
Kaltim Masuk Zona Rawan Karhutla, Waspada Puncak 24-25 Juli 2026
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur pada periode 20 hingga 25 Juli 2026.
Berdasarkan peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC) atau tingkat kemudahan terbakar vegetasi, sejumlah wilayah diprediksi mengalami kondisi bahan bakar permukaan yang semakin kering, dengan tingkat kerawanan tertinggi diperkirakan terjadi pada 24 dan 25 Juli 2026.
Informasi yang dirilis Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan menunjukkan tren peningkatan area berstatus tinggi hingga ekstrem, terutama di bagian utara, timur, dan sebagian wilayah tengah Kalimantan Timur.
Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa vegetasi kering akan lebih mudah terbakar apabila terdapat sumber api, baik akibat aktivitas manusia maupun faktor alam.
Pada 20 Juli, sebagian besar wilayah Kaltim diperkirakan telah berada dalam kategori tinggi hingga ekstrem, menandakan awal meningkatnya risiko karhutla. Kondisi sempat membaik pada 21 Juli, ketika mayoritas wilayah diprediksi berada pada tingkat kerawanan rendah.
BACA JUGA:
Titik Api Kaltim Melonjak, BMKG Siagakan Ancaman Karhutla 2026 - ibukotakini.com
Namun, mulai 22 Juli, tingkat kekeringan vegetasi kembali meningkat. Wilayah dengan kategori sedang hingga tinggi diperkirakan meluas, kemudian berkembang signifikan pada 23 Juli.
Puncak kondisi kritis diprediksi terjadi pada 24 dan 25 Juli, ketika area berwarna merah yang merepresentasikan kategori tinggi hingga ekstrem mendominasi sebagian besar wilayah Kalimantan Timur.
Situasi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, perusahaan, hingga masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.
FFMC merupakan salah satu parameter dalam sistem Canadian Forest Fire Weather Index (FWI) yang digunakan secara internasional untuk mengukur tingkat kekeringan lapisan vegetasi paling atas. Semakin tinggi nilai FFMC, semakin mudah dedaunan, ranting, dan rumput kering tersulut api.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka kebun maupun membersihkan area pertanian selama periode tersebut.
Aktivitas yang berpotensi memicu percikan api di kawasan hutan dan lahan gambut juga perlu dihindari. ***
