Anggota Komisi III DPRD Balikpapan Wahyullah Bandung
Balikpapan

PSEL Balikpapan: Dari Pembuangan ke Energi Listrik

  • Rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menandai peralihan pendekatan pengelolaan sampah menjadi lebih terintegrasi dan bernilai tambah.
Balikpapan
Yandri Rinaldi

Yandri Rinaldi

Author

IBUKOTAKINI.COM - Arah pengelolaan sampah di Kota Balikpapan mulai bergeser seiring rencana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang didorong pemerintah kota sebagai solusi jangka panjang.

Anggota Komisi III DPRD Balikpapan Wahyullah Bandung mengatakan perubahan ini menandai peralihan pendekatan dari sistem pembuangan menuju pengelolaan yang lebih terintegrasi dan bernilai tambah.

Ia menjelaskan, pada masa sebelumnya, pengelolaan sampah di Balikpapan masih didominasi metode open dumping, yakni pembuangan langsung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seiring perkembangan, sistem tersebut beralih ke metode sanitary landfill yang dinilai lebih terkendali karena sampah ditata dan ditutup secara berkala untuk mengurangi dampak lingkungan.

"Kalau dulu itu open dumping, kemudian berkembang menjadi sanitary landfill. Itu sesuai dengan kondisi dan teknologi pada saat itu," ucapnya saat diwawancara, Jumat (17/4/2026).

BACA JUGA:

Strategi Balikpapan Hadapi El Nino, Air Baku Ditambah.- Ibukotakini,com

Namun, dengan meningkatnya volume sampah dan keterbatasan lahan, pendekatan tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan pengelolaan jangka panjang. Pemerintah Kota kini mendorong pemanfaatan teknologi yang mampu mengolah sampah menjadi energi. "Sekarang mulai masuk ke konsep bagaimana sampah itu bisa diolah menjadi energi listrik melalui PSEL," tegasnya.

Selain pengolahan menjadi energi, Wahyullah menyebut pengelolaan sampah di Balikpapan juga diarahkan pada penguatan ekonomi sirkular melalui peran masyarakat. Hal ini dilakukan melalui pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan bank sampah yang tersebar di sejumlah wilayah.

Menurutnya, kedua pendekatan tersebut memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi. PSEL berfokus pada pemanfaatan sampah sebagai sumber energi, sementara TPST dan bank sampah mendorong pemanfaatan sampah menjadi nilai ekonomi.

"Kalau PSEL itu konsepnya waste to energy, sementara di TPST dan bank sampah lebih ke waste to economy," imbuhnya.

BACA JUGA:

Siasat Kutai Timur Hadapi Penurunan Industri Tambang Batu Bara. -Ibukotakini.com

Wahyullah meyakini, melalui sistem tersebut, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tetapi dapat menjadi sumber daya yang memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.

Di sisi lain, penguatan peran masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan ini. Melalui pemilahan dan pengolahan sejak dari sumber, volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan.

"Harapannya, sampah dari rumah tangga bisa dikelola lebih awal, sehingga yang masuk ke TPA hanya residu," pungkas Wahyullah.

Dengan perubahan arah ini, pengelolaan sampah di Balikpapan tidak lagi bertumpu pada pembuangan akhir, melainkan pada pengolahan berlapis yang melibatkan teknologi dan partisipasi masyarakat.