
Properti Residensial Mulai Pulih, Prospek 2026 Makin Cerah
- Peluang pertumbuhan sektor properti juga diperkuat oleh faktor demografi
Ekbis
IBUKOTAKINI.COM - Prospek sektor properti residensial pada 2026 dinilai mulai bergerak ke arah pemulihan seiring membaiknya kondisi ekonomi domestik dan meningkatnya kepercayaan konsumen.
Optimisme ini muncul setelah industri properti sempat tertekan akibat ketidakpastian global dan perlambatan aktivitas ekonomi dalam dua tahun terakhir.
Chief Economist Permata Bank, Joshua Pardede, menyebut tren ekonomi Indonesia mulai menunjukkan perbaikan sejak kuartal IV-2025. Momentum tersebut diyakini menjadi penopang utama bagi pemulihan sektor properti residensial sepanjang 2026.
Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,4%, dengan konsumsi rumah tangga tumbuh sekitar 5%.
Kondisi ini menjadi sinyal awal pulihnya daya beli masyarakat, yang selama ini menjadi faktor kunci dalam keputusan pembelian properti hunian.
Dari sisi sentimen, indeks kepercayaan konsumen juga tercatat membaik pada akhir 2025. Peningkatan ini mencerminkan ekspektasi masyarakat yang lebih positif terhadap kondisi ekonomi ke depan serta kesiapan untuk melakukan pembelian barang bernilai besar, termasuk rumah.
BACA JUGA:
PPPSRS Grand Sudirman Siapkan Audit IPL dan Sinking Fund - ibukotakini.com
Sementara itu, dari sisi pembiayaan, perbankan masih mencatat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) di kisaran 6%–7%. Meski terdapat kenaikan rasio kredit bermasalah secara terbatas, kondisinya dinilai masih terkendali. Kebijakan suku bunga yang relatif stabil serta stimulus likuiditas yang berlanjut turut menjadi faktor pendukung pemulihan permintaan.
Peluang pertumbuhan sektor properti juga diperkuat oleh faktor demografi. Proporsi penduduk usia produktif Indonesia yang mencapai sekitar 55%–60% hingga 2045 diperkirakan akan terus mendorong kebutuhan hunian, terutama di kawasan perkotaan yang masih menghadapi backlog perumahan cukup besar.
Namun demikian, tantangan tetap membayangi. Kenaikan harga properti yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan membuat sebagian masyarakat, khususnya generasi muda, menunda pembelian rumah dan memilih menyewa. Selain itu, dinamika ekonomi global serta risiko inflasi pangan masih perlu diantisipasi.
Ke depan, dukungan kebijakan pemerintah diharapkan menjadi katalis tambahan. Program pembangunan kawasan metropolitan dan target pembangunan jutaan rumah per tahun diproyeksikan dapat menjaga daya beli sekaligus memperkuat sektor properti sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026. ***
