
Pembangunan Pasar Sepinggan Pasca Kebakaran Dianggarkan Rp3 M dari BTT
- IBUKOTAKINI.COM - Ketua DPRD Kota Balikpapan Alwi Al-Qadri menjelaskan alasan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pembangunan kembali fasilitas pedagan
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Ketua DPRD Kota Balikpapan Alwi Al-Qadri menjelaskan alasan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pembangunan kembali fasilitas pedagang di kawasan Pasar Sepinggan yang terdampak kebakaran.
Di mana seluruh kegiatan yang masuk dalam penganggaran telah melalui pembahasan bersama.
Alwi mengatakan kebutuhan tersebut menjadi perhatian karena menyangkut masyarakat yang kehilangan tempat berjualan.
Pembangunan tersebut tidak memiliki alokasi anggaran khusus sebelumnya. Karena itu, BTT yang diperuntukkan untuk kondisi tidak terduga atau tanggap darurat dapat digunakan sepanjang mengikuti mekanisme penganggaran.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/selamat-datang-haji-isam-di-kaltim
“Kalau kita mau mengambil dananya, secara otomatis kan dana dari BTT yang bisa kita alokasikan untuk membangun,” katanya pada Kamis, 24 September 2026.
Menurut Alwi, pemerintah tidak bisa begitu saja membiarkan pedagang yang menjadi korban kebakaran tanpa penanganan.
Bahwa penggunaan anggaran harus tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat, terutama dalam kondisi darurat.
“Sekarang masyarakat kita lagi susah, kena kebakaran, masa kita harus diam? Masa kita tidak memperhatikan para pedagang yang merupakan masyarakat kita?” katanya.
Alwi menyebut kebutuhan pembangunan tersebut sebelumnya diusulkan sekitar Rp4,6 miliar. Namun, kondisi fiskal daerah yang terbatas membuat besaran anggaran harus disesuaikan.
Dari kebutuhan tersebut, anggaran yang disiapkan melalui BTT disebut berada di kisaran Rp3 miliar.
“Kurang lebih Rp3 miliar seperti tadi yang disampaikan. Dari usulannya Rp4 miliar lebih, tapi ya Rp4,5 miliar atau Rp4,6 miliar,” jelasnya.
BACA JUGA:
https://ibukotakini.com/read/kelompok-rentan-diminta-waspada-bahaya-kabut-asap-karhutla
Ia mengungkapkan, dirinya sempat mengusulkan agar pembangunan dilakukan dengan anggaran sekitar Rp2 miliar.
Namun, setelah dilakukan perhitungan, angka tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan pembangunan.
“Sebenarnya awalnya saya mau minta kemarin itu di angka Rp2 miliar, cuma memang benar-benar tidak bisa, tidak akan mampu kalau hanya menggunakan anggaran Rp2 miliar. Setelah kita hitung-hitung, itu juga sebenarnya masih kurang,” ujarnya.
Di sisi lain, Alwi mengatakan penyesuaian anggaran tidak terlepas dari kondisi keuangan daerah. Ia menyebut tahun ini menjadi tahun pertama penerapan efisiensi anggaran yang menurutnya turut dirasakan oleh daerah-daerah lain di Indonesia.
“Mengingat, apalagi ya tahu sendiri kan, tahun ini tahun pertama efisiensi. Tapi bukan hanya Kota Balikpapan yang efisiensi, ini se-Indonesia Raya kayaknya. Ya, se-Indonesia Raya efisiensi,” katanya.
Menurut Alwi, kondisi tersebut membuat ruang fiskal pemerintah daerah menjadi lebih terbatas. Ia bahkan menyebut hampir seluruh daerah saat ini menghadapi pemangkasan anggaran.
“Jujur saja, ya berat memang. Hampir semua daerah saat ini diuji dengan pemangkasan,” pungkasnya. ***
