
Kanker Paru Sering Tak Bergejala di Awal, Kenali Faktor Risiko dan Deteksi Dini
- Berhenti Merokok Jadi Langkah Pencegahan Penting
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Kanker paru menjadi salah satu penyakit kanker paling mematikan di dunia. Masalahnya, penyakit ini kerap tidak menimbulkan gejala pada stadium awal sehingga keberadaannya baru diketahui ketika kondisi sudah berkembang.
Dalam materi edukasi bertajuk Kanker Paru: Deteksi Dini dan Pencegahan*, dokter spesialis paru RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo, dr. Maurits Fransiscus Marpaung, Sp.P(K), FISR, menjelaskan kanker paru merupakan keganasan primer paru yang berasal dari epitel saluran napas, seperti bronkus, bronkiolus, dan alveolus.
Secara umum, kanker paru terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni kanker paru bukan sel kecil atau non-small cell lung cancer (NSCLC) yang mencakup sekitar 85 persen kasus dan kanker paru sel kecil atau small cell lung cancer (SCLC) sekitar 15 persen.
Data global 2022 menunjukkan terdapat sekitar 2,48 juta kasus baru kanker paru atau 12,4 persen dari seluruh kasus kanker. Penyakit ini juga menyebabkan sekitar 1,8 juta kematian atau 18,7 persen dari seluruh kematian akibat kanker.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/yki-balikpapan-ajak-mahasiswa-kenali-risiko-kanker-sejak-usia-muda
"Kanker paru bahkan tercatat sebagai kanker yang paling sering ditemukan sekaligus menjadi penyebab kematian akibat kanker terbanyak di dunia. Di Indonesia, kanker paru merupakan jenis kanker terbanyak pada laki-laki," kata dr. Maurits dalam Kuliah Umum Penyuluhan Cegah Kanker yang diselenggarakan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Balikpapan di Universitas Balikpapan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Merokok Jadi Faktor Risiko Utama Kanker Paru
Ia menjelaskan salah satu faktor risiko kanker paru yang paling utama adalah kebiasaan merokok. Materi tersebut menyebut sekitar 80–90 persen kasus kanker paru berkaitan dengan rokok.
Risiko kanker paru meningkat seiring dengan jumlah rokok yang dikonsumsi dan lamanya seseorang merokok. Bahkan, perokok disebut memiliki risiko 15 hingga 30 kali lebih tinggi mengalami kanker paru dibandingkan bukan perokok.
"Karena itu, berhenti merokok menjadi salah satu langkah penting untuk menurunkan risiko kanker paru," ucapnya didepan para mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Balikpapan.
Selain perokok aktif, orang yang tidak merokok tetapi terus-menerus terpapar asap rokok juga menghadapi risiko. Paparan asap rokok atau second hand smoke dapat menyebabkan kanker paru pada bukan perokok.
Materi tersebut mencatat risiko kanker paru pada bukan perokok yang terpapar asap rokok dapat meningkat sekitar 20–30 persen.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/bersama-dr-gia-pratama-pertamina-balikpapan-bicara-hidup-lebih-sehat
Bukan Hanya Rokok, Ini Faktor Risiko Kanker Paru
Disebutkannya, kanker paru tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan merokok. Sejumlah faktor risiko lain juga perlu diperhatikan.
"Faktor yang dapat dimodifikasi antara lain paparan asap rokok orang lain, paparan lingkungan kerja seperti asbes, arsenik, kromium, nikel, silika dan gas diesel, radon di dalam ruangan, serta polusi udara dan asap bahan bakar biomassa," ujarnya.
Sementara itu, faktor yang tidak dapat dimodifikasi atau kondisi penyerta mencakup usia lanjut, riwayat keluarga kanker paru dan faktor genetik, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), fibrosis paru, riwayat tuberkulosis (TB), radioterapi toraks sebelumnya, serta HIV.
Pada kelompok bukan perokok, adenokarsinoma dan mutasi EGFR disebut lebih sering ditemukan, terutama pada perempuan Asia.
Waspadai Batuk Lebih dari Tiga Minggu
Gejala kanker paru dapat berbeda-beda tergantung lokasi dan perkembangan penyakit. Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah batuk yang berlangsung lebih dari tiga minggu atau mengalami perubahan karakter.
Gejala lainnya meliputi batuk darah atau hemoptisis, sesak napas, mengi, suara napas tambahan berupa stridor, serta nyeri dada yang bersifat pleuritik.
Pneumonia yang berulang atau tidak kunjung membaik juga perlu mendapat perhatian. Pada kondisi tertentu, kanker paru dapat menimbulkan suara serak, sulit menelan, sindrom vena kava superior, serta efusi pleura atau perikard.
