Iklan digital di fasilitas publik, salah satu produk PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH).
Tekno

Perusahaan Iklan Ini Kepincut Bisnis Ekosistem AI

  • DOOH Buka Peluang Akuisisi Perusahaan
Tekno
Bunga Citra

Bunga Citra

Author

IBUKOTAKINI.COM – Perusahaan jasa periklanan, PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) mengubah arah pengembangan bisnis dengan membidik pembangunan ekosistem artificial intelligence (AI) di Indonesia. 

Strategi baru tersebut akan ditopang lima pilar bisnis, yakni AI Data Centre, high speed internet, fiber optic, submarine cable, serta green energy atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Direktur Utama PT Era Media Sejahtera Tbk, Vicktor Aritonang, mengatakan perubahan arah bisnis tersebut dilakukan setelah perseroan melihat besarnya potensi pasar infrastruktur AI di Indonesia.

"Kami melihat ada potensi pasar yang sangat besar di Indonesia, sehingga akan amat disayangkan jika kami tidak merespons potensi pasar tersebut," ujar Vicktor dalam Public Expose Insidentil PT Era Media Sejahtera Tbk, Jumat (4/9/2026).

BACA JUGA:

Bisnis AI Melonjak, Metrodata Makin Agresif - ibukotakini.com

Menurut dia, perseroan telah melakukan asesmen terhadap prospek kebutuhan data center di Indonesia yang diproyeksikan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan DOOH untuk masuk lebih jauh ke bisnis yang berkaitan dengan infrastruktur AI.

DOOH Siapkan Lima Pilar Ekosistem AI

Vicktor menjelaskan, kelima pilar tersebut dirancang sebagai satu kesatuan ekosistem yang dapat saling mendukung dalam pembangunan infrastruktur AI di Indonesia.

Lima fokus bisnis DOOH meliputi AI Data Centre, high speed internet, fiber optic, submarine cable, dan green energy/PLTS.

BACA JUGA:

Permintaan Lahan Data Center Melesat, DMAS Kantongi Pra Penjualan Rp1,15 Triliun - ibukotakini.com

Perseroan menilai peluang bisnis tersebut semakin terbuka karena pasokan infrastruktur yang dibutuhkan dinilai masih terbatas, sementara permintaannya diperkirakan terus meningkat.

"Supply-nya bisa dikatakan masih kurang sedangkan segmen ini akan sangat tinggi demand-nya. Maka sangat wajar jika kami melihat ini akan menjadi potensi yang sangat besar," jelas Vicktor.

DOOH Buka Peluang Akuisisi Perusahaan

Untuk mempercepat transformasi bisnis, DOOH juga mempertimbangkan strategi akuisisi perusahaan yang telah memiliki bisnis di salah satu atau beberapa bidang yang masuk dalam lima pilar tersebut.

Strategi ini dinilai dapat mempercepat pembangunan ekosistem AI dibandingkan jika perseroan membangun seluruh lini bisnis dari awal.

BACA JUGA:

ASUS ExpertBook Ultra Ungguli Laptop Flagship Kompetitor - ibukotakini.com

Meski demikian, Vicktor memastikan perubahan arah bisnis tersebut tidak berarti DOOH akan meninggalkan bisnis yang selama ini menjadi sumber pendapatan perseroan.

"Proses yang berjalan tadi kami tidak akan mengesampingkan kegiatan usaha yang sebelumnya sehingga dua hal ini akan tetap berjalan," katanya.

Dengan demikian, DOOH akan menjalankan bisnis inti yang sudah ada sembari mengembangkan lini usaha baru berbasis infrastruktur AI.

Right Issue Jadi Salah Satu Opsi Pendanaan DOOH

Di sisi lain, ekspansi ke ekosistem AI membutuhkan pendanaan yang tidak kecil. Dalam paparan manajemen, muncul pertanyaan mengenai skema pendanaan, termasuk kemungkinan penerbitan saham baru, utang, maupun kerja sama strategis seperti joint venture.

Vicktor mengatakan perseroan saat ini tengah mempertimbangkan sejumlah opsi aksi korporasi untuk membiayai rencana pengembangan usaha.

BACA JUGA:

MR.D.I.Y. Indonesia Buka Toko ke-1.400, Target Tambah 270 Gerai pada 2026 - ibukotakini.com

Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah pendanaan berbasis ekuitas melalui right issue.

"Perseroan tengah mempertimbangkan opsi aksi korporasi untuk memenuhi rencana pengembangan perseroan. Aksi korporasi ini sedang didiskusikan dan dipertimbangkan atas beberapa opsi pendanaan termasuk salah satunya pendanaan bersifat ekuitas seperti right issue," ujar Vicktor.

Namun, manajemen belum menetapkan bentuk aksi korporasi yang akan dipilih.

Perseroan masih berdiskusi dengan berbagai pihak untuk menentukan skema pendanaan yang dinilai paling optimal bagi pengembangan bisnis.

Potensi Dilusi Saham Publik

Rencana pendanaan tersebut menjadi perhatian investor mengingat ekspansi bisnis AI membutuhkan investasi besar, sementara aset perseroan saat ini sekitar Rp406 miliar.

Jika nantinya DOOH memilih skema penerbitan saham baru melalui right issue, terdapat potensi dilusi kepemilikan pemegang saham, terutama apabila pemegang saham tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru.

Namun, manajemen belum memberikan kepastian apakah right issue akan menjadi aksi korporasi yang akhirnya dipilih.

Vicktor menegaskan DOOH akan menyampaikan informasi kepada publik apabila keputusan terkait aksi korporasi telah ditetapkan.

BACA JUGA:

Kontrak Baru ADHI Karya Tembus Rp8,3 Triliun hingga Juli 2026, Naik 118,4 Persen - ibukotakini.com

"Kembali kami sampaikan, saat ini perseroan masih berdiskusi dengan berbagai pihak terkait aksi korporasi yang paling optimal. Perseroan berkomitmen akan mengungkapkan keterbukaan informasi sesuai ketentuan yang berlaku," tegasnya.

Transformasi bisnis tersebut menandai langkah baru DOOH setelah masuknya pengendali baru, PT Sinergi Internasional Investama (SII). Perseroan kini mengarahkan strategi pertumbuhan ke sektor infrastruktur digital dan energi yang dinilai memiliki peran penting dalam perkembangan ekosistem AI di Indonesia.***