
Ketua TP PKK Balikpapan Nurlena, Ajak Kader Aktif Cegah dan Kenali TBC
- Kader PKK memiliki posisi strategis dalam mendukung pencegahan TBC
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Ketua Tim Penggerak PKK Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, mengajak kader PKK memperkuat peran dalam pencegahan dan penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui edukasi, deteksi dini, serta pendampingan pasien hingga pengobatan tuntas.
Nurlena mengatakan, upaya menekan penyebaran TBC tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Keterlibatan pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, keluarga, dan kader PKK hingga tingkat dasawisma diperlukan agar edukasi kesehatan menjangkau lebih banyak warga.
Hal tersebut disampaikan Nurlena saat membuka sosialisasi pencegahan TBC dan pembentukan Kelurahan Siaga TBC hasil kerja sama TP PKK Kota Balikpapan dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Balikpapan di Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Nurlena, kegiatan sosialisasi sejalan dengan Program Pokok PKK, khususnya program ke-7 tentang kesehatan dan program ke-10 tentang perencanaan sehat.
“Penanggulangan TBC memerlukan keterlibatan banyak pihak, bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan kader PKK,” ucapnya.
Nurlena menilai kader PKK memiliki posisi strategis dalam mendukung pencegahan TBC karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan lingkungan tempat tinggal warga.
BACA JUGA:
Gulirkan Tiga Program, TP PKK Balikpapan Luncurkan Griya Digital - ibukotakini.com
“Melalui jaringan PKK dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan hingga dasawisma, informasi mengenai gejala TBC, cara penularan, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan dapat disampaikan secara lebih luas,” tuturnya.
Ia berharap pembentukan Kelurahan Siaga TBC tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dilanjutkan dengan aktivitas nyata di lingkungan masyarakat.
Pemantauan warga, pembaruan data, edukasi berkelanjutan, dan koordinasi dengan puskesmas menjadi bagian penting untuk mendukung penemuan kasus lebih dini serta memastikan pasien memperoleh pendampingan.

Menurut Nurlena, kerja sama kader dengan tenaga kesehatan juga dapat membantu mengidentifikasi hambatan yang dihadapi pasien selama menjalani pengobatan.
“Kalau kita bekerja aktif dan bersama-sama, kita bisa memperbarui data serta meningkatkan keberhasilan penyembuhan,” menjadi pesan yang ditekankan dalam arahannya.
Salah satu tantangan penanggulangan TBC yang disoroti Nurlena adalah ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Ia mengatakan, sebagian pasien dapat merasa bosan mengonsumsi obat dalam waktu panjang. Ada pula yang menghentikan pengobatan karena merasa kondisinya sudah membaik, meskipun belum dinyatakan sembuh oleh tenaga kesehatan.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena pengobatan yang tidak dijalankan sesuai petunjuk medis dapat menyebabkan penyakit tidak tertangani dengan baik.
BACA JUGA:
Kualitas Udara Tidak Sehat, PKK Balikpapan Bagi 5.000 Masker di Jalan - ibukotakini.com
Nurlena mencontohkan, pasien yang telah menjalani pengobatan selama beberapa bulan terkadang merasa tidak perlu melanjutkannya ketika gejala mulai berkurang.
Karena itu, kader PKK diharapkan membantu mengingatkan pasien agar mengikuti jadwal pengobatan dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami kendala.
“Minum obat itu jangan setengah-setengah. Pengobatan harus dijalani sampai tuntas sesuai arahan tenaga kesehatan,” demikian penekanan dalam edukasi yang disampaikan.
Selain kepatuhan pengobatan, Nurlena mengingatkan masyarakat agar memahami cara penularan dan pencegahan TBC.
TBC merupakan penyakit menular yang terutama menyebar melalui udara ketika seseorang dengan TBC aktif di paru-paru mengeluarkan partikel infeksius, misalnya saat batuk, berbicara, atau bersin.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik.
Kondisi hunian dengan ventilasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penularan, terutama apabila terdapat kasus TBC aktif di dalam rumah dan ruangan kurang mendapatkan pertukaran udara.
Nurlena juga mendorong warga untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada TBC, seperti batuk berkepanjangan.
BACA JUGA:
PKK Balikpapan Berkebaya Semarakkan HUT RI - ibukotakini.com
Menurut dia, pengetahuan mengenai penyakit ini perlu terus diingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan gejala maupun menunda pemeriksaan.
Pihaknya turut menyoroti stigma yang masih melekat pada penderita TBC. Rasa malu dan kekhawatiran akan dikucilkan dapat membuat seseorang enggan memeriksakan diri atau menyampaikan kondisinya kepada keluarga.
Padahal, dukungan dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan agar pasien dapat menjalani pengobatan dengan baik.
Ia mengajak masyarakat membangun lingkungan yang peduli dan tidak mendiskriminasi penderita TBC. Edukasi yang tepat juga diperlukan agar warga memahami langkah pencegahan penularan tanpa harus menjauhi atau merendahkan pasien.
Melalui peran kader PKK, keluarga diharapkan mendapatkan informasi yang benar sekaligus dukungan untuk membantu anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan.
Nurlena menegaskan, keberhasilan penanggulangan TBC membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara masyarakat, kader, pemerintah, dan tenaga kesehatan.
“Harapannya pembentukan Kelurahan Siaga TBC di Balikpapan menjadi langkah nyata untuk memperkuat kesadaran masyarakat, mempercepat deteksi dini, serta meningkatkan kepatuhan pengobatan,” pungkasnya. ***
