Petani Brenjonk di Mojokerto Buktikan Tanah Bisa Simpan Air Lebih Lama
Tren

Pertanian Organik Dinilai Lebih Tahan El Nino

  • Petani Brenjonk di Mojokerto Buktikan Tanah Bisa Simpan Air Lebih Lama
Tren
Ferry Cahyanti

Ferry Cahyanti

Author

IBUKOTAKINI.COM - Di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, sistem pertanian organik mulai dilirik sebagai solusi menjaga ketahanan pangan sekaligus menghadapi musim kemarau panjang dan fenomena El Nino. 

Konsep itu dikembangkan di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, oleh pegiat pertanian organik sekaligus Direktur Brenjonk, Slamet. 

Melalui sistem pertanian organik, lahan dinilai mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus menyimpan cadangan air lebih baik dibanding pertanian konvensional. 

Wawancara dengan Slamet berlangsung dalam  Capacity Buidling Wartawan Tahun 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan 2026 pada Kamis-Jumat, 21-22 Mei 2026. 

BACA JUGA:

https://ibukotakini.com/read/keren-banget-bum-des-bakal-dilibatkan-kelola-bandara-perintis-di-kutim

Menurut Slamet, struktur tanah organik memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air lebih lama sehingga lebih tahan menghadapi cuaca ekstrem. 

“Tanah organik itu gembur, hidup, dan mampu menyimpan air lebih lama. Ketika hujan turun, air terserap maksimal sehingga cadangan air tanah tetap terjaga,” kata Slamet pada Jumat, 22 Mei 2026. 

Petani Brenjonk di Mojokerto Buktikan Tanah Bisa Simpan Air Lebih Lama

Ia menjelaskan, kondisi tanah organik mirip kawasan hutan lindung yang tetap lembap dan kaya unsur hayati alami. Karena itu, lahan tidak mudah kering meski cuaca panas berlangsung dalam waktu lama.


Pertanian Organik Lebih Adaptif Hadapi Perubahan Iklim


Slamet menilai sistem pertanian organik tidak hanya menjaga produktivitas lahan, tetapi juga memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk dan bahan kimia dalam jangka panjang. 

Selama hampir 18 tahun mengembangkan pertanian organik, ia menyebut masa balik modal atau break even point (BEP) umumnya tercapai pada tahun ketiga. 

"Setelah kondisi tanah kembali sehat, biaya produksi justru semakin rendah dibanding masa awal pengelolaan," ucapnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat pertanian organik lebih efisien dalam jangka panjang sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis iklim global. Selain itu, pengelolaan lahan di Brenjonk juga menerapkan konsep zero waste atau tanpa limbah dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara berputar dalam sistem pertanian.


Drone Pertanian Pangkas Biaya Operasional hingga 40 Persen
 

Di sisi lain, pertanian organik di Mojokerto mulai memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi kerja petani. 

Ia menyebut salah satu teknologi yang digunakan yakni drone penyemprot pertanian. 

Drone tersebut merupakan bantuan Bank Indonesia pada 2022 dan dinilai mampu memangkas biaya operasional hingga 40 persen dibanding metode penyemprotan konvensional. 

Drone Pertanian Pangkas Biaya Operasional hingga 40 Persen

“Drone membantu pekerjaan berat petani, terutama yang sudah lanjut usia. Penyemprotan jadi lebih cepat dan efisien tanpa harus memanggul tangki,” ujarnya. 

Meski belum memiliki aplikasi digital khusus untuk memantau produksi maupun panen, penggunaan drone disebut menjadi langkah awal menuju konsep smart farming di kawasan tersebut.


Produk Organik Tembus Supermarket dan Restoran 

Di lahan organik Brenjonk, berbagai komoditas dibudidayakan mulai dari padi merah, padi hitam, padi putih, hingga pandan wangi. 

Selain itu, terdapat sekitar 45 jenis sayuran lokal maupun impor seperti kailan dan rukola.

Hasil panen mereka kini telah dipasarkan ke berbagai supermarket, hotel, hingga restoran organik di sejumlah daerah. 

"Beberapa jaringan ritel seperti Papaya, Ranch Market, Hokky, hingga restoran organik di Surabaya menjadi mitra distribusi hasil panen mereka," sebutnya. 

Slamet menjelaskan, perkembangan pasar tersebut membuat generasi muda mulai melihat pertanian sebagai sektor usaha yang menjanjikan. 

“Anak-anak muda sekarang melihat pertanian bukan hanya mencangkul. Ada teknologi, ada produk turunan, ada peluang usaha,” tukasnya. ***