
Inflasi PPU Naik, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama
- Beberapa komoditas turut menahan laju inflasi di PPU. Kelompok transportasi menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,05 persen (mtm)
Penajam
IBUKOTAKINI.COM - Inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, tercatat meningkat pada Februari 2026.
Indeks Harga Konsumen (IHK) daerah ini mengalami inflasi sebesar 0,89 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi PPU mencapai 4,13 persen.
Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang sebesar 4,64 persen serta inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan realisasi inflasi tersebut masih berada di atas sasaran inflasi nasional tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 2,5 persen ±1 persen.
“Tingginya inflasi tahunan juga dipengaruhi efek dasar (base effect) akibat kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen pada Januari–Februari 2025 yang dampaknya mulai berakhir pada tahun ini,” ungkapnya dalam keterangan resminya pada Rabu 4 Maret 2026.
Di sisi lain, beberapa komoditas turut menahan laju inflasi di PPU. Kelompok transportasi menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil minus 0,05 persen (mtm).
BACA JUGA:
Safari Ramadan Perdana, Pemkab PPU Salurkan Bantuan - ibukotakini.com
“Sejumlah komoditas yang menyumbang deflasi antara lain bawang merah, ikan tongkol, bensin, cumi-cumi, dan bayam,” imbuhnya.
Menurutnya, penurunan harga bawang merah didorong meningkatnya pasokan dari sentra produksi di Jawa dan Sulawesi seiring masuknya masa panen.
“Harga ikan tongkol dan cumi-cumi juga turun karena bertambahnya pasokan dari nelayan lokal,” urai Robi.
Sementara itu, harga bensin turun mengikuti kebijakan pemerintah yang menurunkan harga Pertamax sebesar Rp550 per liter sejak 1 Februari 2026. Adapun harga bayam menurun karena meningkatnya pasokan lokal saat musim panen.
Ke depan, Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko yang berpotensi menekan inflasi, antara lain puncak musim hujan pada triwulan I 2026 yang dapat memicu gelombang laut tinggi dan banjir di beberapa wilayah sentra produksi.
“Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pasokan komoditas pertanian dan perikanan, terutama hortikultura dan hasil laut,” tukasnya.
Selain itu, momentum Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 2026 diperkirakan meningkatkan permintaan masyarakat sehingga berisiko mendorong kenaikan harga apabila tidak diimbangi ketersediaan pasokan. ***
