Angkutan Kargo Bandara (Ilustrasi)
Samarinda

Kargo Bandara APT Pranoto Turun, Penumpang Naik

  • Maskapai kini dihadapkan pada dua pilihan sulit, yakni menaikkan harga tiket atau menghentikan operasional
Samarinda
Robi Sugiarto

Robi Sugiarto

Author

IBUKOTAKINI.COM - Jumlah pengiriman kargo melalui Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda justru mengalami penurunan di tengah lonjakan signifikan jumlah penumpang selama periode angkutan Lebaran 2026.

Berdasarkan data resmi, volume kargo tercatat sebesar 164.508 kilogram pada periode 13 hingga 30 Maret 2026, atau turun 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Bandara APT Pranoto mencatat kinerja positif pada sektor penumpang. Sebanyak 45.086 penumpang menggunakan layanan bandara tersebut selama masa angkutan Lebaran. Angka ini tumbuh sembilan persen dibandingkan tahun lalu.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan, menyebutkan capaian tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap bandara sebagai pintu gerbang utama Kalimantan Timur.

“Selama masa angkutan Lebaran, kami berhasil melayani puluhan ribu pemudik dengan tren pertumbuhan yang positif,” katanya di Samarinda, pada Sabtu 4 April 2026.

BACA JUGA:

Pasar Segar Sepaku Mulai Ramai, Wajah Baru Ekonomi IKN - ibukotakini.com

Tak hanya penumpang, pergerakan pesawat juga mengalami peningkatan. Tercatat sebanyak 416 pergerakan penerbangan, baik lepas landas maupun mendarat, atau naik 16 persen dibandingkan tahun 2025.

Penurunan kargo di tengah naiknya trafik penumpang ini menjadi fenomena kontras yang menarik perhatian. Sejumlah faktor dinilai berkontribusi, termasuk tekanan biaya operasional maskapai.

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengungkapkan, lonjakan harga avtur menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi industri penerbangan saat ini. 

Ia menyebutkan, harga avtur untuk rute domestik naik hingga 72,45 persen, sementara rute internasional melonjak 80,32 persen.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya operasional maskapai yang meningkat sekitar 25 hingga 35 persen, tergantung model bisnis masing-masing.

“Jika harga tiket tidak diizinkan naik setara dengan kenaikan biaya operasional, maskapai tidak akan mampu membiayai operasinya. Terpaksa harus berhenti sementara,” jelasnya.

BACA JUGA:

Keberanian Membangun Daerah 3T Jadi Kunci Suksesi Politik Kaltim 2029 - ibukotakini.com

Menurut Alvin, maskapai kini dihadapkan pada dua pilihan sulit, yakni menaikkan harga tiket atau menghentikan operasional. Kondisi ini secara tidak langsung juga berpotensi menekan distribusi logistik melalui jalur udara.

Sementara itu, pengelola Bandara APT Pranoto memastikan kesiapan layanan selama periode Lebaran tetap optimal. Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari penguatan infrastruktur hingga peningkatan sistem pengawasan.

Selain menyiagakan personel keamanan gabungan dan petugas pelayanan, pihak bandara juga menegaskan komitmen tinggi terhadap aspek keselamatan penerbangan.

“Standar keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar dalam setiap tahapan inspeksi kelaikan udara pesawat,” tegas Kadek.

Meningkatnya jumlah penumpang ini menjadi dorongan bagi pengelola bandara untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas layanan.

“Atas nama seluruh jajaran, kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah mempercayakan layanan kepada kami. Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan pengalaman perjalanan yang aman, nyaman dan menyenangkan,” pungkasnya. ***