
Inflasi Balikpapan Merangkak Naik, PPU Deflasi di Oktober 2026
- Inflasi Kota Balikpapan naik 0,15% dan PPU deflasi 0,18% pada Oktober 2026
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Dinamika inflasi di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) menunjukkan tren yang bervariasi. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan mengalami kenaikan inflasi pada Oktober 2026, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mencatatkan deflasi.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, memaparkan bahwa IHK Kota Balikpapan pada Oktober 2026 membukukan inflasi sebesar 0,15 persen secara month-to-month (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0,08 persen (mtm).
“Secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan tercatat 4,06 persen (yoy) dengan inflasi tahun berjalan (year-to-date) mencapai 2,71 persen (ytd),” terangnya pada Selasa, 3 November 2026.
Sebaliknya, Kabupaten PPU pada periode yang sama justru berbalik arah mencatatkan deflasi sebesar 0,18 persen (mtm), setelah pada September lalu sempat mengalami inflasi 0,56 persen (mtm).
Ia menyebut, secara tahunan inflasi PPU tercatat di angka 4,50 persen (yoy) dengan inflasi tahun berjalan sebesar 3,92 persen (ytd).
Realisasi inflasi tahunan di kedua wilayah tersebut terpantau berada di atas rata-rata inflasi gabungan empat kabupaten/kota IHK di Provinsi Kalimantan Timur yang sebesar 4,04 persen (yoy), maupun di atas tingkat inflasi nasional yang berada di level 3,23 persen (yoy).
BACA JUGA:
Minyak dan Telur Diserbu Warga, Pemkot Balikpapan Gelar GPM Mobile di Kecamatan - ibukotakini.com
“Tekanan inflasi di Kota Balikpapan pada Oktober 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,06 persen (mtm),” tukas Robi.
Komoditas utama yang mendongkrak harga meliputi sawi hijau, jagung manis, kacang panjang, tomat, serta tarif angkutan udara.
Kenaikan harga pada komoditas hortikultura dipicu oleh penurunan pasokan akibat dampak cuaca El Niño yang memengaruhi produktivitas petani lokal maupun daerah sentra seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Sementara itu, lonjakan pada tarif angkutan udara terjadi seiring pemberlakuan kembali fuel surcharge maksimal 40 persen dari tarif batas atas mulai 1 Oktober 2026, sejalan dengan rata-rata harga avtur yang menyentuh angka Rp23.315 per liter.
Di sisi lain, deflasi di Kota Balikpapan disumbangkan oleh kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga dengan andil 0,02 persen (mtm), didorong oleh penurunan harga ikan layang, ikan tongkol, emas perhiasan, semangka, dan bayam akibat normalisasi cuaca laut serta pelemahan harga emas global.
Untuk wilayah Kabupaten PPU, deflasi bulanan terutama bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,24 persen (mtm).
BACA JUGA:
Utang Royalti ADMR ke Pemerintah Naik Jadi USD33,27 Juta - ibukotakini.com
Komoditas penekan inflasi meliputi ikan tongkol, ikan layang, daging ayam ras, bawang merah, dan bawang putih. Penurunan harga komoditas pangan ini didukung oleh perbaikan cuaca perairan, peningkatan produksi peternak lokal, masifnya operasi pasar, serta tingginya pasokan impor bawang putih.
Ia menambahkan menghadapi potensi tekanan ke depan terutama risiko keberlanjutan fenomena El Niño hingga awal 2027 serta fluktuasi biaya logistic Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah mitigasi melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Program stabilisasi harga secara masif terus digencarkan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), pasar murah, dan operasi pasar secara berkala.
Selain itu, guna menjamin kesinambungan pasokan jangka panjang, KPwBI Balikpapan bersama TPID dijadwalkan meresmikan perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada akhir November 2026.
“Langkah strategis terpadu ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan, melindungi daya beli masyarakat, sekaligus memastikan tingkat inflasi daerah tetap terkendali dalam rentang sasaran nasional 2026 sebesar 2,5±1 persen,” pungkasnya. ***
