Murid-murid sekolah dasar di salah satu sekolah di Kabupaten Kutai Timur pada tahun ajaran baru.
Kutai Timur

Kualitas Udara Membaik, Mayoritas Sekolah di Kutim Kembali PTM Hari Ini

  • Kebijakan Berubah Jika Udara Kembali Memburuk
Kutai Timur
Ambarwati

Ambarwati

Author

IBUKOTAKINI.COM – Mayoritas sekolah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) Provinsi Kalimantan Timur kembali menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai Selasa (29/9/2026). Kebijakan ini diambil setelah kualitas udara di sebagian besar wilayah menunjukkan perbaikan dalam beberapa hari terakhir.

Namun, PTM belum diberlakukan secara menyeluruh. Sekolah di Bengalon, Busang, dan Muara Wahau masih menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kualitas udara di tiga kecamatan tersebut belum memenuhi kondisi yang diperlukan untuk kegiatan belajar di ruang kelas.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono mengatakan, keputusan tersebut mengacu pada hasil pemantauan kualitas udara yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim.

“Surat edaran PJJ dikeluarkan berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara oleh Dinas Kesehatan. Dari hasil tersebut, semua sekolah dapat melaksanakan pertemuan tatap muka mulai besok, kecuali di tiga kecamatan,” ujar Mulyono, Senin (28/9/2026).

BACA JUGA:

Pakar Usulkan Cara Atasi Karhutla di Lahan Gambut - ibukotakini.com

Keputusan ini menjadi perubahan setelah PJJ diberlakukan sejak 18 September 2026 sebagai respons terhadap dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Data terbaru Dinkes Kutim menunjukkan kualitas udara memang mengalami tren perbaikan dalam tiga hari terakhir, yakni 25-27 September 2026.

Rata-rata konsentrasi PM2.5 dalam ruangan (indoor) turun dari 46,7 mikrogram per meter kubik pada 25 September menjadi 27,3 mikrogram per meter kubik pada 27 September. Sementara PM10 indoor turun dari 92,4 menjadi 57,2 mikrogram per meter kubik.

Perbaikan juga terjadi pada pengukuran luar ruangan. Konsentrasi PM2.5 outdoor turun dari 50 menjadi 29,2 mikrogram per meter kubik. Adapun PM10 outdoor turun dari 100,4 menjadi 64,4 mikrogram per meter kubik.

BACA JUGA:

Karhutla Kaltim September Capai 2.505 Hektare - ibukotakini.com

Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, secara umum kualitas udara menunjukkan kecenderungan membaik.

“Secara umum kualitas udara kita menunjukkan tren yang semakin baik,” kata Yuwana, Senin (28/9/2026).

Meski demikian, kondisi tersebut belum merata. Berdasarkan pemantauan 27 September, terdapat enam puskesmas yang memenuhi baku mutu, sembilan masih dalam pemantauan, dua perlu mendapat perhatian, dan empat masuk kategori prioritas. Tiga puskesmas lainnya belum memiliki data pengukuran pada tanggal tersebut.

Sejumlah wilayah bahkan masih mencatat konsentrasi partikulat yang tinggi. Di Sepaso, misalnya, PM10 outdoor mencapai 174 mikrogram per meter kubik. Sementara di Wahau II tercatat 79 mikrogram per meter kubik dan Busang 88,5 mikrogram per meter kubik.

BACA JUGA:

Hotspot Kaltim Melonjak 1.260 Titik, Kabut Asap Selimuti Balikpapan - ibukotakini.com

Kondisi tersebut membuat kebijakan pembelajaran tidak dapat hanya didasarkan pada rata-rata kualitas udara tingkat kabupaten. Pemantauan harus mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah.

PTM Bisa Berubah Jika Udara Kembali Memburuk

Mulyono menegaskan, kebijakan PTM di Kutim bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti hasil pemantauan kualitas udara.

Untuk tiga kecamatan yang masih PJJ, pemerintah akan kembali mengevaluasi kondisi udara sebelum memutuskan pembukaan PTM.

“Untuk tiga kecamatan, kondisinya masih belum memungkinkan untuk tatap muka. Jadi masih dilakukan PJJ,” jelas Mulyono.

BACA JUGA:

Kasus ISPA di Kutim Tembus 1.015, Ini yang Dilakukan Pemerintah - ibukotakini.com

Disdikbud Kutim juga terus berkoordinasi dengan Dinkes. Jika hasil pemantauan berikutnya menunjukkan kualitas udara membaik secara konsisten, pemerintah daerah dapat menerbitkan surat edaran lanjutan untuk mengembalikan pembelajaran tatap muka di wilayah tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinkes. Kalau nanti kondisinya membaik, akan ada surat susulan,” katanya.

Sementara itu, Dinkes merekomendasikan pemantauan lebih lanjut di Sepaso, Teluk Pandan, Wahau II, dan Busang, termasuk investigasi sumber partikulat serta pengendalian debu dan polusi dari aktivitas luar ruangan.

Dengan demikian, mayoritas sekolah Kutim mulai kembali ke ruang kelas pada 29 September 2026, tetapi Bengalon, Busang, dan Muara Wahau masih PJJ. Perubahan kebijakan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan kualitas udara dan hasil evaluasi lintas sektor.***