Produk olahan kratom oleh PT DJB Botanicals Indonesia. (Sumber: Karantina Kaltim)
Ekbis

Profil Pabrik Kratom Pertama di Kaltim, DJB Botanicals

  • Dari Tepian Mahakam Menembus Pasar Global
Ekbis
Hadi Zairin

Hadi Zairin

Author

IBUKOTAKINI.COM — Di tengah pergeseran ekonomi daerah dari sektor tambang ke komoditas hijau, sebuah pabrik pengolahan kratom di Kutai Kartanegara diam-diam menata langkah menuju pasar ekspor. 

PT DJB Botanicals Indonesia menjadi salah satu pelopor hilirisasi kratom di Kalimantan Timur.

Berdiri sejak 2019, perusahaan ini beroperasi di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang. 

Lokasinya strategis, dekat dengan sentra budidaya kratom di wilayah hulu Sungai Mahakam—jalur utama distribusi bahan baku dari petani.

Dari Daun Mentah ke Produk Ekspor

Sejak awal berdiri, DJB Botanicals Indonesia memfokuskan diri pada pengolahan daun kratom menjadi produk siap ekspor. 

Prosesnya dimulai dari pengumpulan daun segar, pengeringan, penggilingan, hingga ekstraksi untuk menghasilkan kualitas yang sesuai standar pasar internasional.

Keberadaan pabrik ini menjadi mata rantai penting dalam industri kratom lokal.

Sebelumnya, sebagian besar hasil panen petani dijual dalam bentuk mentah melalui jalur distribusi panjang yang kerap menekan harga.

BACA JUGA:

Bupati Kukar Aulia Rahman Bakal Kembangkan Industri Ekstraksi Kratom!

Kini, dengan pengolahan di dalam daerah, nilai tambah produk meningkat, sekaligus memberi posisi tawar lebih baik bagi petani.

DJB Botanicals Indonesia tercatat sebagai perusahaan pengolah dan eksportir kratom pertama yang terdaftar resmi di Kalimantan Timur. 

Status ini membuka jalan bagi penguatan tata niaga yang lebih tertib dan terstandar.

Dalam operasionalnya, perusahaan juga menjalin koordinasi dengan otoritas karantina untuk memastikan seluruh produk memenuhi persyaratan ekspor. 

Kepala Karantina Kaltim, Arum Kusnila Dewi, menegaskan pentingnya standar tersebut.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, Petugas Karantina, dan pelaku usaha dalam mendorong percepatan ekspor serta memastikan produk lokal memiliki daya saing global,” ujarnya dalam salah satu kunjungan ke fasilitas pabrik.

Kunjungan Kepala Karantina Kaltim Arum Kusnila Dewi di pabrik kratom PT DJB Botanicals Indonesia. (Sumber: Karantina Kaltim)

Peran strategis pabrik ini juga mendapat perhatian langsung dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. 

Wakil Bupati Rendi Solihin melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas produksi pada 29 Maret 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Rendi meninjau seluruh rantai produksi, mulai dari proses pengolahan hingga ekstraksi daun kratom. Ia menekankan pentingnya hilirisasi sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.

Menurutnya, keberadaan pabrik pengolahan di Tenggarong Seberang menjadi kunci menjaga stabilitas harga kratom di tingkat petani, sekaligus memotong rantai distribusi yang selama ini merugikan.

“Kita ingin petani mendapatkan harga yang adil dan industri ini memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah,” ujarnya.

Selain itu, kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari evaluasi kesiapan industri kratom pasca terbitnya Permendag Nomor 20 dan 21 Tahun 2024 yang kembali membuka peluang ekspor.

Didukung Regulasi dan Perda

Seiring berkembangnya industri ini, Pemkab Kukar bersama DPRD tengah menyusun Peraturan Daerah (Perda) untuk melindungi petani dan pelaku usaha. 

Regulasi ini diharapkan mampu memberikan kepastian hukum sekaligus menjaga keberlanjutan usaha kratom di daerah.

Di tengah tren penurunan produksi sektor minerba, kratom mulai dilirik sebagai komoditas alternatif penopang ekonomi daerah. 

Wilayah seperti Kota Bangun, Muara Wis, Muara Muntai, hingga Kenohan menjadi pusat produksi yang memasok kebutuhan pabrik.

DJB Botanicals Indonesia berada di posisi strategis dalam ekosistem ini—sebagai penghubung antara petani lokal dan pasar global.

Ke depan, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal kapasitas produksi, tetapi juga konsistensi kualitas, kepatuhan regulasi, serta keberlanjutan lingkungan. 

Namun dengan dukungan pemerintah dan meningkatnya permintaan pasar, pabrik ini diproyeksikan menjadi salah satu motor ekspor baru dari Kutai Kartanegara.***