
Ingin Anak Santun? Psikolog Puji Astuti Bagikan Kunci Pengasuhan Efektif
- Keteladanan orang tua menjadi kunci utama pembentukan karakter
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM – Pembentukan sopan santun anak tidak cukup hanya melalui nasihat. Orang tua harus menjadi teladan utama karena anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari.
Pesan itu disampaikan Psikolog Puji Astuti, S.Psi., Psikolog dalam kegiatan Smart Parent bertema "Melatih Sopan Santun Anak dalam Kehidupan Sehari-hari" yang diselenggarakan SDIT Balikpapan Islamic School (BIS) di Masjid Al Ikhwan, Sabtu (1/8/2026).
Dalam paparannya, Puji menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak merupakan proses panjang yang dipengaruhi oleh keteladanan, hubungan emosional yang hangat, pembiasaan, bimbingan, kemampuan mengendalikan diri, hingga lingkungan yang konsisten.
"Sopan santun bukan hanya soal tata krama, tetapi kemampuan seseorang menghormati hak, perasaan, martabat, dan norma sosial ketika berinteraksi dengan orang lain," terangnya di depan para orang tua.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/sdit-bis-gelar-smart-parent-orang-tua-diajak-bentuk-anak-santun
Menurutnya, perilaku santun tercermin melalui cara berbicara, bersikap, hingga bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya mengucapkan salam saat bertemu, berbicara dengan lembut, mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih, menghormati orang tua maupun guru, serta menjaga ketertiban di tempat umum.
Bedakan Sopan Santun, Akhlak, dan Adab
Puji menjelaskan masih banyak orang tua yang menyamakan pengertian sopan santun, akhlak, dan adab, padahal ketiganya memiliki makna berbeda.
Ia menerangkan, sopan santun merupakan perilaku yang tampak dalam interaksi sosial.
"Sementara akhlak adalah karakter yang tertanam dalam jiwa sehingga melahirkan perbuatan baik secara spontan," ucapnya.
Adapun adab merupakan tuntunan syariat yang mengatur sikap seorang muslim terhadap Allah SWT, Rasulullah SAW, sesama manusia, maupun dirinya sendiri, mulai dari adab berbicara, meminta izin, berpakaian, makan dan minum, hingga menghormati orang tua serta guru.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/183-siswa-smpit-balikpapan-islamic-school-ikuti-khotmul-quran
Anak Belajar dari Orang Tuanya
Mengacu pada Social Cognitive Theory yang dikembangkan psikolog Albert Bandura, Puji mengatakan anak belajar terutama melalui proses mengamati perilaku orang yang paling dekat dengannya.
Anak memperhatikan perilaku orang tua, menyimpannya dalam ingatan, menirukannya, lalu mengulanginya hingga menjadi kebiasaan.
"Anak tidak belajar hanya dari nasihat, tetapi dari orang yang paling sering ia amati," katanya.
Karena itu, orang tua harus menjadi contoh dalam berbicara santun, mengendalikan emosi, menghormati orang lain, serta menunjukkan kebiasaan positif setiap hari.
Puji menyebut karakter tidak dibentuk melalui ceramah semata, melainkan lewat pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Semakin sering suatu perilaku diulang, semakin otomatis perilaku tersebut dilakukan anak.
Dalam kehidupan sehari-hari, pembiasaan dapat dilakukan melalui kebiasaan mengucapkan salam, meminta izin, berkata jujur, menjaga lisan, menghormati orang tua, hingga melaksanakan ibadah secara rutin.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/hari-pertama-masuk-sekolah-orangtua-tunggui-anak
Selain itu, anak juga perlu dilatih memiliki kemampuan self-regulation atau pengendalian diri agar mampu mengelola pikiran, emosi, dan perilaku untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Rumah Jadi Sekolah Pertama Anak
Puji menekankan keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk karakter anak.
Suasana rumah yang hangat dan religius akan memperkuat hubungan emosional antara anak dengan seluruh anggota keluarga sekaligus memudahkan orang tua menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Rumah juga menjadi tempat terbaik untuk mengajarkan adab, doa, dzikir, disiplin, serta membangun budaya saling mengingatkan dalam kebaikan.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/dpkh-kaltim-bakal-mencetak-237-peternak-milenial
"Konsistensi antara pendidikan di rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulan menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembentukan karakter anak," tandasnya.
Dalam sesi penutup, Puji mengingatkan bahwa kehadiran orang tua secara emosional jauh lebih berharga dibandingkan hadiah atau fasilitas yang diberikan.
"Anak tidak menghitung berapa lama kita bersama, tetapi mereka mengingat bagaimana kita membuat hati mereka merasa," ujarnya.
Ia mengajak para orang tua membangun komunikasi yang hangat dengan mendengarkan cerita anak secara sungguh-sungguh, menyambut mereka dengan senyuman, menanyakan perasaannya, hingga mendampingi anak tanpa terdistraksi gawai.
Menurut Puji, anak mungkin tidak akan mengingat semua hadiah yang diterimanya, tetapi mereka akan selalu mengingat apakah merasa dicintai, didengar, dihargai, dipahami, dan merasa aman bersama orang tuanya.
Sebagai langkah sederhana, ia menganjurkan orang tua membiasakan empat kalimat positif kepada anak, yakni mengucapkan terima kasih karena sudah bercerita, menyampaikan bahwa orang tua senang bersamanya, menunjukkan kesediaan mendengarkan, serta meyakinkan bahwa setiap masalah akan diselesaikan bersama.
"Dengan pendekatan tersebut, anak akan tumbuh memiliki rasa aman, percaya diri, serta kematangan emosi yang menjadi landasan lahirnya akhlak dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari," pungkasnya. ***
