingga Rp132 triliun atau sekitar US$5,8 miliar–US$7,3 miliar apabila reklasifikasi benar-benar terjadi.

Saham BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII disebut sebagai saham yang berpotensi paling rentan terdampak.

Angka tersebut merupakan estimasi skenario, bukan arus keluar dana yang sudah terjadi. Keputusan MSCI juga belum final.

Di sisi lain, IPOT menyoroti langkah penegakan aturan dan reformasi pasar modal oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta upaya BEI meminta klarifikasi kepada MSCI. Perkembangan langkah otoritas akan menjadi faktor penting dalam pemulihan kepercayaan pasar.

Inflasi AS dan Konflik Timur Tengah Menambah Tekanan

Dari luar negeri, data inflasi Amerika Serikat menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

Materi IPOT menyebut inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS pada September mencapai 3,7% secara tahunan dan 0,6% secara bulanan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) naik 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan.

Tekanan inflasi berpotensi membuat suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama dan memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.

Risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz juga menjadi sorotan. Dalam materi tersebut, harga minyak Brent disebut sempat menyentuh US$110 per barel pada Jumat di tengah meningkatnya ketegangan dan gangguan arus pengiriman minyak.

Harga energi yang tinggi dapat menopang sebagian emiten energi, tetapi sekaligus berisiko menambah tekanan inflasi dan pelemahan rupiah.

IPOT Proyeksikan Tiga Skenario IHSG

Menghadapi ketidakpastian, IPOT memetakan tiga skenario pergerakan IHSG yang dapat menjadi bahan pertimbangan investor.

Skenario moderat: IHSG berpotensi berkonsolidasi untuk membentuk dasar pergerakan (bottoming) pada rentang 5.180–5.450. Investor disarankan menunggu konfirmasi pola candle bullish dengan volume di atas level 5.233 sebelum mengambil posisi.

Skenario optimistis: IHSG berpeluang rebound menuju 5.600. Peluang pemulihan dinilai lebih terbuka jika respons BEI terhadap MSCI meyakinkan, reformasi pasar modal berlanjut, dan harga minyak stabil. Dalam kondisi tersebut, penutupan celah harga (gap) menuju area 5.800-an berpotensi menjadi perhatian.

Skenario pesimistis: IHSG berisiko turun ke area 4.950–5.000 jika arus keluar dana terkait MSCI terealisasi dan tekanan geopolitik mendorong rupiah melewati Rp18.100 per dolar AS.

IPOT menetapkan level yang perlu dicermati investor, yakni support di 5.180, 5.000, dan 4.850, serta resistance di 5.350–5.404, 5.600, dan 5.864.

Seluruh level tersebut merupakan proyeksi teknikal dari IPOT, bukan kepastian arah indeks.

Strategi IPOT: Simpan Kas 30–40% dan Disiplin Stop Loss

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, IPOT menyarankan investor menerapkan strategi defensif dengan menempatkan 30–40% portofolio dalam bentuk kas  Dana tersebut dapat digunakan untuk akumulasi secara bertahap setelah muncul konfirmasi pergerakan pasar.

IPOT juga menyarankan strategi buy on breakout yakni membeli saham setelah harga menembus level tertentu dengan konfirmasi yang memadai. Strategi ini perlu disertai disiplin stop loss untuk membatasi risiko apabila harga bergerak berlawanan.

Dalam materi rekomendasinya, IPOT mencantumkan beberapa instrumen yang dapat dipantau:

- BBCA: area masuk di atas Rp5.950, target Rp6.225, dan stop loss di bawah Rp5.850.
- ASII: area masuk di atas Rp4.490, target Rp5.200, dan stop loss di bawah Rp4.470.
- EMAS: area masuk di atas Rp7.620, target Rp8.500, dan stop loss di bawah Rp7.400.
- XGLD: Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia, yang menurut IPOT dapat dipertimbangkan sebagai instrumen berbasis emas untuk diversifikasi portofolio.

Level harga tersebut merupakan rekomendasi dari IPOT berdasarkan kondisi dan analisis saat materi diterbitkan, bukan jaminan hasil investasi. Investor perlu memeriksa harga terkini, profil risiko, dan kesesuaian instrumen sebelum mengambil keputusan.

Selektif Menunggu Konfirmasi Pasar

Koreksi tajam IHSG membuka peluang pemulihan teknikal, tetapi volatilitas masih berpotensi tinggi selama ketidakpastian MSCI, arus dana asing, inflasi AS, dan risiko geopolitik belum mereda.

Karena itu, pendekatan defensif dengan porsi kas memadai, pembelian bertahap, dan disiplin batas kerugian menjadi strategi yang disarankan IPOT untuk menghadapi perdagangan berikutnya.***