Gejala juga dapat muncul ketika kanker telah menyebar ke organ lain. Metastasis ke tulang dapat menyebabkan nyeri atau patah tulang patologis. Jika menyebar ke otak, gejalanya dapat berupa sakit kepala, kejang atau gangguan saraf.
Sementara metastasis ke hati dapat menimbulkan nyeri pada perut kanan atas dan penyakit kuning.
Yang perlu menjadi perhatian, pada stadium dini kanker paru sering kali tidak menimbulkan gejala dan justru ditemukan secara tidak sengaja melalui pemeriksaan pencitraan.
CT Scan Bisa Membantu Deteksi Kelompok Berisiko Tinggi
Pemeriksaan kanker paru dilakukan melalui beberapa tahapan. Kecurigaan awal dapat berasal dari keluhan klinis, pemeriksaan fisik dan faktor risiko pasien.
Pemeriksaan pencitraan dapat menggunakan foto toraks dan CT-scan toraks. Foto toraks relatif murah dan tersedia luas, tetapi memiliki keterbatasan dalam mendeteksi lesi berukuran kecil atau yang lokasinya tersembunyi.
Karena itu, hasil foto toraks yang normal tidak selalu menyingkirkan kemungkinan kanker apabila secara klinis terdapat kecurigaan yang kuat.
CT-scan toraks dengan kontras menjadi salah satu modalitas utama untuk mengetahui karakteristik tumor dan menentukan stadium berdasarkan keterlibatan tumor, kelenjar getah bening serta struktur di sekitarnya. Pemeriksaan ini juga dapat membantu menentukan lokasi biopsi.
Untuk kelompok berisiko tinggi, low-dose CT (LDCT) digunakan sebagai salah satu metode skrining kanker paru.
Namun, deteksi kanker paru tidak berhenti pada pemeriksaan pencitraan. Diagnosis pasti membutuhkan pemeriksaan jaringan atau sel melalui prosedur seperti bronkoskopi, biopsi transtorakal atau pemeriksaan sitologi.
Diagnosis Menentukan Pilihan Pengobatan
Setelah kanker paru dicurigai, dokter akan menentukan stadium penyakit melalui berbagai pemeriksaan. Tahapan tersebut dapat meliputi CT toraks-abdomen atas dengan kontras, biopsi jaringan, pemeriksaan patologi dan molekuler, PET-CT, hingga MRI otak apabila diperlukan.
Pemeriksaan molekuler dapat mencakup EGFR, ALK, ROS1, BRAF, KRAS, MET, RET dan NTRK, serta pemeriksaan PD-L1.
Pemeriksaan tersebut penting karena hasil diagnosis dan karakteristik molekuler tumor dapat menentukan pilihan terapi yang sesuai. Evaluasi fungsi paru seperti spirometri dan DLCO juga dapat digunakan untuk menilai kelayakan pasien menjalani operasi maupun terapi tertentu.
Saat ini terdapat sejumlah pilihan terapi kanker paru, antara lain operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi target dan imunoterapi.
Terapi target dapat digunakan pada kondisi tertentu berdasarkan perubahan molekuler tumor, sedangkan imunoterapi antara lain mempertimbangkan karakteristik molekuler dan ekspresi PD-L1.
Berhenti Merokok Jadi Langkah Pencegahan Penting
Pencegahan kanker paru tidak dapat dilepaskan dari upaya mengurangi paparan faktor risikonya. Berhenti merokok menjadi salah satu langkah terpenting, mengingat sebagian besar kasus kanker paru berkaitan dengan rokok.
Selain itu, masyarakat perlu menghindari paparan asap rokok orang lain dan memperhatikan risiko paparan zat berbahaya di lingkungan kerja maupun polusi udara.
Perbedaan rokok konvensional dan rokok elektrik juga perlu dipahami. Materi edukasi tersebut menyebut rokok elektrik memiliki paparan toksikan yang umumnya lebih rendah dibandingkan rokok konvensional, tetapi bukan berarti tanpa risiko. Produk tersebut tetap dapat mengandung zat berbahaya dan nikotin yang menyebabkan adiksi, sementara dampak jangka panjang terhadap risiko kanker masih terus diteliti.
Dengan demikian, mengenali faktor risiko, memperhatikan gejala yang menetap dan melakukan pemeriksaan sesuai indikasi menjadi bagian penting dalam upaya menemukan kanker paru lebih awal.
Terlebih, kanker paru pada stadium dini dapat tidak menimbulkan keluhan. Karena itu, masyarakat yang memiliki faktor risiko tinggi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan apakah memerlukan pemeriksaan deteksi dini atau skrining. ***
