Pendanaan Iklim RI–Norwegia Tembus Rp7 Triliun
Tren

Pendanaan Iklim RI–Norwegia Tembus Rp7 Triliun

  • Nilai itu menempatkan kemitraan kedua negara sebagai salah satu model pendanaan iklim paling progresif di dunia
Tren
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM - Kerja sama Indonesia dan Norwegia dalam pendanaan iklim memasuki fase penting. Melalui skema Result-Based Contribution (RBC), Norwegia kini telah menyalurkan dukungan lebih dari US$432 juta atau sekitar Rp7,08 triliun. Nilai itu menempatkan kemitraan kedua negara sebagai salah satu model pendanaan iklim paling progresif di dunia.

Melansir TrensAsia.id. Dukungan ini bukan hanya kerja sama finansial. Dengan hutan hujan tropis yang mencakup lebih dari 10 persen penutup hutan tropis dunia dan menyimpan cadangan karbon raksasa, Indonesia memegang peran kunci dalam stabilitas iklim global. Ekosistem Kalimantan, Sumatra, Papua, hingga mangrove terbesar di dunia menjadi “mesin penyerap karbon” yang menentukan suhu bumi dalam jangka panjang.

Para peneliti bahkan menyebut hutan Indonesia sebagai global climate stabilizer karena kemampuannya menyerap miliaran ton CO₂ dan mempengaruhi pola iklim kawasan Asia-Pasifik.

Dalam dua dekade terakhir, Indonesia berhasil menekan laju kehilangan hutan ke titik terendah. Kemajuan itu menjadi dasar Norwegia menyalurkan pembayaran berbasis hasil bukan bantuan konvensional. Setiap dolar yang diterima Indonesia merupakan pengakuan atas penurunan emisi yang telah diverifikasi lembaga independen dan dapat diaudit secara transparan.

Pendekatan ini selaras dengan komitmen Norwegia mendukung negara yang terbukti mampu menurunkan emisi secara nyata. Karena itu, Indonesia menjadi mitra utama dalam portofolio iklim global negara Skandinavia tersebut.

BACA JUGA:

Sarawak Jajaki Penerbangan Langsung ke Kalimantan Timur - ibukotakini.com

Dana RBC hanya diberikan setelah hasilnya terverifikasi. Berikut rangkuman kontribusi Norwegia:

  1. RBC 2016–2017: US$56 juta
    Pembayaran pertama ini diberikan pada 2020 atas penurunan emisi 11,2 juta ton CO₂e.
  2. RBC 2017–2019: US$100 juta
    Pembayaran gabungan yang disalurkan pada 2024 sebagai bentuk kepercayaan terhadap sistem pemantauan hutan Indonesia.
  3. RBC 2019–2020: US$60 juta
    Disalurkan pada Desember 2024 sebagai pengakuan atas keberhasilan Indonesia menekan deforestasi lanjutan.
  4. Perpanjangan hingga 2030: US$216 juta
    Hibah untuk mendukung strategi FOLU Net Sink 2030, yang menargetkan sektor kehutanan menjadi penyerap bersih karbon sebelum dekade berakhir.

BACA JUGA:

Rombongan Pengusaha China Mau Investasi di IKN - ibukotakini.com

Mengapa Norwegia Memberi Dukungan Besar?

Beberapa alasan utama melatarbelakangi komitmen Norwegia:

  • Indonesia rumah hutan tropis terbesar kedua di dunia, menyimpan jutaan ton karbon yang penting bagi stabilitas iklim global.
  • Cadangan karbon Indonesia mencapai 13 miliar ton, terutama di lahan gambut.
  • Model pay for performance, di mana pembayaran hanya dilakukan setelah keberhasilan diverifikasi secara independen.
  • NICFI, kebijakan luar negeri Norwegia sejak 2008, memang difokuskan pada negara pemilik hutan tropis.
  • Pencegahan kerusakan lebih murah daripada menangani dampak krisis iklim, sehingga investasi pada hutan Indonesia menjadi langkah strategis.

Pendanaan RBC tidak masuk ke kas pemerintah secara langsung. Dana disalurkan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk mendukung program prioritas, seperti:

  • perlindungan hutan primer,
  • restorasi gambut dan mangrove,
  • pencegahan kebakaran hutan dan lahan,
  • penguatan masyarakat adat sebagai penjaga hutan,
  • pemantauan deforestasi,
  • serta implementasi FOLU Net Sink 2030.

Kemitraan Berlanjut hingga 2030

Kerja sama Indonesia–Norwegia sempat terhenti pada 2021 akibat polemik pembayaran. Namun pada 12 September 2022, keduanya menandatangani kemitraan baru yang sepenuhnya berbasis hasil. Sejak itu, pendanaan kembali mengalir dengan nilai yang semakin meningkat. ***