
Mengapa Balikpapan Tak Lakukan Penyulingan Air Laut? Begini Kata PTMB
- Wacana Penyulingan Air Laut Mulai Tahun 2014
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM – Meski sudah berdiri lebih dari satu abad, Kota Balikpapan masih menghadapi persoalan klasik: kesulitan menyediakan air bersih buat warganya.
Kualitas air yang buruk, air mengalir secara bergiliran, atau belum meratanya sambungan ke rumah-rumah warga, merupakan persoalan sehari-hari yang dirasakan masyarakat.
Perusahaan daerah penyedia air minum yang bersalin rupa menjadi Perusahaan Umum Daerah Tirta Manuntung Balikpapan disingkat PTMB, masih mengandalkan air hujan sebagai ‘bahan baku’ utama.
Air tadah hujan itu ‘ditampung’ oleh Waduk Manggar di Kecamatan Balikpapan Utara, dan Waduk Teritip di Kecamatan Balikpapan Timur. Keduanya menghasilkan kapasitas air bersih sekitar 1.450 liter per detik.
BACA JUGA:
Ancaman El Nino, Produksi Air Balikpapan Terpangkas 25 Persen Mulai Juni - ibukotakini.com
Kebocoran Distribusi Air Berulang, Pemkot Balikpapan Revitalisasi Pipa Induk - ibukotakini.com
Sebagai kota yang berada di pesisir, tentu banyak pertanyaan. Mengapa Balikpapan tidak memanfaatkan air laut yang melimpah sebagai bahan baku?
Mengapa negara - negara di padang pasir seperti Arab Saudi tidak kekurangan air bersih? Bahkan mereka mampu melayani jutaan orang tanpa kekurangan?
Pertanyaan senada diungkapkan seorang warga threads @juli_salsabila dalam diskusi terbuka yang difasilitasi Tenaga Ahli Humas PTMB, Adelina, 29 Juni 2026.
Begini pertanyaannya: “Ibu, kalau salah satunya problemnya sumber air baku. Opsi penyulingan air laut yang pernah dibahas itu emang berat banget realisasinya ya Bu? Kendala investasi, anggaran pemerintah? Dan apakah bakalan berdampak pada harga air yang akan sangat tinggi? Mohonn penjelasannya ibu.”
BACA JUGA:
Ujian Warga Balikpapan: Air, Debu dan Listrik - ibukotakini.com
Ancaman El Nino, PTMB Siapkan Strategi Penyediaan Air di Balikpapan - ibukotakini.com
Menjawab pertanyaan itu, Adelina menyebut PTMB telah mengkaji opsi pemanfaatan teknologi desalinasi dengan mengundang sejumlah perusahaan untuk memaparkan metode dan skema penerapannya.
“Namun, hasil kajian menunjukkan bahwa biaya investasi dan operasionalnya masih sangat tinggi, sehingga Harga Pokok Produksi (HPP) air menjadi mahal. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan tarif air melampaui ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah (Perda),” jawab Adelina.
Karena itu, PTMB saat ini masih memprioritaskan pengembangan sumber air baku yang lebih efisien, berkelanjutan, dan tetap menjaga keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
Sebagaimana dilaporkan media ini, pada tahun 2024 PTMB melakukan seleksi perusahaan-perusahaan yang akan berpartisipasi dalam proyek desalinasi air laut.
BACA JUGA:
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, mengungkapkan ada enam perusahaan swasta yang mengajukan proposal menggarap proyek desalinasi.
Perusahaan-perusahaan itu anatra lain berasal dari Singapura, dan Timur Tengah. Mereka akan bertanggung jawab atas pembuatan Detail Engineering Design (DED). Sementara PTMB mengkaji kelayakan dan analisis finansial dari proyek tersebut.
"Termasuk kajian yang paling penting diperhatikan adalah berapa hitung harga pokoknya. Sehingga penjualannya tidak melebihi batas atas yang ditentukan oleh pemerintah," jelas Yudhi Saharuddin pada Selasa, 30 Juli 2024.
Namun rencana desalinasi air laut sebenarnya bukan isu baru. Wacana menyuling air payau menjadi air siap minum sudah ada sejak tahun 2014.
Wali Kota saat itu, M Rizal Effendi mengklaim sudah ada investor yang tertarik untuk melakukan kerjasama proses desalinasi air laut.
“Saat ini kerjasama proses desalinasi air laut sedang dalam tahap pengkajian oleh pihak PDAM, rencananya investornya pun berasal dari daerah kita sendiri,” kata Rizal sebagaimana dilansir kanal Pemerintah Kota Balikpapan, Kamis, 9 Oktober 2014.
Sebuah perusahaan swasta, PT Inti Sukses Bersama disebut sudah melakukan pra - feasibility study (studi kelayakan) yang memungkinkan proyek desalinasi dimulai tahun 2017.
Namun hampir sepuluh tahun berselang, wacana itu hanya terwujud di atas kertas. ***
