Aktivitas pertambangan di Kalimantan Timur.
Ekbis

Kontrak dengan Berau Coal Berakhir, Pendapatan BUMA Turun

  • EBITDA Naik 8% Jadi US$69 Juta
Ekbis
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM – BUMA International Group berhasil mencatatkan peningkatan profitabilitas pada semester I 2026.

Meski pendapatan mengalami penurunan akibat berakhirnya sejumlah kontrak tambang dan penurunan aktivitas di beberapa lokasi operasi, perusahaan mampu meningkatkan EBITDA sebesar 8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$69 juta.

Sepanjang Januari-Juni 2026, pendapatan Grup tercatat sebesar US$693 juta atau turun 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Penurunan tersebut dipicu oleh berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, disertai ramp-down pada sejumlah operasi lainnya.

Kondisi tersebut turut menekan volume overburden removal menjadi 186 juta bank cubic meter (MBCM), turun 11 persen YoY, sementara produksi batu bara menyusut 16 persen menjadi 32 juta ton.

Namun, di luar lokasi tambang yang kontraknya berakhir maupun mengalami pengurangan aktivitas, operasi inti Grup justru menunjukkan pertumbuhan. 

Volume overburden removal meningkat sekitar 9 persen YoY, sedangkan produksi batu bara naik sekitar 4 persen YoY.

Peningkatan tersebut didukung oleh keandalan armada yang semakin baik dan kondisi cuaca yang lebih mendukung, ditandai dengan penurunan jam hujan di Indonesia sebesar 10 persen serta berkurangnya jumlah hari hujan di Australia sebesar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, rata-rata harga jual (average selling price/ASP) jasa kontraktor pertambangan meningkat 8 persen YoY berkat penyesuaian kontrak berbasis rise-and-fall maupun tier-price.

Efisiensi Operasional Dorong Pemulihan Margin

Peningkatan EBITDA menjadi US$69 juta dari US$64 juta pada semester I 2025 menunjukkan keberhasilan perusahaan memperbaiki margin dan meningkatkan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis.

Bahkan, jika tidak memperhitungkan lonjakan harga bahan bakar, EBITDA diperkirakan mendekati US$78 juta. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kinerja operasional masih tertahan oleh kenaikan biaya energi yang berada di luar kendali perusahaan.

Di sisi laba bersih, BUMA International masih membukukan rugi bersih sebesar US$50 juta. Meski demikian, angka tersebut telah menyusut 37 persen dibandingkan rugi bersih US$80 juta pada semester I 2025.

Perbaikan tersebut ditopang oleh keuntungan penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group (ACG) sebesar US$12 juta, penurunan depresiasi dan amortisasi senilai US$19,3 juta, serta peningkatan keuntungan selisih kurs bersih sebesar US$11 juta.

Namun demikian, manfaat tersebut sebagian tergerus oleh dampak negatif investasi Grup di 29Metals yang mencapai US$14,5 juta.

Belanja Modal Turun, Arus Kas Bebas Melonjak

BUMA International juga mencatat efisiensi belanja modal (capital expenditure/capex). Hingga semester I 2026, belanja modal turun drastis 67 persen menjadi US$37 juta dibandingkan US$111 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Efisiensi tersebut dilakukan melalui optimalisasi armada dan pengalihan aset dari site yang telah berhenti beroperasi. Sebagian besar belanja modal difokuskan untuk pemeliharaan armada guna menjaga keandalan operasional.

Strategi tersebut berdampak positif terhadap arus kas bebas (free cash flow) yang melonjak menjadi US$39 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan US$5 juta pada semester I 2025.

Pada kuartal II 2026, arus kas bebas yang telah dinormalisasi bahkan mencapai US$37 juta berkat disiplin belanja modal dan tidak adanya pengeluaran investasi tambahan.

Manajemen Optimistis Hadapi Semester II 2026

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan peningkatan EBITDA, pemulihan margin, dan penguatan arus kas bebas menjadi bukti bahwa langkah-langkah transformasi operasional yang dilakukan selama setahun terakhir mulai membuahkan hasil.

Menurutnya, optimalisasi tenaga kerja, peningkatan keandalan armada, serta efisiensi pemeliharaan berhasil menjaga kinerja perusahaan di tengah tekanan penurunan pendapatan dan kenaikan harga bahan bakar.

"Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas," ujar Iwan dalam pernyataan resmi dikutip Minggu, 2 Agustus 2026.

Kinerja ESG Meningkat, BIRU Perluas Peluang Kerja ke Jepang

Di bidang keberlanjutan, BUMA International mencatat penurunan intensitas emisi sebesar 4 persen dibandingkan kuartal I 2026. Dua lokasi operasional terbesar Grup di Indonesia bahkan berhasil menurunkan intensitas emisi masing-masing sebesar 6 persen dan 7 persen.

Selain itu, kontribusi pendapatan dari batu bara nontermal mencapai 20 persen dari total pendapatan Grup selama semester I 2026.

Sementara pada aspek sosial, PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU) memperluas akses bagi generasi muda Indonesia untuk bekerja sebagai Specified Skilled Worker di Jepang melalui kemitraan dengan lembaga penempatan tenaga kerja internasional. 

Program pelatihan dan sertifikasi yang dijalankan BIRU kini terintegrasi dengan proses penempatan kerja yang dikelola mitra internasional.***