
Pasokan Kurang, Cabai Rawit Penyumbang Inflasi Balikpapan
- BI Balikpapan catat inflasi tahunan 3,93% dan 4,18% di atas nasional akibat El Nino
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Tekanan harga pangan kembali menghantam kawasan penyangga IKN. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kompak naik pada September 2026.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menyebut Kota Balikpapan mencatatkan inflasi 0,08% (mtm), sementara PPU melesat lebih tinggi 0,56% (mtm).
"Inflasi terutama disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, akibat menurunnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan karena dampak El Nino," tegas Robi dalam rilis resmi, 2 Oktober 2026.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/jaga-harga-pangan-gerakan-pangan-murah-hadir-di-balikpapan
IHK Kota Balikpapan mengalami inflasi 3,93% (yoy) dan Kabupaten PPU 4,18% (yoy). Keduanya di atas inflasi nasional September 2026 yang sebesar 3,28% (yoy).
Jika dibandingkan regional Kaltim, inflasi Balikpapan masih di bawah gabungan empat kota di Kaltim yang sebesar 3,98% (yoy), sedangkan PPU justru di atasnya.
Secara tahun kalender, inflasi Balikpapan Januari-September 2026 tercatat 2,55% (ytd) masih aman dalam sasaran nasional 2,5%±1%. Namun PPU sudah 4,11% (ytd) dan resmi keluar dari rentang sasaran nasional.
BI merinci, inflasi Balikpapan bersumber dari kelompok makanan, minuman, tembakau dengan andil 0,15% (mtm).
Lima komoditas penyumbang inflasi tertinggi Balikpapan. Di antaranya cabai rawit disebabkan pasokan seret dari Jatim dan Sulsel, Kangkung akibat dari Pasokan petani lokal Balikpapan turun akibat kemarau, tomat, jagung manis dan tas sekolah karena produsen naikkan harga kompensasi biaya produksi tahun ajaran baru.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/inflasi-terkendali-balikpapan-raih-juara-ii-tpid-award-2026
Robi mengatakan tiga komoditas pangan yakni cabai rawit, tomat, jagung manis kompak naik karena El Nino yang menghantam sentra produksi di tengah permintaan yang tetap kuat.
"Namun ada rem inflasi. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga justru deflasi 0,06% (mtm)," tandasnya.
Lima penahan inflasi terdalam: Ikan Layang, Angkutan Udara, Bahan Bakar Rumah Tangga, Sawi Hijau, dan Udang Basah.
Harga tiket pesawat turun imbas penurunan harga avtur di Bandara Sepinggan Balikpapan pada 1 Agustus 2026 dari Rp 22.104 menjadi Rp 21.825 per liter. Ikan layang dan udang basah turun karena hasil tangkapan nelayan di perairan PPU melimpah.
Di PPU, andil inflasi kelompok makanan bahkan lebih besar, 0,48% (mtm). Lima pemicu utamanya adalah Cabai Rawit, Tomat, Jagung Manis, Kacang Panjang, dan Jeruk.
Kacang panjang naik karena pasokan petani lokal PPU terganggu kemarau. Jeruk naik karena kemarau panjang, biaya logistik naik, dan panen raya berakhir.
Penahannya datang dari laut: Ikan Tongkol, Ikan Layang, Udang Basah, Ikan Kembung, dan Telur Ayam Ras turun harga karena stok melimpah. ***
