Koordinator Wilayah BGN Balikpapan, Laila Suci Pradita
Balikpapan

Kolaborasi Jadi Kunci Rasa Aman MBG di Balikpapan

  • Cegah Kasus Keracunan, Dapur MBG Balikpapan Terapkan Standar Ketat
Balikpapan
Muhammad

Muhammad

Author

IBUKOTAKINI.COM - Setiap pagi, dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Balikpapan tampak ramai oleh aktivitas para relawan. Ada yang sibuk mengaduk panci besar berisi sayur, ada pula yang menata ratusan kotak makan sebelum diantar ke sekolah-sekolah. 

Dari balik kesibukan itu, ada sebuah pola kerja sama yang membuat program ini berjalan tanpa kendala berarti yaitu kolaborasi erat antara Badan Gizi Nasional (BGN), Dinas Kesehatan (Dinkes), dan masyarakat.

Koordinator Wilayah BGN Balikpapan, Laila Suci Pradita, menyebut kolaborasi menjadi kunci utama agar MBG di kota minyak bisa berjalan aman di tengah maraknya kasus keracunan di daerah lain. 

“Alhamdulillah sejauh ini aman, tidak ada kendala berarti. Semua dapur selalu dalam pantauan,” katanya saat dijumpai di dapur SPPG Brimob Polda Kaltim, Rabu 1 Oktober 2025.

Menurut Laila, setiap dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sejak awal diwajibkan menerapkan standar pengendalian risiko. 

Seluruh relawan dan pengelola pun harus mengikuti pelatihan penjamah makanan sebelum dapur beroperasi. 

“Ini langkah penting agar tidak ada celah yang berpotensi menimbulkan kasus keracunan. Di Balikpapan, sebelum running, semua unit SPPG harus melalui pelatihan itu dulu,” tandasnya.

BACA JUGA:

Pemkot Balikpapan Perketat Pengawasan Higienitas Makanan Sekolah - ibukotakini.com

Selain itu, pengawasan dilakukan berlapis, BGN juga melakukan monitoring internal, sementara Dinkes Balikpapan rutin melakukan inspeksi ke dapur-dapur. 

“Kami berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, mereka rutin turun. Kalau ada yang kurang, langsung dibina. Jadi semua berjalan sesuai standar,” jelas Laila.

Laila menyebut, saat ini Balikpapan memiliki 10 SPPG, delapan di antaranya sudah beroperasi di Balikpapan Selatan, sementara dua lainnya sedang dipersiapkan di Balikpapan Timur dan Tengah. 

Dari satu dapur itu, bisa mencakup 3.000 hingga 4.000 penerima manfaat.

"Kalo pas tahap awal biasanya dimulai dari 500 porsi dan bertahap meningkat sesuai kesiapan relawan," jelasnya

Terkait dapur SPPG di kawasan Royal Suite yang sempat berhenti beroperasi, Laila memastikan hal itu bukan karena masalah kebersihan, melainkan renovasi fasilitas. 

“Bukan ditutup permanen, hanya sementara agar dapurnya diperbaiki dulu. Kalau dipaksakan berjalan dalam kondisi tidak proper, justru bisa berisiko,” ungkapnya.

Lebih jauh, Laila mengatakan menjaga kepercayaan masyarakat menjadi prioritas utama. 

“Kami tidak hanya fokus pada distribusi, tapi juga pengawasan dan peningkatan kapasitas relawan. Harapannya, masyarakat bisa yakin makanan yang sampai ke anak-anak maupun penerima manfaat lainnya betul-betul aman, sehat, dan sesuai standar gizi,” imbuhnya. ***