Data produksi ternak Kaltimsejak tahun 2022.
Kabar Ibu Kota

Produksi Daging dan Telur Kaltim Naik, Sektor Peternakan Tumbuh 6,94 Persen

  • Krisis Regenerasi Peternak Masih Membayangi
Kabar Ibu Kota
Robi Sugiarto

Robi Sugiarto

Author

IBUKOTAKINI.COM – Sektor peternakan Kalimantan Timur mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Produksi daging, telur, dan komoditas peternakan lainnya mengalami peningkatan yang mendorong laju pertumbuhan ekonomi (LPE) sektor peternakan mencapai 6,94 persen.

Data tersebut terungkap dalam Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) Provinsi Kalimantan Timur yang dirilis pada 29 Mei 2026.

Kenaikan produksi terjadi hampir di seluruh subsektor peternakan, mulai dari sapi potong, unggas, hingga komoditas alternatif seperti lebah kelulut dan burung walet.

Peningkatan tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya diversifikasi ekonomi daerah yang selama ini masih didominasi sektor pertambangan dan perkebunan.

Teknologi Kandang Modern hingga Integrasi Sapi-Sawit Jadi Kunci

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mencatat sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan sektor peternakan sepanjang 2025.

Salah satunya adalah peningkatan populasi ternak dan produktivitas usaha peternakan di tingkat lapangan. 

“Penerapan teknologi modern seperti sistem kandang tertutup (closed house) pada peternakan ayam pedaging dan petelur terbukti meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan biaya operasional,” bunyi laporan yang diteken Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud.

Selain itu, pengembangan perbibitan juga memberikan dampak signifikan. Produksi bibit sapi berkualitas yang memiliki Surat Keterangan Layak Bibit (SKLB) mampu meningkatkan bobot potong ternak dan produksi daging secara keseluruhan.

Dari sisi pemanfaatan lahan, program integrasi sapi dan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu strategi unggulan di Kalimantan Timur. Luasnya areal perkebunan sawit dimanfaatkan sebagai sumber pakan sekaligus lokasi penggembalaan yang efisien bagi peternak.

Tidak hanya itu, lahan eks tambang yang telah direklamasi mulai dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya peternakan melalui konsep mini ranch, sehingga mampu mengatasi keterbatasan lahan peternakan skala luas.

Pembangunan infrastruktur pendukung seperti embung, irigasi perpompaan, dan unit pengolahan pakan juga berperan menjaga ketersediaan air dan pakan secara berkelanjutan.

Ancaman PMK dan Krisis Regenerasi Peternak Masih Membayangi

Meski tumbuh positif, pemerintah mengakui kontribusi sektor peternakan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) belum meningkat secara signifikan.

Salah satu kendala utama adalah keterbatasan populasi indukan sapi produktif yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan pengembangan ternak di daerah.

“Tingginya angka kematian pedet atau anak sapi juga masih menjadi persoalan. Pola pemeliharaan tradisional dan sistem peternakan ekstensif menyebabkan produktivitas belum optimal,” bunyi laporan itu.

Masalah lain muncul dari kualitas genetik ternak yang masih relatif rendah serta pelaksanaan program inseminasi buatan (IB) yang belum berjalan maksimal di lapangan.

Ancaman penyakit hewan menular strategis juga menjadi perhatian serius. Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), hingga Avian Influenza (AI) dinilai masih berpotensi menghambat produksi dan distribusi ternak.

Di sisi sumber daya manusia, sektor peternakan menghadapi kekurangan dokter hewan, paramedis veteriner, dan tenaga inseminator.

Tak kalah penting, minat generasi muda untuk terjun ke dunia peternakan masih rendah. Banyak masyarakat usia produktif lebih memilih bekerja di sektor pertambangan maupun perkebunan yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.

Target 2026: Populasi Ternak Naik dan Produksi Makin Besar

Untuk meningkatkan kontribusi sektor peternakan terhadap PDRB pada 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan sejumlah strategi.

Langkah pertama adalah mempercepat peningkatan populasi ternak melalui program inseminasi buatan yang lebih masif, penanganan gangguan reproduksi, serta penyelamatan sapi betina produktif agar tidak dipotong.

Pemerintah juga akan mendorong produksi semen beku dari pejantan unggul dan memperluas penggunaan bibit ternak bersertifikat guna meningkatkan produktivitas dan daya saing peternak.

Pendampingan intensif kepada peternak akan dilakukan untuk menekan angka kematian pedet melalui perbaikan manajemen pemeliharaan dan pemberian nutrisi khusus bagi indukan bunting.

Di bidang kesehatan hewan, cakupan vaksinasi terhadap PMK, LSD, Jembrana, dan Avian Influenza akan diperluas.

Selain itu, fungsi Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), laboratorium veteriner, serta pos pemeriksaan hewan di wilayah perbatasan akan diperkuat guna mengawasi lalu lintas ternak dan mencegah penyebaran penyakit.

Pemerintah juga menargetkan peningkatan sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk menjamin produk pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH).

Dengan berbagai strategi tersebut, sektor peternakan di Kalimantan Timur diharapkan mampu menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru yang lebih berkelanjutan di tengah transformasi ekonomi daerah menuju era pasca-tambang.***