Kelas Menengah Indonesia Hanya 17 Persen, Siapa yang Mendominasi?
Tren

Kelas Menengah Indonesia Hanya 17 Persen, Siapa yang Mendominasi?

  • Kelas Menengah Indonesia Menyusut 9,5 Juta Orang
Tren
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM - Selama ini banyak orang menganggap mayoritas masyarakat Indonesia masuk kategori kelas menengah. Namun data terbaru menunjukkan kenyataan yang jauh berbeda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kelas menengah Indonesia pada 2024 hanya mencapai 47,85 juta jiwa atau 17,13 persen dari total populasi.

Fakta tersebut mengungkap bahwa kelompok yang sebenarnya mendominasi struktur ekonomi nasional bukanlah kelas menengah, melainkan kelompok menuju kelas menengah yang mencapai 137,5 juta jiwa atau 49,22 persen penduduk Indonesia.

Jumlah yang sangat besar ini membuat kelompok menuju kelas menengah sering dianggap sebagai bagian dari kelas menengah, padahal secara statistik dan ekonomi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

BPS mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita per bulan untuk mengukur daya beli dan kemampuan konsumsi.

BACA JUGA:

BPJS Kesehatan Ajak Warga Cegah Penyakit Sejak Dini - ibukotakini.com

Berdasarkan data 2024, struktur ekonomi Indonesia terdiri dari:

  • Kelas atas: 1,07 juta jiwa atau 0,38 persen populasi, dengan pengeluaran di atas Rp9,9 juta per kapita per bulan. 
  • Kelas menengah: 47,85 juta jiwa atau 17,13 persen populasi, dengan pengeluaran Rp2,04 juta hingga Rp9,9 juta per kapita per bulan. 
  • Menuju kelas menengah: 137,5 juta jiwa atau 49,22 persen populasi, dengan pengeluaran Rp874 ribu hingga Rp2,04 juta per kapita per bulan. 
  • Rentan miskin: 67,69 juta jiwa atau 24,23 persen populasi, dengan pengeluaran Rp582 ribu hingga Rp874 ribu per kapita per bulan. 
  • Miskin: 25,22 juta jiwa atau 9,03 persen populasi, dengan pengeluaran di bawah Rp582 ribu per kapita per bulan. 

Data ini menunjukkan hampir separuh penduduk Indonesia berada dalam kategori menuju kelas menengah.

BACA JUGA:

Gubernur Rudy Mas’ud: Kaltim Punya 293 Ribu UMKM, Siap Naik Kelas dan Ekspor - ibukotakini.com

Kelompok ini umumnya sudah memiliki akses pendidikan yang lebih baik, menggunakan layanan perbankan, memiliki kendaraan pribadi, hingga aktif berbelanja di pusat perbelanjaan maupun platform digital. Karena gaya hidupnya mirip dengan kelas menengah, banyak orang sulit membedakan keduanya.

Meski mendominasi jumlah penduduk, kelompok menuju kelas menengah tergolong rentan terhadap tekanan ekonomi.

Kenaikan harga bahan pokok, biaya pendidikan, biaya kesehatan, inflasi, hingga kehilangan pekerjaan dapat dengan cepat menggeser mereka ke kategori rentan miskin.

Para ekonom bahkan sering menyebut kelompok ini sebagai "sandwich class", yakni kelompok yang berada di antara tekanan ekonomi dan minim perlindungan.

Mereka tidak tergolong miskin sehingga sering kali tidak menerima bantuan sosial. Namun pada saat yang sama, mereka belum memiliki aset maupun tabungan yang cukup kuat untuk menghadapi guncangan ekonomi dalam jangka panjang.

Meski rentan, kelompok menuju kelas menengah dan kelas menengah merupakan motor utama perekonomian Indonesia.

BACA JUGA:

Penyaluran KUR di Kaltim Capai Rp1,92 Triliun, Kukar Jadi Penerima Terbesar - ibukotakini.com

Jika digabungkan, kedua kelompok ini mencapai sekitar 66,35 persen dari total penduduk Indonesia.

Kontribusinya terhadap ekonomi nasional bahkan jauh lebih besar. Mereka menyumbang sekitar 81,49 persen konsumsi rumah tangga nasional, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Karena itu, setiap perubahan daya beli kelompok ini akan berdampak langsung terhadap berbagai sektor usaha seperti ritel, otomotif, properti, perbankan, hingga industri manufaktur.

Ketika konsumsi meningkat, ekonomi nasional cenderung tumbuh lebih cepat. Sebaliknya, ketika daya beli melemah, perlambatan ekonomi dapat menyebar ke berbagai sektor.

Kelas Menengah Indonesia Menyusut 9,5 Juta Orang

Data BPS juga memperlihatkan tren yang menjadi perhatian banyak kalangan.

Pada 2019, jumlah kelas menengah Indonesia mencapai 57,33 juta jiwa atau 21,45 persen populasi. Namun pada 2024 jumlahnya turun menjadi 47,85 juta jiwa atau 17,13 persen populasi.

Artinya, dalam lima tahun terakhir Indonesia kehilangan hampir 9,5 juta penduduk kelas menengah.

Pada saat yang sama, jumlah kelompok rentan miskin meningkat dari sekitar 54,97 juta jiwa pada 2019 menjadi 67,69 juta jiwa pada 2024.

Perubahan ini mengindikasikan bahwa mobilitas ekonomi masyarakat dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak bergerak ke bawah dibandingkan naik ke kelompok ekonomi yang lebih kuat.

BACA JUGA:

Kaltim Daerah Pertama Penyelenggaraan Festival UMKM Tahun 2026 - ibukotakini.com

Penyebab Kelas Menengah Terus Tertekan

Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab menyusutnya kelas menengah Indonesia.

Pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor terbesar karena menyebabkan banyak pekerja kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan.

Selain itu, perlambatan ekonomi global turut memengaruhi investasi dan aktivitas industri yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja.

Fenomena deindustrialisasi dini juga dinilai memperlambat pertumbuhan pekerjaan formal berkualitas, sementara jumlah angkatan kerja terus meningkat setiap tahun.

Di sisi lain, kenaikan biaya hidup, inflasi, meningkatnya biaya pendidikan dan kesehatan, serta berbagai kebijakan fiskal turut memberi tekanan terhadap daya beli rumah tangga.

Kondisi tersebut membuat banyak keluarga yang sebelumnya berada di kelas menengah mengalami penurunan kemampuan ekonomi dan bergeser ke kelompok menuju kelas menengah atau bahkan rentan miskin. ***