
IWAPI Bidik UMKM Kaltim Tembus Ekspor 2026
- Dorong UMKM Naik Kelas
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM - Ketua Dewan Pimpinan Daerah IWAPI Kalimantan Timur, Ernawaty Gafar, menilai perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kaltim menunjukkan tren yang sangat positif. Bahkan, di sejumlah daerah, pertumbuhan UMKM dinilai melampaui ekspektasi, baik dari sisi jumlah maupun variasi produk.
“Peningkatan UMKM luar biasa. Tantangannya sekarang bukan lagi jumlah, tapi bagaimana menciptakan inovasi produk agar mereka bisa naik kelas,” kata Ernawaty, saat dijumpai pada Kamis, 22 Januari 2026.
Menurut dia, peran IWAPI tidak berhenti pada pendampingan awal usaha, tetapi juga masuk pada tahapan peningkatan kualitas.
“Mulai dari perbaikan kemasan, peningkatan mutu produk, hingga strategi pemasaran menjadi fokus utama pembinaan,” terangnya didampingi para pengurus IWAPI Kaltim.
IWAPI Kaltim, lanjut Ernawaty, menargetkan semakin banyak UMKM yang mampu lolos kurasi dan menembus pasar ekspor. Saat ini, sejumlah anggota IWAPI telah berhasil melewati proses kurasi yang difasilitasi Bank Indonesia dan mulai mengekspor produknya.
Ia mencontohkan UMKM di Penajam Paser Utara yang berhasil menembus pasar luar negeri dengan produk kerajinan berbahan sabut kelapa, seperti asbak dan aneka kerajinan tangan lainnya.
BACA JUGA:
IWAPI Kaltim: Emas Jadi Pilihan Investasi Aman - ibukotakini.com
“Ini menjadi penyemangat bagi pelaku UMKM lain bahwa produk lokal punya peluang besar di pasar global,” ujarnya.
Di sisi lain, Ernawaty mengakui masih banyak UMKM yang bergerak dalam skala kecil dan membutuhkan dukungan serius, terutama dalam pengurusan perizinan. Sertifikasi seperti PIRT, halal, hingga izin kesehatan dinilai krusial agar produk bisa diterima pasar yang lebih luas.
Berdasarkan data IWAPI, jumlah UMKM di Kalimantan Timur tercatat sekitar 2.000 unit. Di Kota Balikpapan sendiri, jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 500 UMKM, dengan sekitar 30 persen bergerak di sektor kuliner. Sisanya tersebar di berbagai bidang, mulai dari kerajinan, jasa, hingga usaha penyewaan busana pengantin.
Dari total UMKM yang terdata di Kaltim, sekitar 35 persen telah lolos proses kurasi. Selain mendapat pendampingan dari dinas koperasi dan UMKM provinsi maupun kabupaten/kota.
BACA JUGA:
Perkuat UMKM, Iwapi Kaltim Gandeng Kampus, HKTI dan Apindo - ibukotakini.com
“Mereka juga memperoleh supervisi intensif dari Bank Indonesia untuk memastikan kesiapan produk, baik dari sisi kualitas, kemasan, hingga kelengkapan legalitas,” tambahnya.
Ernawaty menekankan, untuk bisa naik kelas, UMKM harus memperhatikan standar produk secara menyeluruh. Kemasan harus menarik dan informatif, produk kuliner wajib mencantumkan tanggal kedaluwarsa, sertifikasi halal, serta PIRT. Sementara untuk produk kerajinan, spesifikasi bahan dan keamanan produk juga harus jelas.
Ia berharap pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, terus memperkuat dukungan terhadap UMKM melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk pemanfaatan teknologi.
“Kalau UMKM kita disiapkan dengan baik, saya optimistis sebagian besar bisa naik kelas dan bersaing, bahkan di pasar ekspor,” tutup Ernawaty. ***
