Gedung Jantung Terpadu Awang Faroek Tower Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanujoso Djatiwibowo (RSKD), Balikpapan
Tren

Penyakit Jantung Sedot Rp17,3 Triliun Dana JKN Sepanjang 2025

  • Selain penyakit jantung, pembiayaan terbesar juga berasal dari gagal ginjal sebesar Rp13,3 triliun, kanker Rp10,3 triliun, stroke Rp7,2 triliun
Tren
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Penyakit jantung menjadi penyumbang biaya terbesar dengan nilai Rp17,3 triliun, disusul gagal ginjal Rp13,3 triliun, kanker Rp10,3 triliun, serta stroke Rp7,2 triliun. 

Data tersebut disampaikan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, dalam Public Expose Kinerja BPJS Kesehatan Tahun 2025 yang digelar secara hybrid, online dan offline, pada Kamis (2/7/2026). 

Ia mengungkapkan, sepanjang 2025 biaya pelayanan untuk tujuh penyakit katastropik mencapai Rp50,3 triliun dengan total 59,9 juta kasus yang ditangani BPJS Kesehatan. 

“Selain penyakit jantung, pembiayaan terbesar juga berasal dari gagal ginjal sebesar Rp13,3 triliun, kanker Rp10,3 triliun, stroke Rp7,2 triliun, hemofilia Rp909,6 miliar, thalasemia Rp852,7 miliar, serta sirosis hati Rp278,1 miliar,” sebutnya. 

BACA JUGA:

Layanan JKN Capai 725 Juta, Peserta Nyaris 100% - ibukotakini.com

BPJS Kesehatan mencatat penyakit katastropik menyerap 26,28 persen dari total biaya pelayanan kesehatan yang dibayarkan sepanjang 2025. 

Angka tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan untuk penyakit berbiaya mahal.

Di sisi lain, meningkatnya pembiayaan juga mencerminkan semakin luasnya akses peserta JKN terhadap pelayanan kesehatan. Namun, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan pembiayaan program JKN.

Sepanjang 2025, total beban jaminan kesehatan mencapai Rp191,33 triliun, meningkat sekitar Rp15,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, rasio klaim terhadap pendapatan iuran JKN tercatat mencapai 108,27 persen. 

BACA JUGA:

Peserta JKN Capai 285 Juta Jiwa, BPJS Kesehatan Gencarkan Budaya Hidup Sehat - ibukotakini.com

Pihaknya mengatakan dalam menekan peningkatan kasus penyakit katastropik, BPJS Kesehatan terus memperkuat berbagai program promotif dan preventif, seperti Skrining Riwayat Kesehatan, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), serta Program Rujuk Balik (PRB). 

“Hingga akhir 2025, jumlah peserta yang mengikuti Skrining Riwayat Kesehatan meningkat menjadi 79,57 juta orang,” sebutnya. 

Dari hasil skrining tersebut, sebanyak 34,6 juta peserta teridentifikasi memiliki risiko penyakit, sedangkan 18,1 juta peserta telah mendapatkan tindak lanjut pelayanan kesehatan.

BPJS Kesehatan juga menemukan sekitar 6,93 juta peserta berusia di bawah 45 tahun memiliki risiko mengalami diabetes melitus dan hipertensi, dua penyakit yang menjadi faktor utama pemicu penyakit jantung dan stroke. ***