Penajam

Pemkab PPU Ungkap Keterbatasan Pengairan Teknis Pengaruhi Produktivitas Petani

  • Keterbatasan jaringan irigasi teknis yang pengaruhi alih fungsi lahan
Penajam
Is Wahyudi

Is Wahyudi

Author

IBUKOTAKINI.COM - Keterbatasan jaringan pengairan teknis masih menjadi batu sandungan utama dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. 

Padahal, infrastruktur pengairan yang memadai sangat krusial agar lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal demi menjaga produktivitas petani lokal.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU, Ade Rianto Embongbulan, secara terbuka mengakui bahwa jaringan irigasi teknis di wilayahnya masih terbatas. 

Kondisi ini dinilai kerap memengaruhi pola pikir dan keputusan petani dalam mengelola lahan milik mereka.

"Memang kita harus mengakui bahwa keterbatasan jaringan pengairan teknis masih cukup terbatas, sehingga mungkin saja hal ini mendorong petani kita untuk memanfaatkan ke hal lain lahan-lahan yang dimiliki," terang Ade, menggarisbawahi tantangan sektor agraris pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Menurut Ade, ketika suplai air dan dukungan irigasi belum memadai, petani cenderung mempertimbangkan opsi lain yang lebih rasional sesuai kondisi lapangan. 

BACA JUGA:

Hari Santri 2026 PPU Khidmat! Wabup Waris: Santri Bisa Jadi Apa Saja - ibukotakini.com

Lahan yang semestinya ditanami komoditas pangan berpotensi beralih fungsi untuk kegiatan perkebunan hingga kolam perikanan budidaya.

Oleh karena itu, ketersediaan air mutlak menjadi pilar utama dalam perencanaan pembangunan pertanian daerah. Dukungan pengairan yang stabil sangat dibutuhkan untuk mendongkrak intensitas tanam sekaligus menjamin kesinambungan produksi pangan.

Urgensi ketersediaan infrastruktur pendukung ini turut terefleksikan dalam pelaksanaan program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Desa Sesulu, Kecamatan Waru. 

Berdasarkan laporan Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kaltim, aspirasi para petani di lapangan menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap jaringan irigasi, jalan usaha tani, serta modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan).

Fakta tersebut membuktikan bahwa transformasi menuju pertanian modern tidak cukup hanya bertumpu pada penyediaan benih unggul dan mekanisasi mesin. 

BACA JUGA:

35.441 Warga PPU Aktivasi IKD, Tertinggi se-Kalimantan Timur 2026 - ibukotakini.com

Tanpa dukungan infrastruktur dasar seperti pengairan dan akses jalan sentra produksi, optimalisasi sektor pertanian akan berjalan pincang.

Ade menambahkan, upaya menggenjot produktivitas pertanian juga harus diiringi dengan penyaluran sarana dan prasarana yang tepat sasaran. 

Sinkronisasi data dan koordinasi lintas perangkat daerah termasuk Dinas Pertanian menjadi instrumen penting agar bantuan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan riil petani. 

Dalam kerangka perencanaan pembangunan daerah, penguatan jaringan irigasi harus berjalan seirama dengan upaya proteksi lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Infrastruktur yang presisi diyakini mampu membentengi alih fungsi lahan sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani.

Kendati demikian, penentuan wilayah prioritas perbaikan maupun pembangunan jaringan pengairan baru tidak boleh dilakukan sembarangan. 

Pemerintah daerah memerlukan kajian teknis yang komprehensif, mulai dari pemetaan kondisi eksisting jaringan, kalkulasi kebutuhan air, hingga luasan baku lahan yang terlayani. (Adv-Diskominfo PPU)