Balikpapan

Kenali Gejala Sejak Dini Kanker Serviks dan Payudara

  • Edukasi kanker serviks dan payudara
Balikpapan
Ambarwati

Ambarwati

Author

IBUKOTAKINI.COM - Deteksi dini menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan penanganan kanker serviks dan kanker payudara. 

Pemahaman mengenai faktor risiko, pemeriksaan rutin, serta pengenalan perubahan pada tubuh perlu terus disosialisasikan agar masyarakat tidak terlambat mencari pertolongan medis.

Pesan tersebut menjadi bagian dari materi edukasi kesehatan yang disampaikan dr. Varianidia Veterini, SpOG, MARS, FESICOG, dalam kegiatan di Penyuluhan Cegah Kanker oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Balikpapan di Aula Universitas Balikpapan (Uniba), pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Dalam pemaparannya, Varianidia membahas pentingnya mengenali kanker serviks dan kanker payudara, termasuk faktor risiko, perkembangan penyakit, serta metode pencegahan dan deteksi dini.

Pada kanker serviks, salah satu perhatian utama adalah infeksi human papillomavirus (HPV), virus yang berkaitan erat dengan perkembangan penyakit tersebut. Kanker serviks dapat berkembang secara perlahan, dimulai dari perubahan prakanker sebelum menjadi kanker ganas.

“Karena itu, pencegahan dan pemeriksaan sejak dini menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko keterlambatan diagnosis,” ucapnya.

BACA JUGA:

Kanker Paru Sering Tak Bergejala di Awal, Kenali Faktor Risiko dan Deteksi Dini - ibukotakini.com

Materi tersebut juga menyoroti sejumlah faktor risiko kanker serviks, antara lain menikah pada usia muda, memiliki banyak pasangan seksual, mengalami infeksi menular seksual, serta merokok. Namun, setiap perempuan tetap perlu memahami risiko HPV dan pentingnya pencegahan.

Dalam materi edukasi tersebut, pencegahan kanker serviks dibagi menjadi beberapa pendekatan, mulai dari vaksinasi HPV hingga skrining atau deteksi dini.

Ia mengatakan pemeriksaan yang dibahas meliputi inspeksi visual dengan asam asetat (IVA), pap smear, dan tes HPV DNA. Metode pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta rekomendasi tenaga kesehatan.

Jika ditemukan kelainan, penanganan selanjutnya perlu mengikuti hasil pemeriksaan dan kondisi pasien. 

“Sementara itu, terapi kanker serviks dapat mencakup operasi, kemoterapi, maupun radioterapi sesuai stadium penyakit,” imbuhnya.

Materi yang dipaparkan juga mencantumkan data kanker serviks di Indonesia. Mengacu pada sumber yang digunakan dalam presentasi, terdapat 36.964 kasus baru pada 2023, sedangkan sekitar 70 persen kasus ditemukan pada stadium lanjut.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjalani pemeriksaan tanpa harus menunggu munculnya keluhan.

Selain kanker serviks, edukasi di Uniba turut membahas kanker payudara, termasuk pengenalan gejala dan metode deteksi dini.

BACA JUGA:

YKI Balikpapan Ajak Mahasiswa Kenali Risiko Kanker Sejak Usia Muda - ibukotakini.com

Kanker payudara terjadi ketika sel-sel di jaringan payudara tumbuh secara tidak terkendali. Penyakit ini dapat bermula dari saluran susu atau lobulus, kemudian berkembang menembus jaringan di sekitarnya dan berpotensi menyebar ke bagian tubuh lain.

Meski demikian, tidak semua benjolan pada payudara merupakan kanker. Benjolan atau perubahan baru yang menetap tetap perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya.

Materi tersebut menekankan pentingnya mengenali perubahan pada payudara, melakukan pemeriksaan jika ditemukan kelainan, dan mendapatkan penanganan sesuai jenis serta stadium penyakit.

Ada tiga pendekatan deteksi dini yang diperkenalkan, yakni pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), pemeriksaan payudara klinis oleh tenaga kesehatan atau SADANIS, serta pemeriksaan pencitraan berupa mamografi atau USG sesuai indikasi.

SADARI membantu perempuan mengenali perubahan pada tubuhnya. Namun, pemeriksaan mandiri tidak menggantikan pemeriksaan medis apabila ditemukan benjolan atau perubahan yang mencurigakan.

Pemeriksaan klinis dan pencitraan dapat membantu mengevaluasi kelainan. Jika diperlukan, dokter akan melanjutkan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, termasuk melalui biopsi.

BACA JUGA:

YKI Balikpapan Gencarkan Deteksi Dini Kanker Lewat IVA dan Pap Smear - ibukotakini.com

Deteksi Dini Membantu Menentukan Penanganan

Materi edukasi kanker payudara juga menguraikan sejumlah faktor risiko, seperti pertambahan usia, jenis kelamin perempuan, riwayat kanker dalam keluarga, mutasi gen tertentu, berat badan berlebih, kurang aktivitas fisik, dan merokok.

Meski terdapat faktor risiko yang tidak dapat diubah, masyarakat tetap dapat meningkatkan kewaspadaan dengan mengenali perubahan tubuh dan berkonsultasi ketika menemukan kelainan.

Diagnosis dan penanganan kanker perlu disesuaikan dengan tipe penyakit, stadium, serta kondisi masing-masing pasien. Oleh sebab itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.

Edukasi kanker serviks dan kanker payudara di Universitas Balikpapan ini menekankan tiga pesan utama, yakni mengenali risiko, melakukan pencegahan, dan tidak menunda deteksi dini. ***