Karhutla Kaltim September Capai 2.505 Hektare
Samarinda

Karhutla Kaltim September Capai 2.505 Hektare

  • Total lahan terbakar sepanjang tahun mencapai 6.333 hektare
Samarinda
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) memasuki fase mengkhawatirkan. 
Sepanjang September 2026 hingga 21 September, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 608 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 2.505 hektare. 

Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Kondisi kemarau dan minimnya curah hujan membuat vegetasi mengering sehingga api lebih mudah muncul dan meluas. 

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, September menjadi salah satu periode krusial dalam penanganan karhutla tahun ini. 

"Kalau kita perhatikan dengan kondisi sekarang, di bulan ini ada potensi (karhutla) lebih meningkat jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, terutama jika dibandingkan Agustus," ungkap Buyung dalam konferensi pers penanganan karhutla dan kekeringan di Posko Siaga Darurat Bencana, Kantor BPBD Kaltim, Selasa (22/9/2026). 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/ispu-balikpapan-mendekati-tak-sehat-siswa-wajib-bermasker-di-sekolah

Secara kumulatif, sejak Januari hingga 21 September 2026, BPBD Kaltim mencatat 1.470 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai sekitar 6.333 hektare. 

Lonjakan signifikan mulai terlihat pada Agustus. Hingga akhir Agustus, luas lahan terbakar tercatat sekitar 3.828 hektare. 

Sementara pada September saja, tambahan luasan lahan terbakar mencapai sekitar 2.505 hektare. 

Data tersebut menunjukkan eskalasi karhutla yang cukup tajam ketika memasuki periode kemarau dengan kondisi lahan semakin kering. 

Dari sisi persebaran kejadian, Kabupaten Paser tercatat menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak. BPBD Kaltim mencatat sekitar 371 titik kejadian di wilayah tersebut. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/hotspot-kaltim-melonjak-1-260-titik-kabut-asap-selimuti-balikpapan

Sementara untuk luasan lahan terbakar terbesar tercatat di Kutai Kartanegara (Kukar) dengan luas sekitar 2.026 hektare. 

BPBD Kaltim juga mencatat sebagian besar lahan yang terbakar berada di luar kawasan hutan. 

Dari total sekitar 6.333 hektare lahan yang terbakar sepanjang 2026 hingga 21 September, sekitar 4.500 hektare berada di luar kawasan hutan. Sementara sekitar 1.700 hektare lainnya berada di dalam kawasan hutan. 

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran di luar kawasan hutan berpotensi bersinggungan langsung dengan permukiman, lahan masyarakat hingga kawasan perkebunan. 

Menurut Buyung, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang membuat api lebih cepat menyebar. Vegetasi yang mengering akibat kemarau membuat lahan menjadi lebih mudah terbakar. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/kelompok-rentan-diminta-waspada-bahaya-kabut-asap-karhutla

Namun, faktor manusia juga masih menjadi perhatian dalam kemunculan titik api. 

"Makanya untuk saat ini kita terus mengingatkan siapa pun untuk tidak melakukan pembakaran lagi. Sebab dampaknya bukan hanya dirasakan di sekitar lokasi saja, tetapi bisa menyebar ke wilayah lain," tegasnya. 

Menghadapi peningkatan karhutla, BPBD Kaltim bersama pemerintah kabupaten dan kota terus melakukan langkah mitigasi. 

Salah satunya melalui pemetaan lahan yang terbakar. Pemerintah desa dan kelurahan dilibatkan untuk mengonfirmasi status serta kepemilikan lahan. 

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah memetakan pola kejadian karhutla sekaligus memperkuat upaya pencegahan dan penegakan hukum. 

Penanganan titik api juga terus dilakukan melalui sinergi lintas sektor. Petugas dikerahkan untuk memadamkan titik-titik api yang masih muncul di tengah kondisi curah hujan yang minim. 

Pihaknya kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar. 

"Sebab, di tengah kondisi lahan yang kering, api yang awalnya kecil berpotensi cepat membesar dan meluas ke area lain," tambahnya. ***