Penguatan Strategi Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah (Rindekrafda) Kalimantan Timur 2026-2030 di Temindung Creative Hub, Rabu 13 Mei 2026.
Kabar Ibu Kota

Kontribusi Tembus Rp29 Triliun, Kaltim Serius Garap Ekraf

  • Resmikan Inkubasi Ekraf di Temindung Creative Hub
Kabar Ibu Kota
Robi Sugiarto

Robi Sugiarto

Author

IBUKOTAKINI.COM – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) semakin serius memperkuat sektor ekonomi kreatif (ekraf) sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi daerah. 

Melalui penyusunan Rencana Induk Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah (Rindekrafda) 2026-2030, Pemprov Kaltim menargetkan lonjakan kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni, menegaskan bahwa ekraf bukan lagi sekadar sektor pendukung, melainkan pilar diversifikasi ekonomi yang nyata bagi "Benua Etam".

Data menunjukkan tren positif kontribusi ekraf di Kalimantan Timur dalam beberapa tahun terakhir:

  • Tahun 2023: Ekraf menyumbang 5,61 persen terhadap PDRB Kaltim dengan nilai tambah mencapai Rp29,43 triliun. 
  • Tahun 2025: Angka ini diprediksi meningkat menjadi 6,19 persen. 

"Sektor kuliner masih mendominasi dengan nilai Rp18,16 triliun (61,70%), disusul fesyen Rp4,11 triliun (13,98%), dan kriya Rp2,91 triliun (9,90%)," papar Sri Wahyuni saat menjadi keynote speaker dalam agenda Penguatan Strategi Rindekrafda di Temindung Creative Hub (TCH), Rabu (13/5/2026).

BACA JUGA:

Ekraf Balikpapan Petakan 781 Pelaku Kreatif

Sri Wahyuni mengapresiasi keberadaan Temindung Creative Hub di eks Bandara Temindung Samarinda sebagai pusat kolaborasi.

Dengan tagline Connect, Collabs, Contribute tempat ini diharapkan menjadi kawah candradimuka bagi para kreator lokal. 

"Saya berharap Creative Hub ini bisa menjadi tempat inkubasi pelaku ekraf di Kaltim. Koneksi dan kolaborasi itu penting, tapi yang lebih utama adalah sejauh mana kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah," tegasnya.

Strategi 5 Tahun ke Depan: Fokus Subsektor Unggulan

Dalam penyusunan Rindekrafda 2026-2030, Pemprov Kaltim telah memetakan subsektor mana yang akan menjadi prioritas untuk memicu efek domino (multiplier effect):

  1. Subsektor Unggulan: Kuliner, Kriya, Wastra (Kain Tradisional), dan Aplikasi.
  2. Subsektor Potensial: Seni Pertunjukan, Fotografi, Videografi, Film, dan Musik.

"Kita harus tentukan subsektor mana yang akan didorong untuk men-trigger sektor lainnya. Misalnya, seni pertunjukan akan otomatis menarik sektor desain, musik, hingga fesyen. Tidak ada subsektor yang berdiri sendiri," tambah Sri.

Pemprov Kaltim mengimbau dukungan penuh dari pemerintah kabupaten/kota serta dunia usaha untuk mengawal ekosistem ekraf secara utuh. 

Fokus utama ke depan adalah memastikan kelancaran rantai pasok, mulai dari ketersediaan bahan baku di hulu hingga akses distribusi dan pemasaran di hilir.***