Pengurus Vihara Buddha Maitreya Balikpapan tingkatkan keterampilan pertolongan pertama
Balikpapan

Pelatihan BHD di Balikpapan, Warga Vihara Belajar Selamatkan Nyawa

  • Pengurus Vihara Buddha Maitreya Balikpapan tingkatkan keterampilan pertolongan pertama
Balikpapan
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kemampuan memberikan pertolongan pertama saat menghadapi kondisi kegawatdaruratan medis bisa menjadi penentu keselamatan seseorang. 

Terutama ketika terjadi henti jantung mendadak, tindakan cepat dan tepat sebelum tenaga medis tiba sangat dibutuhkan.

Untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, Perhimpunan Dokter Indonesia (PDGI) Kaltimtara bekerja sama dengan komunitas umat Buddha menggelar sosialisasi dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Vihara Buddha Maitreya, Balikpapan.

Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Melalui pelatihan tersebut, masyarakat dibekali pengetahuan medis dasar dan keterampilan praktis untuk menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitar.

Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (Perdatin) Kaltimtara, dr. I Made Suanda Menara, SpAn, M.Biomed, menjelaskan bahwa bantuan hidup dasar harus dilakukan melalui tahapan yang benar.

Penolong perlu memastikan keamanan lingkungan dan kondisi korban sebelum menentukan tindakan. 

“Langkah ini penting agar pertolongan dapat diberikan tanpa menimbulkan risiko tambahan bagi penolong maupun orang lain di lokasi kejadian,” katanya pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

BACA JUGA:

Pengurus Vihara Balikpapan Dilatih Bantuan Hidup Dasar, Ini Tujuannya - ibukotakini.com

Setelah memastikan situasi aman, penolong perlu memeriksa respons korban dan menilai kondisinya. Jika ditemukan tanda-tanda henti jantung, resusitasi jantung paru (RJP) harus segera dilakukan sesuai panduan yang berlaku.

“Penolong juga perlu meminta bantuan orang di sekitar serta mengaktifkan layanan kegawatdaruratan agar korban mendapatkan penanganan medis lanjutan secepatnya,” ujarnya.

Pelatihan BHD tidak hanya berisi penyampaian materi teori. Peserta juga mengikuti praktik dan simulasi untuk memahami langkah-langkah pertolongan awal ketika menemukan seseorang dalam kondisi kritis.

Ia mengatakan Materi yang diberikan meliputi pengenalan kondisi korban, penilaian kebutuhan resusitasi jantung paru, serta prosedur respons awal dalam situasi darurat medis.

“Melalui simulasi tersebut, peserta diharapkan mampu memahami urutan tindakan yang benar sehingga tidak hanya mengandalkan kepanikan saat menghadapi kejadian sesungguhnya,” imbuhnya.

Wakil Ketua IDI Cabang Balikpapan, dr. Fatwa Fitriono Islam, Sp.OT, turut terlibat dalam kegiatan edukasi ini.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pertolongan pertama yang tepat, khususnya ketika terjadi kejadian medis mendadak di rumah, tempat ibadah, maupun ruang publik.

BACA JUGA:

HUT ke-76, IDI Balikpapan Sasar Sekolah dan Rumah Ibadah - ibukotakini.com

Edukasi bantuan hidup dasar juga menekankan pentingnya respons cepat. 

“Masyarakat dapat mengambil peran dalam memberikan pertolongan awal sembari meminta bantuan tenaga medis, selama tindakan dilakukan sesuai prosedur dan kemampuan yang dimiliki,” tandasnya.

Menurutnya, kegawatdaruratan medis dapat terjadi kapan saja dan tidak selalu berlangsung di fasilitas kesehatan. Karena itu, pengetahuan bantuan hidup dasar menjadi keterampilan penting yang perlu diperluas di berbagai kelompok masyarakat.

“Komunitas keagamaan, termasuk lingkungan vihara, dapat menjadi salah satu ruang edukasi untuk membangun kesiapsiagaan warga dalam menghadapi keadaan darurat,” urai dia.

Semakin banyak masyarakat yang memahami cara mengenali kondisi kritis, meminta bantuan, dan melakukan tindakan awal yang sesuai, semakin besar peluang korban memperoleh pertolongan tepat waktu. ***