Kepala BPH Migas Wahyudi Anas
Balikpapan

Kuota BBM Balikpapan 2026 Dipastikan Cukup, Antrean Masih Jadi Perhatian

  • Evaluasi akan dilakukan apabila konsumsi BBM masyarakat meningkat dan kebutuhan tambahan
Balikpapan
Muhammad S.J

Muhammad S.J

Author

IBUKOTAKINI.COM - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir 2026. 

Kepastian itu disampaikan Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam pertemuan bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dan Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Jumat (14/8/2026). 

“Kalau masalah kuota, insyaallah ini cukup,” kata Wahyudi. 

Meski demikian, BPH Migas membuka kemungkinan melakukan evaluasi apabila kebutuhan BBM masyarakat mengalami perubahan, terutama menjelang akhir tahun. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/bph-migas-pastikan-kuota-pertalite-balikpapan-cukup-hingga-akhir-tahun

“Kalau katanya nanti terjadi saat akhir tahun, perlu adjustment, ya otomatis kita evaluasi bersama,” imbuhnya. 

Berdasarkan data yang terungkap dalam pertemuan tersebut, kuota Pertalite Balikpapan pada 2026 ditetapkan sebanyak 51.868 kiloliter (KL). 

Pemkot Balikpapan sebelumnya mengusulkan tambahan kuota Pertalite sebanyak 125.171 KL pada Mei 2026. 

Namun, realisasi dari usulan tambahan tersebut baru mencapai 2.870 KL. Dengan demikian, terdapat selisih 122.301 KL antara usulan penambahan kuota dan realisasinya.

Sementara itu, kuota Bio Solar Balikpapan pada 2026 tercatat sebanyak 28.857 KL. 

Pemkot Balikpapan mengusulkan tambahan kuota Bio Solar sebanyak 5.453 KL. Dari usulan tersebut, alokasi tambahan yang disetujui sebanyak 687 KL. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/antrean-pertalite-balikpapan-mengular-lima-titik-spbu-dipersiapkan

Dengan demikian, masih terdapat selisih 4.765 KL antara usulan tambahan dan kuota yang disetujui. 

Wahyudi menjelaskan, kebutuhan kuota BBM tidak bersifat statis. Perubahannya mengikuti dinamika konsumsi masyarakat. 

Karena itu, pemerintah tidak menetapkan tambahan kuota secara kaku untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. 

“Kalau masalah kuota itu semua bergerak, karena ini sesuai dengan kebutuhan dinamika masyarakat,” jelas Wahyudi. 

Menurut dia, evaluasi akan dilakukan apabila konsumsi BBM masyarakat meningkat dan kebutuhan tambahan kuota kembali muncul. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/antrean-bbm-bersubsidi-di-balikpapan-segera-diurai-tambah-titik-layanan

“Jika kita ngomong A, nanti belum tentu akhir tahun A, nanti salah lagi kita,” pungkasnya. 

Selain persoalan kuota, BPH Migas menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat sebagai salah satu faktor yang memengaruhi antrean Pertalite di sejumlah SPBU Balikpapan. 

Wahyudi mengatakan, sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi mulai beralih menggunakan BBM bersubsidi setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan. 

Perbedaan harga antara Pertalite dan Pertamax RON 92 juga menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan pola konsumsi tersebut. 

Saat ini, harga Pertalite tercatat Rp10.000 per liter, sedangkan Pertamax RON 92 mencapai Rp16.300 per liter. 

“Nah, ini kan karena pola konsumsi masyarakat yang semula nonsubsidi menjadi subsidi. Artinya, gerakan ini mulai saat BBM nonsubsidi naik harganya,” ujar Wahyudi. 

BPH Migas, kata dia, terus melakukan simulasi dan evaluasi agar pelayanan BBM di Balikpapan dapat menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan masyarakat. 

“Kita terus simulasikan terus agar sebaiknya kita sama-sama. Insyaallah, untuk pelayanan BBM Kota Balikpapan kita jaga,” pungkasnya. ***