
Panen Kepiting Soka Warga Tanjung Seloka Terus Meningkat
- Manfaatkan Program TJSL PLN UIP KLT
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM – Desa Tanjung Seloka, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, kini menjadi contoh transformasi ekonomi berbasis pesisir.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (PLN UIP KLT) mendorong masyarakat nelayan beralih dari pola tangkap tradisional menuju budidaya kepiting soka yang lebih berkelanjutan dan bernilai tambah.
Sebelumnya, nelayan setempat menggantungkan hidup sepenuhnya pada hasil tangkapan kepiting bakau dari alam.
Ukuran kepiting yang relatif kecil dan harga jual yang rendah membuat pendapatan mereka sulit meningkat serta tidak menentu.
Melalui Program Desa Berdaya yang dimulai pada 2024, PLN UIP KLT menghadirkan inovasi pemanfaatan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) untuk membentuk terumbu karang buatan dan rumah ikan (Bioreef Block).
BACA JUGA:
PLN UID Kaltimra Sukses Jaga Kelistrikan Selama Masa Siaga RAFI 2026 - ibukotakini.com
Langkah ini bertujuan menjaga ekosistem laut sekaligus memperkuat sumber daya perikanan sebagai fondasi ekonomi masyarakat pesisir.
Memasuki 2025, program berlanjut dengan penguatan ekonomi melalui pengembangan demplot budidaya kepiting soka dan penggemukan kepiting menggunakan metode Recirculating Aquaculture System (RAS).
Metode ini menjadi solusi atas rendahnya nilai jual kepiting hasil tangkapan, sekaligus membuka peluang usaha baru yang lebih stabil.
Ketua Kelompok Nelayan “Seloka Crabs”, Irhamsyah, mengaku merasakan langsung dampaknya.
BACA JUGA:
Tarif Listrik Tak Naik, Pemerintah Jaga Daya Beli Warga - ibukotakini.com
“Dulu kami hanya menjual kepiting apa adanya, ukurannya kecil dan harganya rendah. Sekarang, setelah dibudidayakan dan digemukkan, nilainya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti,” ujarnya.
Program tersebut dijalankan melalui pelatihan teknis, pendampingan intensif, serta penyediaan sarana budidaya.
Masyarakat tidak hanya dikenalkan pada teknologi, tetapi juga dibekali kemampuan pengelolaan usaha yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Hasilnya mulai terlihat. Sepanjang 2025, total produksi budidaya mencapai sekitar 90 kilogram, dengan produksi yang kini stabil di kisaran 30 kilogram per bulan.
BACA JUGA:
Swardi Tandiring Sebut Nelayan Teritip Terbatas Akses - ibukotakini.com
General Manager PLN UIP KLT, Basuki Widodo, menegaskan bahwa melalui program TJSL, PLN tidak hanya berperan dalam menyediakan listrik, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut potensi pesisir Tanjung Seloka sangat besar dan perlu dikembangkan dengan pendekatan yang memberi nilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.
Keberhasilan program ini juga berdampak pada pembukaan peluang kerja, penguatan kelembagaan kelompok nelayan, serta meningkatnya minat masyarakat untuk mengembangkan usaha serupa.
Budidaya kepiting soka kini menjadi salah satu alternatif sumber penghasilan yang menjanjikan di Desa Tanjung Seloka.
BACA JUGA:
Dari sisi lingkungan, penerapan metode RAS memungkinkan budidaya dilakukan secara efisien tanpa menekan populasi kepiting di alam, sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Pada 2026, PLN UIP KLT melanjutkan Program Desa Berdaya Tanjung Seloka dengan memperkuat pilar lingkungan dan ekonomi.
Kegiatan meliputi pelatihan dan penyuluhan lingkungan, penanaman pohon, serta dukungan alat produksi bagi UMKM guna memperluas dampak ekonomi yang telah terbentuk.
Transformasi di Tanjung Seloka menjadi bukti bahwa pengelolaan potensi lokal dengan pendekatan yang tepat mampu menciptakan perubahan nyata dan menghadirkan harapan baru bagi masyarakat pesisir.***
