
Kaltim Darurat Karhutla! 8.713 Hektar Lahan Hangus
- Samarinda Perpanjang Status Tanggap Darurat
Samarinda
IBUKOTAKINI.COM - Ancaman ganda bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan ekstrem kian mengepung Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Berdasarkan data rekapitulasi Pusdalops-PB BPBD Provinsi Kalimantan Timur hingga 13 Oktober 2026, akumulasi kejadian karhutla di Kaltim telah menembus 2.162 kejadian dengan total luas area terdampak mencapai 8.713,14 hektar.
Fluktuasi titik panas (hotspot) harian bergerak sangat tajam dan ekstrem. Pada 11 Oktober tercatat 254 hotspot, kemudian melonjak drastis hingga 1.203 hotspot pada 12 Oktober, sebelum merosot ke angka 20 hotspot pada 13 Oktober.
Hanya dalam paruh pertama bulan Oktober (s.d. 13 Oktober 2026), tercatat 311 kejadian karhutla dengan luas lahan hangus mencapai 1.013,88 hektar. Angka dua pekan di bulan Oktober ini saja menyumbang sekitar 11,6 persen dari total akumulasi luas lahan terbakar sepanjang tahun 2026.
Sebaran Karhutla Kaltim: Kukar Terluas, Paser Tertinggi
Berdasarkan sebaran wilayah di Kalimantan Timur:
- Kabupaten Paser mencatatkan frekuensi bencana tertinggi dengan 558 kejadian.
- Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi wilayah dengan kerusakan terluas, yakni membakar 2.840,53 hektar lahan dan hutan.
- Kabupaten Kutai Barat berada di posisi berikutnya dengan luas terdampak 1.351,34 hektar.
- Kota Bontang mencatatkan kejadian terendah yakni 15 kejadian.
BACA JUGA:
Kepala BNPB Lapor Presiden, Kebakaran Hutan Tinggal 639 Hektare - ibukotakini.com
Khusus untuk lonjakan luas area terbakar pada bulan Oktober, Kutai Kartanegara kembali menjadi penyumbang terbesar yakni 385,47 hektar, disusul Paser (228,77 hektar), dan Kota Samarinda (127,01 hektar).
Secara komposisi jenis area yang terbakar di Kaltim:
- Lahan non-hutan: 79,7% (6.948,44 ha)
- Kawasan hutan: 19,8% (1.726,20 ha)
- Area perkebunan: 0,4% (38,50 ha)
El Niño Sangat Kuat Parahkan Samarinda: Krisis Air Bersih dan ISPU Tidak Sehat
Dampak ganda kekeringan dan karhutla terasa sangat parah di ibu kota provinsi, Kota Samarinda. Merespons kondisi kritis ini, Wali Kota Samarinda secara resmi menerbitkan Keputusan Nomor: 300.2.3/305/HK-KS/X/2026 tentang Perpanjangan Ketiga Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan Kota Samarinda Tahun 2026.
Langkah darurat ini dipicu oleh rilis BMKG mengenai fenomena El Niño Sangat Kuat (+2.70) yang diproyeksikan bertahan hingga awal tahun 2027. Fenomena ini menyebabkan Hari Tanpa Hujan (HTH) di Kecamatan Sambutan dan Palaran menyentuh 62 hari berturut-turut.
BACA JUGA:
ISPU Kutai Barat Tembus Kategori Berbahaya, Gubernur Beri Perintah Khusus - ibukotakini.com
Dilansir dalam laporan resmi Diskominfo Kaltim, Rabu (14/10/2026), dampak lanjutan fenomena ini dikhawatirkan berpengaruh pada:
- Krisis Air Baku: Penurunan produksi IPA PDAM Lempake Benanga hingga 40%.
- Intrusi Air Laut: Naiknya salinitas air pada intake wilayah hilir (IPA Bantuas, Makroman, dan Palaran).
- Kualitas Udara Memburuk: Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Samarinda sempat menyentuh angka 181 (Kategori Tidak Sehat) akibat asap tebal, yang memaksa diberlakukannya sekolah daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Hingga 5 Oktober 2026, Samarinda mencatatkan 248 kejadian karhutla kumulatif dengan luas lahan terbakar mencapai 626,18 hektar.
Deposit Batu Bara Terbakar di Sambutan, 570 Jiwa Terancam Asap Beracun
Salah satu titik paling kritis terjadi di Kecamatan Sambutan, Kelurahan Pulau Atas (Pelita 8). Di lokasi ini, kepulan asap terus keluar dari bawah permukaan tanah akibat terbakarnya singkapan/deposit batu bara. Bencana di titik ini saja berdampak langsung pada 270 KK atau 570 jiwa.
Di tengah kepungan asap beracun, puluhan personel gabungan dari BPBD, Damkar, hingga barisan relawan lokal terus bertaruh nyawa di garis depan pemadaman. Tim yang diterjunkan meliputi Relawan Handil Kopi, Relawan Sungai Kapih, Relawan Sungai Lais, Katana Pulau Atas, Destana Makroman, Relawan Alpadi, hingga Relawan RPA.
BACA JUGA:
Hari Pertama Sekolah di Balikpapan Pembelajaran Jarak jauh, Akibat Kabut Asap - ibukotakini.com
Relawan Terbentor APD dan Logistik, BPBD Butuh Bantuan Mendesak
Meski terus berjuang maraton, upaya pemadaman di lapangan menghadapi kendala teknis dan keselamatan yang serius. BPBD dan tim relawan mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak yang sangat dibutuhkan di lapangan:
- Alat Pelindung Diri (APD) keselamatan kerja pemadam.
- Masker Standar Kesehatan: Masker KN95 & Masker Respirator untuk perlindungan dari racun asap batu bara.
- Peralatan Operasional: Selang pemadam, sepatu boots, senter penerangan malam, dan flexible tank penampung air.
- Bantuan Logistik & Sembako: Untuk menunjang stamina para relawan yang bertugas nonstop.
BPBD Provinsi Kaltim menyebut penanganan karhutla memerlukan pemantauan terpadu serta pemadaman yang adaptif. Fluktuasi hotspot harian yang ekstrem menuntut verifikasi cepat dan koordinasi lintas daerah. Penetapan status tanggap darurat menjadi payung hukum krusial untuk fleksibilitas pencairan Dana Belanja Tidak Terduga (BTT), pemompaan air pertanian, serta distribusi air bersih bagi warga terdampak.***
