
Kutim Incar Investasi Rp71 Triliun, Hilirisasi Batu Bara dan Sawit Dikebut
- BCIP dan KEK Maloy Jadi Andalan
Kabar Ibu Kota
IBUKOTAKINI.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, membidik investasi Rp71 triliun melalui pengembangan dua kawasan industri.
Investasi tersebut menyasar hilirisasi batu bara menjadi metanol dan pengembangan industri berbasis kelapa sawit, dengan kegiatan yang diproyeksikan mulai berjalan pada 2029 atau 2030.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyebutkan, dua kawasan yang menjadi sasaran investasi tersebut adalah Kawasan Industri BCIP dengan nilai investasi Rp41 triliun dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy dengan target Rp30 triliun.
"Proyek gasifikasi batu bara ini akan dikembangkan di dua kawasan utama yang bergerak di bidang yang sama, yaitu Kawasan Industri BCIP dengan nilai investasi sebesar Rp41 triliun dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy dengan target investasi Rp30 triliun," ujar Ardiansyah, Kamis (29/10/2026).
BACA JUGA:
Waktu Sisa 1,5 Bulan, APBD Kutim 2026 Baru Terserap 46,75 Persen - ibukotakini.com
Menurut dia, pengembangan kedua kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi ekonomi dan energi di Kutim. Daerah ini memiliki potensi besar dari sektor perkebunan kelapa sawit maupun pertambangan batu bara.
Ardiansyah menilai, kelapa sawit berpeluang mendukung transisi energi, termasuk melalui program bahan bakar biodiesel B50 yang didorong Presiden. Program tersebut memadukan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar.
Selain mengembangkan perkebunan, Pemkab Kutim telah melaksanakan peletakan batu pertama proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kawasan Industri BCIP.
Andalkan Sawit dan Hilirisasi Batu Bara
Ardiansyah menjelaskan, pengembangan industri tersebut sejalan dengan rancangan besar pembangunan Kutim yang disepakati sejak 2001, ketika Awang Faroek Ishak memimpin kabupaten tersebut.
BACA JUGA:
Jalan Desa Masih Tanah, Wagub Kutim Pertanyakan CSR Migas - ibukotakini.com
Sejak saat itu, perkebunan kelapa sawit berkelanjutan menjadi salah satu fokus pembangunan daerah. Kutim juga memiliki industri pertambangan batu bara berskala besar, termasuk PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Kutim, kata Ardiansyah, tercatat sebagai daerah dengan perkebunan kelapa sawit terluas di Kalimantan Timur. Daerah ini juga memiliki banyak perusahaan perkebunan sawit.
Tidak hanya mengandalkan penjualan hasil perkebunan, masyarakat dan koperasi setempat mulai mengembangkan produk turunan sawit. Mereka mengekspor cangkang dan lidi sawit ke sejumlah negara, termasuk India dan Pakistan.
Pengembangan industri hilir diharapkan memperluas pemanfaatan sumber daya alam sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
BACA JUGA:
Tak Perlu Muter Kementerian, Bahlil Siapkan Izin Migas Satu Pintu - ibukotakini.com
Pemkab Kutim Waspadai El Nino dan Karhutla
Di tengah rencana pengembangan investasi, Ardiansyah mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan dan mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.
Ia menyoroti potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang dapat memengaruhi kondisi lahan perkebunan. Risiko kebakaran di sekitar wilayah operasional perkebunan juga perlu diantisipasi.
Menurut dia, kebakaran dapat dipicu kelalaian manusia maupun aktivitas yang tidak disengaja. Karena itu, seluruh pihak perlu meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pengembangan kawasan industri dan perkebunan, lanjutnya, perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.***
