
Kredit Perbankan Tumbuh 9,98 Persen, OJK: Investasi Pendorong Utama
- Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan Tumbuh 11,39 persen
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja intermediasi perbankan nasional tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga hingga April 2026.
Di tengah meningkatnya inflasi global dan volatilitas pasar keuangan, kredit perbankan tumbuh 9,98 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.755 triliun.
Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Agus Firmansyah, mengatakan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah berbagai tantangan eksternal yang memengaruhi perekonomian global.
"Sejalan dengan perkembangan tersebut, kinerja sektor jasa keuangan tetap solid. Intermediasi keuangan tumbuh positif dengan solvabilitas yang terjaga pada level tinggi," ujar Agus dalam keterangan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK.
BACA JUGA:
Rupiah Melemah, Pemerintah Lakukan Hal ini - ibukotakini.com
BBM dan Tiket Pesawat Kompak Naik, Inflasi Balikpapan Terkerek - ibukotakini.com
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 19,48 persen yoy. Sementara Kredit Konsumsi tumbuh 6,13 persen yoy dan Kredit Modal Kerja meningkat 6,04 persen yoy.
Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 15,51 persen yoy.
Adapun kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mulai menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif 0,16 persen yoy, meningkat dibandingkan Maret 2026 yang tercatat 0,12 persen yoy.
Berdasarkan kepemilikan bank, kredit yang disalurkan bank-bank BUMN tumbuh paling tinggi, yakni sebesar 14,35 persen yoy.
BACA JUGA:
Rupiah Sentuh Rp18.010, Ini Dampak dan Risiko Buru-Buru Beli Dolar - ibukotakini.com
Inflasi Kaltim Mei 2026 Naik Tipis, Harga Tiket Pesawat dan BBM Jadi Pemicu - ibukotakini.com
Sementara itu, produk kredit buy now pay later (BNPL) perbankan terus menunjukkan pertumbuhan pesat.
Hingga April 2026, baki debet kredit BNPL tumbuh 37,29 persen yoy menjadi Rp29,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 24,20 persen yoy pada Maret 2026. Jumlah rekening BNPL juga meningkat menjadi 31,76 juta rekening dari sebelumnya 30,81 juta rekening.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 11,39 persen yoy menjadi Rp10.077 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh giro yang naik 16,99 persen yoy, deposito tumbuh 8,65 persen yoy, dan tabungan meningkat 9 persen yoy.
Likuiditas industri perbankan juga tetap berada pada level memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 111,13 persen dan Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 25,39 persen, jauh di atas ambang batas masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Sementara Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 192,37 persen.
BACA JUGA:
Aset BPR dan BPRS Tembus Rp236,69 Triliun, OJK Dorong Perluasan Pembiayaan UMKM - ibukotakini.com
57 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah Dimerger Jadi 18 - ibukotakini.com
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,17 persen dan NPL net sebesar 0,84 persen. Loan at Risk (LaR) membaik menjadi 8,82 persen dibandingkan 8,94 persen pada Maret 2026.
Profitabilitas industri perbankan juga tetap terjaga dengan Return on Assets (ROA) sebesar 2,46 persen.
Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 23,97 persen setelah memperhitungkan pembagian dividen, menunjukkan ketahanan permodalan yang kuat untuk menyerap berbagai risiko.
Dalam kesempatan yang sama, OJK juga terus memperkuat upaya pemberantasan perjudian daring yang berdampak terhadap sektor keuangan.
Hingga saat ini, OJK telah meminta perbankan melakukan enhanced due diligence (EDD) dan/atau pemblokiran terhadap sekitar 33.836 rekening yang terindikasi terkait aktivitas perjudian daring berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital.
BACA JUGA:
Bingung Beli Emas Saat Harga Naik atau Turun? Ini Strategi yang Disarankan - ibukotakini.com
Tagihan Listrik Aman, Aktivitas Lancar dengan PLN Mobile di Awal Bulan - ibukotakini.com
Menurut OJK, konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut telah menjaga harga energi pada level tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer, sehingga meningkatkan volatilitas pasar keuangan dan ketidakpastian arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, aktivitas ekonomi domestik masih relatif terjaga. Sektor manufaktur kembali berada di zona ekspansi pada Mei 2026, inflasi tetap terkendali meskipun meningkat akibat tekanan harga energi global, dan neraca perdagangan masih mencatat surplus meski lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.***
