Mahfud MD menyoroti ruang dialog publik yang tidak kondusif. (@mohmahfudmd)
Tren

Mahfud MD Soroti Merosotnya Kesantunan Dialog Publik

  • Dua Narsum Walk Out Saat Siaran Langsung
Tren
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan periode 2019–2024, Mahfud MD, menyesalkan merosotnya kualitas dialog interaktif di ruang publik. 

Ia menilai, forum yang seharusnya menjadi wadah perdebatan rasional justru berubah menjadi arena adu teriak.

“Belakangan ini dialog interaktif sudah sering brutal, saling potong pembicaraan sambil berteriak-teriak. Bahkan ada narasumber yang saling mendekati secara fisik seperti akan berkelahi. Ini sudah tidak sehat, mempertontonkan kekerasan,” kata Mahfud lewat unggahan di media sosial, pekan ini.

BACA JUGA:

Wagub Klaim Luas Lahan Sawah Naik 2 Kali Lipat

Pernyataan itu menanggapi dua peristiwa yang mencuri perhatian publik. Pertama, sikap peneliti senior LIPI, Hermawan Sulistyo, yang menyatakan enggan hadir lagi di podcast Indonesia Lawyers Club (ILC). 

Kedua, langkah Rocky Gerung meninggalkan forum “Rakyat Bersuara” ketika acara masih berlangsung. Keduanya, menurut Mahfud, merasa forum dialog tak lagi kondusif dan kehilangan kesantunan.

Respons warganet pun berhamburan. Sejumlah pengikut Mahfud di media sosial menilai kondisi ini memang disengaja produsen acara televisi demi mengejar sensasi. “Semakin brutal menurut mereka akan semakin menarik. Seperti acara talk show Jerry Springer di Amerika,” tulis akun @TatoWijo***.

Ada pula yang menuding perilaku buzzer politik ikut memperkeruh suasana. “Yang membuat dialog brutal rata-rata datang dari buzzer Jokowi dan keluarganya. Mereka menyerang siapa saja yang menyinggung Jokowi, tanpa logika waras dan etika,” ujar akun @mend_ema***.

BACA JUGA:

IHSG Tergelincir 1,06 Persen, Asing Catat Net Sell Rp1 Triliun

Sebagian lain menilai langkah walk out Rocky Gerung justru menunjukkan kelasnya. “Rocky meninggalkan forum dengan argumen yang baik, sementara Prof. Hermawan terkesan kalah argumen karena membela institusi,” cuit akun @idhum***.

Kekhawatiran lebih jauh datang dari akun @dwi_bro***. Ia mengingatkan, budaya adu teriak di televisi berpotensi menular ke ruang sosial yang lebih luas. 

“Dimulainya dari forum resmi yang ditonton jutaan orang, sangat mungkin berkembang di jalanan, di kampung, hingga sawah. Budaya dialog bisa berganti jadi budaya kekerasan,” tulisnya.

Mahfud menutup dengan seruan agar ruang publik kembali ke khitahnya: sarana pendidikan politik, bukan sekadar tontonan konflik. ***