
Produksi Jagung di Balikpapan Jauh dari Target Panen, Ini Penyebabnya
- Sejumlah tanaman jagung mengalami kekeringan dan penurunan produktivitas akibat musim kemarau
Balikpapan
IBUKOTAKINI.COM - Musim kemarau mulai memberi tekanan terhadap sektor pertanian di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kekurangan pasokan air menyebabkan produktivitas sejumlah komoditas pertanian menurun, terutama tanaman pangan dan hortikultura.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan kini masih melakukan pendataan di lapangan untuk memetakan dampak kekeringan terhadap petani dan hasil produksi pertanian.
Kepala DKP3 Balikpapan Sri Wahjuningsih mengatakan, kondisi kekeringan dipastikan memengaruhi kualitas maupun produktivitas hasil pertanian. Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan laporan mengenai gagal panen total akibat musim kemarau.
“Yang jelas pasti berdampak pada kualitas produksi akibat kekeringan ini. Kami masih proses mendata di lapangan,” ujar Sri Wahjuningsih yang akrab disapa Yuyun, pada Sabtu (5/9/2026).
Menurut dia, tanaman pangan dan hortikultura menjadi komoditas yang paling berpotensi terdampak ketika ketersediaan air mulai berkurang.
“Komoditas tanaman hortikultura dan tanaman pangan,” katanya.
BACA JUGA:
63 Titik Kaltara Diterangi PLN, Akses Listrik hingga Perbatasan - ibukotakini.com
Salah satu dampak kekeringan terlihat pada produksi jagung di sejumlah kelompok tani di Balikpapan. Tanaman masih mampu menghasilkan panen, tetapi produktivitasnya turun cukup signifikan karena kekurangan air.
Yuyun mencontohkan hasil panen Poktan Etam Kartika Mandiri di kawasan Lasila. Dari lahan seluas 0,3 hektare, kelompok tani tersebut menghasilkan sekitar 0,2 ton jagung.
Kondisi serupa juga terjadi pada Poktan Etam Rejeki Borneo di kawasan Manggar. Dari lahan seluas 0,3 hektare, produksi jagung yang diperoleh hanya sekitar 0,3 ton.
“Semisal jagung tetap produksi, tetapi provitasnya jauh dari harapan. Kalau gagal total sih tidak,” jelasnya.
Padahal, secara umum produktivitas jagung ideal di Balikpapan dapat mencapai sekitar empat ton per hektare. Hasil panen yang jauh di bawah potensi tersebut menjadi salah satu indikator dampak kekeringan terhadap produktivitas tanaman.
BACA JUGA:
Cegah Karhutla di IKN, Otorita Edukasi Petani Tinggalkan Cara Bakar Lahan - ibukotakini.com
DKP3 Balikpapan pun masih mengumpulkan data dari lapangan untuk mengetahui seberapa luas dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian. Data tersebut selanjutnya akan menjadi bahan pembahasan bersama Pemerintah Kota Balikpapan dalam menentukan langkah penanganan.
“Nanti akan dirapatkan bersama oleh Pemkot. Kami siapkan data dulu,” pungkasnya.
Musim kemarau kini menjadi ujian tersendiri bagi petani Balikpapan. Tanaman memang belum sampai tumbang sepenuhnya, tetapi produktivitasnya mulai menyusut.
“Tim tengah memetakan kondisi tersebut agar langkah penanganan bisa disiapkan berdasarkan data lapangan,” tutupnya. ***
