
Limbah Jadi Berkah, Inovasi Pertamina Ubah Wajah Muara Rapak
- Limbah Jadi Solusi, Bukan Masalah
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Di tengah padatnya permukiman dan persoalan kota besar. Ada beberapa persoalan yang muncul seperti keterbatasan air bersih, mahalnya pupuk, serta tumpukan sampah rumah tangga.
Permasalahan lingkungan yang dulu dianggap rumit kini berbalik menjadi sumber manfaat. Melalui inovasi Waste to Value dari Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Integrated Terminal (IT) Balikpapan. Warga Kelurahan Muara Rapak bisa tersenyum legah.
Dari program Kampung Pangan Berseri, Pertamina mengajak masyarakat untuk menatap persoalan lingkungan dari sudut pandang baru. Yaitu limbah bukan akhir dari siklus hidup bahan, melainkan awal dari potensi bernilai ekonomi.
“Lewat inovasi Waste to Value di Kampung Pangan Berseri, kami ingin membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan seiring dengan peningkatan taraf hidup masyarakat,” ungkap Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, dalam keterangannya, pada Sabtu, 11 Oktober 2025.
Limbah Jadi Solusi
Program ini berawal dari kondisi lingkungan Muara Rapak yang memprihatinkan. Sampah menumpuk di sudut-sudut gang, limbah rumah tangga mencemari air, sementara biaya pupuk dan air bersih terus meningkat. Melalui pendekatan teknologi ramah lingkungan, Pertamina IT Balikpapan memperkenalkan sejumlah inovasi yang tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi warga.
Salah satu terobosan andalan adalah Enzymatic Microorganism Oil Catcher (EMO) teknologi berbasis bakteri Bacillus amyloliquefaciens yang berfungsi mengurai limbah minyak dan lemak. Teknologi ini mampu menurunkan tingkat kekeruhan air limbah dari 3,75 NTU menjadi 1,7 NTU, serta menekan kadar E. coli secara signifikan.

Selain meningkatkan kualitas air, penerapan EMO juga menghemat biaya perawatan instalasi pengolahan limbah hingga Rp16 juta setiap enam bulan. Air hasil olahan yang lebih bersih pun dapat digunakan kembali untuk kebutuhan non-konsumsi, memperkecil ketergantungan warga terhadap pasokan air bersih yang kian terbatas.
Tak berhenti di situ, Pertamina juga mendorong pengolahan sampah organik menjadi pupuk ECOMIX. Dalam setahun, sekitar 1,2 ton sampah organik berhasil diubah menjadi pupuk yang digunakan untuk pertanian pekarangan dan hidroponik warga. Dari program ini, biaya pembelian pupuk berkurang hingga Rp1,38 juta per tahun.
Kreativitas warga juga didukung dengan penerapan sistem Rainwater Harvesting, yakni pemanenan air hujan yang dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan kebutuhan sehari-hari. Sistem ini mampu menghemat pengeluaran air hingga Rp340 juta per tahun angka yang sangat berarti bagi lingkungan padat penduduk seperti Muara Rapak.
Program Kampung Pangan Berseri tak hanya mengubah pola pikir warga terhadap limbah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya kemandirian pangan dan pengelolaan sumber daya air. Dari hasil pertanian dan hidroponik yang dikembangkan, omzet warga meningkat hingga Rp108,8 juta per tahun.
Inovasi berkelanjutan yang diterapkan warga Muara Rapak membawa dampak positif yang terukur. Setiap tahunnya, program ini mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 115,97 ton CO₂eq dan menyerap karbon hingga 16,35 ton CO₂eq.
Lurah Muara Rapak, Bima Wibisono, mengatakan, program ini membuka ruang partisipasi yang inklusif. Lansia, ibu rumah tangga, penyandang disabilitas, dan masyarakat pra sejahtera ikut berperan dalam kegiatan urban farming dan pengelolaan sampah.
“Program Kampung Pangan Berseri bukan hanya contoh inovasi lingkungan, tetapi juga wujud nyata pemberdayaan sosial,” katanya.
Salah satu warga RT 18 Kelurahan Muara Rapak, Sira, mengungkapkan dulu sampah jadi beban, sekarang justru jadi sumber penghasilan.
“Kami jadi lebih sadar pentingnya menjaga lingkungan karena langsung terasa manfaatnya.”
Atas berbagai inovasi dan dampak sosial-lingkungan yang nyata, Pertamina Patra Niaga IT Balikpapan berhasil meraih PROPER Emas 2024 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) penghargaan tertinggi dalam bidang pengelolaan lingkungan berkelanjutan. ***
