Upaya Pemkab Kutim canangkan swasembada beras.
Kutai Timur

Kutim Sukses Cetak 400 Hektare Sawah Baru

  • Target 1.106 Hektare Dimulai Tahun 2025
Kutai Timur
Is Wahyudi

Is Wahyudi

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menunjukkan langkah nyata menuju kemandirian pangan. Pemerintah Kabupaten Kutim berhasil mencetak sekitar 400 hektare sawah baru dari target awal 1.106 hektare dalam program cetak sawah rakyat yang telah berjalan sejak tahun lalu.

Program tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkab Kutim untuk mengejar swasembada beras sekaligus menjaga kestabilan ekonomi masyarakat di tengah tingginya ketergantungan pasokan pangan dari luar Kalimantan Timur (Kaltim).

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim melalui Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Bohari, mengatakan capaian tersebut menjadi fondasi penting dalam pengembangan sektor pertanian pangan di Kutim.

“Hingga akhir tahun lalu sudah tercetak kurang lebih 400 hektare. Memang ada beberapa kendala teknis di lapangan sehingga program dilanjutkan kembali tahun ini,” ujar Bohari, dalam pernyataan resmi dikutip Kamis (28/5/2026).

BACA JUGA:

Bekas Tambang KPC Disulap Jadi Kebun Jagung - ibukotakini.com

Penduduk Kaltim Tembus 4 Juta Jiwa, Laju Pertumbuhan Melambat - ibukotakini.com

Saat ini, program cetak sawah kembali dilanjutkan dengan target hampir 600 hektare tambahan. Kontrak pekerjaan disebut telah ditandatangani sekitar dua pekan lalu dan kini memasuki tahap awal pelaksanaan atau MC 0.

“Yang dilanjutkan hampir 600 hektare. Kontraknya sekitar tiga bulan dan diusahakan selesai dalam waktu tersebut,” katanya.

Hamparan sawah baru tersebut tersebar di sejumlah wilayah potensial pertanian seperti Bengalon, Busang, Sandaran, Susuk, Kaubun hingga Kombeng. Program ini didukung pendanaan dari APBN serta skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), termasuk pendampingan lintas sektor bersama TNI.

Meski begitu, Bohari mengakui tidak seluruh target awal dapat direalisasikan karena sejumlah lahan terkendala perizinan dan kondisi topografi yang kurang memungkinkan untuk dijadikan sawah produktif. Karena itu, setiap lokasi terlebih dahulu melewati tahapan survei investigasi dan desain (SID) sebelum pengerjaan fisik dilakukan.

BACA JUGA:

LPH DPKH Kaltim Percepat Akreditasi Jaminan Halal Produk Hewani - ibukotakini.com

Siasat Kutai Timur Hadapi Penurunan Industri Tambang Batu Bara - ibukotakini.com

Tak berhenti di situ, DTPHP Kutim juga telah mengusulkan tambahan hampir 700 hektare cetak sawah baru untuk tahun mendatang. Usulan tersebut bahkan sudah memasuki tahap verifikasi.

Menurut Bohari, keberhasilan program cetak sawah menjadi kunci penting memperkuat ketahanan pangan daerah. Apalagi selama ini Kutim masih sangat bergantung pada pasokan beras dari luar daerah.

“Kalau program ini berjalan konsisten setiap tahun dan petani langsung menanam setelah lahan dibuka, maka perlahan target swasembada bisa dicapai,” ujarnya.

Di tengah gempuran alih fungsi lahan dan tingginya minat masyarakat terhadap perkebunan sawit, Pemkab Kutim optimistis sektor pertanian pangan tetap memiliki masa depan menjanjikan.

BACA JUGA:

Pemkot Balikpapan Evaluasi Pertanian Gunung Binjai, Luas Tanam Naik - ibukotakini.com

Pemkab Kutim Asuransikan Ribuan Hektare Sawah, Lindungi Petani - ibukotakini.com

Bohari menyebut produktivitas sawah di Kutim rata-rata mampu menghasilkan lebih dari 3,5 ton gabah per hektare dalam satu musim tanam. Bahkan di wilayah Kaubun, hasil panen pernah mendekati 6 ton per hektare.

Jika petani mampu melakukan dua kali musim tanam dalam setahun, maka satu hektare sawah dapat menghasilkan sekitar 7 ton gabah. Dengan asumsi harga beras Rp12 ribu per kilogram, nilai ekonomi yang dihasilkan dinilai cukup kompetitif dibanding sektor perkebunan rakyat.

Namun tantangan terbesar pertanian padi, kata dia, bukan hanya soal produksi melainkan kepastian pasar dan penyerapan hasil panen petani.

“Kadang petani selesai panen, gabahnya belum tersalurkan. Ini yang harus kita kawal bersama agar petani tetap semangat menanam,” katanya.

BACA JUGA:

Basuki Hadimuljono Puji Hasil Panen Padi Gogo di Muara Jawa - ibukotakini.com

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah mulai mendorong penguatan hilirisasi pangan melalui rencana pembangunan gudang atau fasilitas Bulog di Kutim. Fasilitas itu nantinya diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani lokal.

Seiring meningkatnya produksi pangan, geliat beras lokal Kutim juga mulai tumbuh. Beras produksi Kaubun dan sejumlah desa lainnya kini mulai dipasarkan hingga ke luar daerah, menjadi sinyal positif kebangkitan sektor pangan Kutai Timur.