Kredit Perbankan Balikpapan Tembus Rp41,51 Triliun, Ditopang Proyek IKN

Kredit Perbankan Balikpapan Tembus Rp41,51 Triliun, Ditopang Proyek IKN

  • Penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja BI Balikpapan mencapai Rp41,51 triliun pada triwulan II 2026
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kinerja industri perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan kembali menunjukkan tren positif pada triwulan II 2026. 

Penyaluran kredit mencapai Rp41,51 triliun, tumbuh 17,66 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong meningkatnya investasi proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), hilirisasi industri, serta masih kuatnya optimisme dunia usaha.

Data tersebut mencakup wilayah Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser. Meski laju pertumbuhan sedikit melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 19,5 persen (yoy), nilai kredit tetap meningkat dari Rp40,71 triliun menjadi Rp41,51 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan pertumbuhan kredit yang tetap tinggi mencerminkan ketahanan sektor keuangan daerah di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat dinamika geopolitik.

"Pertumbuhan kredit yang tetap positif menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Hal ini juga menunjukkan optimisme pelaku usaha dan perbankan terhadap prospek ekonomi di wilayah kerja KPwBI Balikpapan," katanya pada Rabu. 29 Juli 2026.

BACA JUGA:

Kreatiforia 2026 Hadir di Balikpapan, Perempuan Kreatif Bangun Ekonomi - ibukotakini.com

Kredit Investasi Melonjak 44,34 Persen

Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit paling besar berasal dari kredit investasi yang melonjak 44,34 persen (yoy). Kenaikan ini dipicu berlanjutnya investasi pada proyek konstruksi dan hilirisasi industri, termasuk pembangunan tahap kedua IKN.

Porsi kredit investasi kini mencapai 39,35 persen dari total penyaluran kredit perbankan.

Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 5,95 persen (yoy) seiring daya beli masyarakat yang tetap terjaga. Adapun kredit modal kerja meningkat 3,78 persen (yoy) karena kebutuhan pembiayaan operasional pelaku usaha masih tinggi.

Robi menyebut, secara keseluruhan, pembiayaan produktif masih mendominasi portofolio kredit perbankan dengan pangsa 64,03 persen, sedangkan kredit konsumsi mencapai 35,97 persen.

“Jika dilihat berdasarkan lapangan usaha, penyaluran kredit masih terkonsentrasi pada sektor konstruksi, perdagangan, dan pertanian,” tukasnya.

BACA JUGA:

Transaksi QRIS BRI Melonjak 76%, Ekosistem Merchant Makin Kuat di Era Digital - ibukotakini.com

Sektor konstruksi menjadi penyerap kredit terbesar dengan pangsa 18,83 persen, disusul perdagangan 13,61 persen, dan pertanian 10,84 persen.

Menariknya, kredit di sektor konstruksi mencatat lonjakan tertinggi, yakni 176,77 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut didorong berlanjutnya pembangunan proyek hilirisasi industri dan percepatan pembangunan IKN Tahap II di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Selain itu, kredit sektor pertambangan juga meningkat 50,09 persen (yoy), sedangkan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,33 persen (yoy) seiring meningkatnya aktivitas logistik untuk mendukung distribusi barang.

“Struktur tersebut mencerminkan karakteristik ekonomi di wilayah kerja BI Balikpapan, di mana Balikpapan menjadi pusat perdagangan dan jasa, PPU sebagai kawasan utama pembangunan IKN, serta Kabupaten Paser yang bertumpu pada sektor pertanian,” imbuhnya.

BACA JUGA:

Hingga Juli 2026, PHK di Balikpapan Capai 392 Pekerja - ibukotakini.com

Kredit UMKM Turun Tipis, NPL Tetap Aman

Di tengah pertumbuhan kredit secara umum, penyaluran kredit kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tercatat sebesar Rp12,79 triliun, naik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp12,75 triliun.

Namun secara tahunan, kredit UMKM mengalami kontraksi 0,23 persen (yoy) setelah pada triwulan I 2026 masih tumbuh 1,1 persen (yoy).

Bank Indonesia menilai perlambatan tersebut dipengaruhi langkah perbankan yang lebih selektif dalam menjaga kualitas pembiayaan.

Hal itu terlihat dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) UMKM yang meningkat menjadi 4,2 persen, dari sebelumnya 3,9 persen. Meski naik, angka tersebut masih berada di bawah ambang batas sehat sebesar 5 persen.

Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit juga relatif stabil, yakni 30,80 persen, sedikit lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 30,73 persen.

BACA JUGA:

Irigasi Gunung Binjai Dibangun, Petani Balikpapan Berpeluang Panen 3 Kali - ibukotakini.com
 

DPK Naik Jadi Rp49,52 Triliun, Likuiditas Tetap Kuat

Selain penyaluran kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan perbaikan.

Pada triwulan II 2026, DPK perbankan mencapai Rp49,52 triliun, atau tumbuh 4,15 persen (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya sempat mengalami kontraksi tipis sebesar 0,3 persen (yoy).

Komposisi DPK masih didominasi tabungan dengan pangsa 55,65 persen, disusul giro sebesar 28,77 persen, dan deposito sebesar 15,58 persen.

Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 83,82 persen, sedikit lebih tinggi dibanding triwulan I 2026 sebesar 83,62 persen. Kondisi tersebut menunjukkan fungsi intermediasi perbankan di wilayah kerja BI Balikpapan tetap berjalan optimal. ***