
Peternak di Kutim Ubah Sampah Organik Jadi Pakan Ternak
- Berpotensi Menurunkan Biaya Produksi Peternak
Kutai Timur
IBUKOTAKINI.COM – Sampah makanan di Kutai Timur (Kutim) mulai diarahkan menjadi sumber daya untuk memperkuat ketahanan pangan.
Pemerintah bersama komunitas peternak, perguruan tinggi dan dunia usaha mengembangkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai bagian dari sistem peternakan terpadu.
Langkah ini sekaligus menjawab persoalan tingginya biaya pakan yang masih menjadi beban peternak. Sebagian bahan pakan di Kutim selama ini masih didatangkan dari luar daerah, termasuk Sulawesi dan Jawa.
Perwakilan Komunitas Peternak Mandiri, Ali Mahmudi, mengatakan sampah organik sebenarnya memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat. Sisa makanan dapat dijadikan media budidaya maggot, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak.
BACA JUGA:
DPKH Kaltim Bakal Mencetak 237 Peternak Milenial - ibukotakini.com
“Persoalan sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi peluang apabila dikelola secara tepat,” kata Ali Mahmudi dalam Sosialisasi dan Pelatihan Budi Daya Maggot BSF serta Peternakan Ayam Kampung Terpadu di Jalan Santai RT 05, Sangatta Selatan, Selasa (22/9/2026)..
Rantai produksinya dirancang sederhana. Sampah organik menjadi pakan maggot. Maggot kemudian digunakan sebagai pakan ayam, ikan maupun ternak lainnya. Dari peternakan tersebut dihasilkan pangan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Dengan pola itu, sampah tidak lagi berhenti sebagai limbah, tetapi masuk kembali ke dalam siklus produksi.
Ali menyebut gagasan tersebut telah berkembang sejak 2021 melalui berbagai diskusi mengenai pengelolaan sampah di Kutim. Konsepnya kemudian diperluas dengan mengintegrasikan pengelolaan sampah, maggot, ayam, ikan, kambing hingga sapi.
BACA JUGA:
Harga Kalah dari Jawa, Ini Kiat Pemkab Kutim Dukung Peternak Ayam Lokal - ibukotakini.com
Komunitas Peternak Mandiri bahkan telah bekerja sama dengan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memanfaatkan sisa makanan sebagai bahan baku budidaya maggot.
Tekan Biaya Pakan
Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim Purno Edi mengatakan biaya pakan masih menjadi salah satu tantangan utama pengembangan peternakan daerah.
Beban tersebut dirasakan berbagai subsektor, mulai ayam, kambing, sapi hingga perikanan. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah juga membuat produksi rentan terganggu apabila terjadi persoalan distribusi atau cuaca.
“Pengembangan sumber pakan lokal menjadi salah satu bagian penting dari sistem peternakan terpadu,” ujarnya.
BACA JUGA:
Lewat Koperasi, Peternak Ayam Bengalon akan Alihkan Penjualan ke Daging Beku - ibukotakini.com
Menurut Purno, penguatan produksi lokal juga diperlukan karena kebutuhan pangan Kutim belum sepenuhnya dipenuhi dari daerah sendiri. Telur, misalnya, masih menjadi salah satu komoditas yang dipasok dari luar daerah.
Karena itu, peluang pengembangan peternakan lokal masih terbuka lebar. Pemerintah daerah mendorong masyarakat memanfaatkan program bantuan serta pendampingan penyuluh pertanian lapangan.
Tak berhenti pada produksi, pemerintah juga menilai pemasaran harus diperkuat. Peternak perlu memiliki kepastian pasar agar peningkatan produksi tidak justru menimbulkan persoalan baru.
Pendampingan pemasaran nantinya dapat melibatkan perangkat daerah yang menangani koperasi, UMKM dan perdagangan.
Bangun Ekosistem dari Desa
Purno menekankan pengembangan peternakan terpadu tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat harus terlibat agar model tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.
Kawasan RT 05 Sangatta Selatan dipilih sebagai lokasi pelatihan karena telah memiliki berbagai aktivitas produktif. Di kawasan tersebut terdapat budidaya maggot, ayam, kambing, sapi, perikanan, madu kelulut hingga pengolahan sampah.
Kondisi itu membuat lokasi pelatihan sekaligus menjadi ruang pembelajaran praktik bagi masyarakat.
Ketua SIGAP Bahtiar Bakri mendorong agar model pemberdayaan tersebut diperluas dengan melibatkan pemuda dan pelaku UMKM. Tujuannya bukan sekadar menambah kelompok peternak, tetapi menciptakan usaha baru yang mampu mengolah produksi hingga pemasaran.
BACA JUGA:
Pabrik Pakan Ternak Rp8,3 Miliar Resmi Beroperasi di Kukar - ibukotakini.com
Pengembangan ekosistem tersebut juga diarahkan ke tingkat desa melalui kelembagaan ekonomi seperti Koperasi Desa Merah Putih.
Dalam pelatihan itu, peserta mendapat materi budidaya maggot BSF dan ayam kampung unggul. Narasumber berasal dari praktisi dan pelaku peternakan, termasuk Toni Halim dan Edi Sofyan.***
