Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati, mengatakan Memasuki Ramadan, untuk Jaga Pola Makan Seimbang
Balikpapan

Memasuki Ramadan, Dinkes Balikpapan Ingatkan Jaga Pola Makan

  • Sejumlah penyakit yang biasanya mendominasi selama Ramadan antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta hipertensi atau tekanan darah tinggi
Balikpapan
Ambarwati

Ambarwati

Author

IBUKOTAKINI.COM – Memasuki bulan suci Ramadan, Dinas Kesehatan Kota (Dinkes) Balikpapan mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan pola makan demi menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa. 

Salah satu yang ditekankan adalah mengurangi konsumsi gorengan serta makanan dan minuman manis secara berlebihan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, mengingatkan bahwa gorengan kerap menjadi pemicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari batuk hingga meningkatnya tekanan darah. 

Selain itu, konsumsi minuman dingin dan makanan manis juga perlu dibatasi, terutama saat kondisi tubuh sedang kurang fit.

“Gorengan itu nomor satu yang harus dihindari. Minum es juga, apalagi kalau berlebihan. Kalau merasa ada gangguan kesehatan, sebaiknya perbanyak istirahat supaya ibadah puasa bisa berjalan lebih maksimal,” terang Alwi, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, sejumlah penyakit yang biasanya mendominasi selama Ramadan antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta hipertensi atau tekanan darah tinggi. 

BACA JUGA:

Pembangunan RS dan Stunting Fokus Program Kesehatan 2027 - ibukotakini.com

Pola makan yang tidak seimbang, khususnya konsumsi gorengan dan makanan asin, dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus hipertensi.

“Hipertensi bisa dipicu dari gorengan yang terlalu banyak, juga makanan asin. Akhirnya tekanan darah naik,” jelasnya.

Alwiati menyatakan perhatian khusus bagi penderita penyakit kronis, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Di mana pasien untuk tetap menjaga keseimbangan asupan makanan serta tidak menghentikan konsumsi obat selama Ramadan.

“Obat-obatan ini bersifat seumur hidup, tidak boleh dilepas. Saya imbau masyarakat tetap disiplin agar puasa bisa dijalani dengan lebih khidmat,” katanya.

Sementara itu, untuk kasus ISPA hingga Februari 2026 masih tergolong rendah, dengan sekitar 7.000 kasus tercatat. Alwi menjelaskan, ISPA memiliki tren yang fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca serta perilaku masyarakat.

“Selama masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga pola makan, serta melakukan isolasi mandiri dan memakai masker saat sakit, penyebaran penyakit bisa ditekan,” imbaunya. ***