Danantara turun tangan selamatkan keuangan Pos Indonesia.
Ekbis

Pos Indonesia Ungkap Gap Likuiditas Rp83,52 Miliar, Danantara Turun Tangan

  • Restrukturisasi Sukuk Ditolak
Ekbis
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM  – PT Pos Indonesia (Persero) mengungkap kondisi likuiditas yang menjadi penyebab perusahaan belum mampu membayar bunga Obligasi I Pos Indonesia Tahun 2022 Seri B ke-15 tepat waktu.

Dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Pos Indonesia menyatakan memiliki sumber likuiditas sebesar Rp483,66 miliar, terdiri dari kas dan setara kas Rp411,81 miliar serta piutang yang diperkirakan tertagih dalam waktu maksimal 30 hari sebesar Rp71,85 miliar.

Namun, kebutuhan kas jangka pendek perusahaan mencapai Rp567,18 miliar.

Artinya, terdapat gap likuiditas sebesar Rp83,52 miliar.

Kondisi tersebut membuat sumber likuiditas Pos Indonesia hanya mampu mencakup sekitar 85,27 persen dari kebutuhan kas jangka pendek.

BACA JUGA:

Tunda Bayar Bunga Obligasi, Direktur Keuangan Pos Indonesia Ungkap Kondisi Kas - ibukotakini.com

“Kondisi tersebut mencerminkan tekanan likuiditas jangka pendek yang membatasi kemampuan Perseroan memenuhi seluruh kewajiban secara bersamaan,” kata Direktur Keuangan Pos Indonesia Fathul Anwar dalam surat Nomor 673/DIR-1/09/2026 tertanggal 30 September 2026.

Bunga Obligasi Rp11,75 Miliar Belum Terbayar

Salah satu kewajiban yang belum dapat dipenuhi adalah pembayaran bunga Obligasi I Pos Indonesia Tahun 2022 Seri B ke-15 sebesar Rp11,75 miliar.

Sebelumnya, Pos Indonesia telah menyampaikan kepada BEI mengenai permohonan penundaan pembayaran bunga obligasi tersebut.

Dalam jawaban terbarunya, Fathul Anwar kembali menegaskan bahwa penyebab utama belum dilakukannya pembayaran adalah tekanan likuiditas dan kondisi kas yang belum memungkinkan.

“Perseroan belum dapat melakukan pembayaran bunga Obligasi I Pos Indonesia Tahun 2022 Seri B ke-15 terutama disebabkan oleh tekanan likuiditas dan kondisi kas Perseroan yang belum memungkinkan untuk melakukan pembayaran pada saat jatuh tempo kewajiban keuangan Perseroan,” imbuhnya.

BACA JUGA:

30 Penerbangan Dialihkan ke Balikpapan Akibat Kabut Asap - ibukotakini.com

Fathul Anwar menegaskan kondisi tersebut merupakan permasalahan likuiditas yang sedang ditangani melalui langkah penyehatan dan penguatan arus kas, bukan penghentian kegiatan operasional.

Danantara dan PPA Masuk dalam Penyehatan Keuangan

Menghadapi tekanan tersebut, Pos Indonesia menyatakan tengah melakukan restrukturisasi keuangan secara menyeluruh.

Proses tersebut dilakukan sejalan dengan arahan Danantara, dengan melibatkan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA sebagai konsultan.

PPA bertugas membantu Pos Indonesia menyusun dan mengevaluasi berbagai opsi restrukturisasi dengan mempertimbangkan kondisi keuangan, keberlangsungan usaha serta kepentingan para pemangku kepentingan.

BACA JUGA:

Selamat Datang Haji Isam di Kaltim - ibukotakini.com

Pos Indonesia juga melakukan evaluasi terhadap alternatif penyelesaian kewajiban dan penguatan struktur permodalan.

Restrukturisasi Sukuk Sebelumnya Ditolak

Persoalan likuiditas Pos Indonesia juga berkaitan dengan proses restrukturisasi surat utangnya.

Fathul Anwar mengungkapkan belum memperoleh persetujuan atas usulan restrukturisasi dari pemegang Sukuk.

Setelah penolakan tersebut, Pos Indonesia mengatakan akan mengevaluasi kembali struktur dan skema penyelesaian kewajiban.

Perusahaan juga akan melanjutkan komunikasi dengan kreditur, pemegang obligasi, pemegang sukuk, wali amanat serta pihak terkait lainnya.

Skema penyelesaian akan disesuaikan dengan kemampuan arus kas perusahaan.

BACA JUGA:

Pos Indonesia Tak Bisa Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp11,65 Miliar karena Likuiditas - ibukotakini.com

Fathul Anwar  menegaskan setiap langkah akan dilakukan sesuai peraturan, dokumen penerbitan dan dengan memperhatikan kepentingan para pemangku kepentingan.

Pos Indonesia Siapkan Enam Sumber Dana

Untuk memenuhi kewajibannya setelah skema penyelesaian atau restrukturisasi disepakati, Pos Indonesia menyiapkan kombinasi sejumlah sumber pendanaan.

Sumber tersebut meliputi:

  1. Arus kas operasional perusahaan;
  2. Percepatan penerimaan piutang dan optimalisasi modal kerja;
  3. Optimalisasi dan monetisasi aset yang memungkinkan;
  4. Fasilitas pinjaman dan/atau pembiayaan dari lembaga keuangan;
  5. Dukungan pemegang saham dan/atau pemerintah sesuai ketentuan; serta
  6. Sumber pendanaan lain yang memungkinkan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan perusahaan.

Komposisi sumber pendanaan tersebut belum ditetapkan secara final karena akan disesuaikan dengan kebutuhan pembayaran, proyeksi arus kas, biaya pendanaan dan perkembangan proses penyelesaian kewajiban.

Fokus Perusahaan: Pertahankan Kelangsungan Usaha 

Di tengah tekanan likuiditas, Pos Indonesia juga melakukan evaluasi secara berkelanjutan terhadap kemampuan mempertahankan kelangsungan usaha.

“Evaluasi mencakup kondisi keuangan, proyeksi arus kas, kinerja operasional, struktur kewajiban serta berbagai opsi penyehatan keuangan,” tambah Fathul Anwar.

Perusahaan memfokuskan penyehatan pada lima area utama, yakni penguatan likuiditas dan arus kas, restrukturisasi kewajiban, efisiensi operasional, pengkajian sumber pendanaan serta penguatan perencanaan dan pengendalian keuangan.

Dalam proses tersebut, Pos Indonesia menyatakan terus berkoordinasi dengan Danantara dan mendapatkan pendampingan PPA.

Bukan Penghentian Operasional

Meski menghadapi kekurangan likuiditas jangka pendek, Pos Indonesia menegaskan kondisi tersebut bukan merupakan penghentian kegiatan operasional.

Perusahaan tetap menjalankan langkah optimalisasi arus kas operasional, percepatan penerimaan piutang, optimalisasi modal kerja, evaluasi aset serta penjajakan sumber pendanaan.

Pos Indonesia juga berkomitmen terus berkomunikasi dengan kreditur dan pemegang surat utang untuk mendapatkan solusi penyelesaian kewajiban yang realistis dan berkelanjutan.

Angka Kunci Pos Indonesia

IndikatorNilai
Kas dan setara kasRp411,81 miliar
Piutang tertagih ≤30 hariRp71,85 miliar
Total sumber likuiditasRp483,66 miliar
Kewajiban kas jangka pendekRp567,18 miliar
Gap likuiditasRp83,52 miliar
Cakupan kebutuhan kas85,27%
Bunga Obligasi Seri B ke-15Rp11,75 miliar