PLTP Ulubelu unit I beroperasi secara komersial sejak tahun 2011. Hingga saat ini, 4 unit PLTP telah beroperasi dengan total kapasitas terpasang sebesar 220 MW.
Kabar Ibu Kota

Pertamina Geothermal dan PLN Kebut Proyek Panas Bumi 45 MW

  • Bidik Operasi Komersial 2028
Kabar Ibu Kota
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (IDX: PGEO) mempercepat ekspansi bisnis panas bumi dengan menggandeng PT PLN Indonesia Power (PLN IP) untuk mengembangkan tambahan pembangkit berkapasitas total 45 megawatt (MW).

Pengembangan tersebut mencakup PLTP Ulubelu Bottoming Unit berkapasitas 30 MW di Lampung dan PLTP Lahendong Bottoming Unit berkapasitas 15 MW di Sulawesi Utara.

Kedua proyek ditargetkan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada 2028 dan menjadi bagian dari strategi PGEO mengoptimalkan aset panas bumi yang telah beroperasi.

Komitmen pengembangan proyek tersebut diperkuat melalui penandatanganan dua Letter of Intent (LoI) antara PT PLN (Persero) dengan konsorsium PGE dan PLN IP dalam ajang The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta.

BACA JUGA:

Pertamina Geothermal Tawarkan Saham untuk Karyawan dengan Harga Rp648 per Lembar - ibukotakini.com

Penandatanganan dilakukan Direktur Utama PGE Ahmad Yani, Direktur Utama PLN IP Bernardus Sudarmanta, dan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Jumat (21/8/2026).

PGEO Optimalkan Panas Sisa Jadi Listrik

Proyek PLTP Ulubelu Bottoming Unit dan PLTP Lahendong Bottoming Unit akan memanfaatkan panas sisa dari operasi pembangkit panas bumi yang telah berjalan untuk menghasilkan tambahan listrik.

Pengembangan dilakukan menggunakan teknologi binary atau bottoming cycle, sehingga PGE dan PLN IP dapat meningkatkan kapasitas pembangkitan dengan mengoptimalkan infrastruktur dan sumber daya panas bumi eksisting.

Strategi tersebut menjadi salah satu jalur pertumbuhan PGE dalam menambah kapasitas energi bersih melalui optimalisasi aset yang sudah beroperasi.

BACA JUGA:

PGEO Kejar Kapasitas 1 GW, Buka Peluang Akuisisi Aset Panas Bumi - ibukotakini.com

Sebelumnya, konsorsium PGE dan PLN IP telah menyepakati tarif listrik dengan PLN sebagai pembeli listrik atau offtaker. Kesepakatan untuk PLTP Ulubelu Bottoming Unit dicapai pada Desember 2025, sementara tarif PLTP Lahendong Bottoming Unit disepakati pada April 2026.

Penandatanganan LoI menjadi langkah lanjutan sebelum kedua proyek memasuki tahap berikutnya, termasuk pembentukan perusahaan patungan atau joint venture, penyusunan Power Purchase Agreement (PPA), hingga proses Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC).

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan pengembangan tambahan unit tersebut diharapkan memperkuat pasokan listrik bersih dan andal.

“PLTP Ulubelu dan Lahendong selama ini telah berperan penting dalam penyediaan listrik di Lampung dan Sulawesi Utara. Tambahan unit yang kami kembangkan bersama PLN IP ini akan menyediakan suplai listrik yang bersih dan andal untuk semakin banyak rumah tangga,” ujar Ahmad Yani.

BACA JUGA:

Tiga Proyek Panas Bumi Pertamina Geothermal Kantongi Pendanaan Internasional - ibukotakini.com

Menurut dia, pengembangan panas bumi tidak hanya berkaitan dengan penambahan kapasitas listrik, tetapi juga memiliki efek lanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengembangan masyarakat.

PGEO Dapat Mandat Survei Panas Bumi di Sumatra Barat

Selain mempercepat dua proyek pembangkit, PGE juga mendapatkan mandat baru untuk mengeksplorasi potensi panas bumi di Cubadak Panti, Sumatra Barat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyerahkan Surat Keputusan Nomor 176.K/EK.04/MEM.E/2026 mengenai Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi atau PSPE Panas Bumi kepada PGE.

Wilayah Cubadak Panti berada di Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat dengan luas mencapai 29.897 hektare.

BACA JUGA:

IBUKOTAKINI.COM - Agresif Lakukan Transisi Energi, PGE Berhasil Bukukan Pendapatan dari Carbon Credit - ibukotakini.com

PGEO sebelumnya menempati peringkat pertama dalam proses seleksi kompetitif yang diselenggarakan Kementerian ESDM dengan nilai 87,01.

Berdasarkan data awal, wilayah tersebut diperkirakan memiliki potensi cadangan panas bumi sebesar 77 megawatts electric (MWe).

Jika potensi tersebut dapat dibuktikan dan dikembangkan, kapasitasnya diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 40 ribu rumah tangga.

Ahmad Yani mengatakan mandat tersebut menjadi langkah awal bagi PGE untuk mengidentifikasi dan membuktikan potensi panas bumi baru.

Penugasan eksplorasi ini juga memperluas pipeline pengembangan PGE di tengah kebutuhan Indonesia untuk mempercepat transisi energi dan memperkuat ketahanan energi nasional.

BACA JUGA:

IBUKOTAKINI.COM - Prospek Cerah Pengembangan Panas Bumi, PGE Pastikan Punya Fundamental Keuangan Kuat - ibukotakini.com

“PGEO akan melaksanakan mandat ini agar dapat mengubah potensi panas bumi Cubadak Panti menjadi manfaat yang berkelanjutan dan bernilai tambah bagi masyarakat,” kata Ahmad Yani.

Strategi Baru PGEO Menjelang 100 Tahun Panas Bumi Indonesia

Ekspansi proyek 45 MW dan mandat eksplorasi di Cubadak Panti menjadi capaian baru PGE menjelang satu abad perjalanan pengembangan panas bumi Indonesia.

Bagi PGE, fase berikutnya pengembangan panas bumi nasional bukan hanya mempertahankan keandalan aset yang telah beroperasi, tetapi juga mempercepat pembangunan kapasitas baru dan memperbesar skala pemanfaatan energi panas bumi.

Saat ini, PGE juga tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis, antara lain PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 serta Binary Unit di Sulawesi Utara, serta proyek Gunung Tiga di Lampung.

Portofolio tersebut memperlihatkan strategi ekspansi PGE melalui dua jalur, yakni optimalisasi aset eksisting dan pencarian sumber daya panas bumi baru.

Dengan proyek baru, tambahan kapasitas 45 MW, serta potensi 77 MWe di Cubadak Panti, PGE memperkuat pipeline bisnis panas bumi untuk mendukung transisi energi sekaligus menciptakan nilai jangka panjang.

“Jika satu abad terakhir adalah perjalanan untuk membuktikan potensi panas bumi nasional, maka abad berikutnya adalah kesempatan untuk menjadikannya salah satu kekuatan utama Indonesia,” ujar Ahmad Yani.

Buat PGEO, percepatan pengembangan panas bumi menjadi bagian dari strategi memperkuat posisinya sebagai produsen panas bumi kelas dunia, sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060 dan ketahanan energi nasional.***